Dokter Jiwa: Trauma Mengintai Anak Korban Kasus Daycare Yogyakarta
Kasus dugaan penganiayaan di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, menyita perhatian publik. Di balik luka fisik yang tampak, para ahli mengingatkan adanya dampak yang tak kalah serius, yakni gangguan kesehatan mental pada anak.
Dokter spesialis kejiwaan, Lahargo Kembaren, menegaskan bahwa kekerasan di daycare bukan sekadar persoalan fisik. Peristiwa semacam ini berpotensi meninggalkan luka psikologis mendalam, terutama pada anak usia dini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara psikologis, kasus kekerasan di daycare seperti yang terjadi di Yogyakarta sangat serius karena daycare seharusnya menjadi tempat aman pertama di luar rumah," ujar Lahargo kepada CNNIndonesia.com, Senin (27/4).
Menurutnya, pada anak usia batita hingga balita, trauma tidak selalu muncul dalam bentuk cerita yang bisa diungkapkan secara verbal. Justru, tanda-tandanya kerap terlihat dari perubahan perilaku.
"Pada balita dan anak usia dini, trauma sering tidak muncul dalam bentuk cerita yang bisa disampaikan dengan bahasa verbal yang jelas, tetapi melalui perubahan perilaku," katanya.
Ia memaparkan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai orang tua, antara lain:
• Anak menjadi lebih takut, mudah menangis, atau sangat lengket pada orang tua
• Sulit tidur, mengalami mimpi buruk, sering terbangun di malam hari, atau takut ditinggal
• Regresi perkembangan, seperti kembali mengompol, menjadi lebih rewel, atau kemampuan bicara menurun
• Mudah kaget, agresif, atau justru sangat diam dan menarik diri
• Takut pada orang, seragam, atau tempat tertentu, termasuk daycare
• Gangguan makan serta menurunnya rasa aman dasar (basic trust)
Jika tidak ditangani dengan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
"Jika berat, anak dapat mengalami trauma psikologis yang menetap, termasuk gejala mirip PTSD pada anak," jelas Lahargo.
Ia menekankan bahwa dampak terbesar dari peristiwa ini adalah rusaknya rasa aman anak. Anak bisa kehilangan kepercayaan terhadap lingkungan di sekitarnya, sesuatu yang krusial dalam proses tumbuh kembang.
"Anak belajar bahwa tempat yang seharusnya melindungi justru menyakiti. Ini bisa memengaruhi kelekatan (attachment), rasa percaya, bahkan perkembangan emosi jangka panjang," ujarnya.
Dalam proses pemulihan, orang tua diimbau untuk tidak memaksa anak melupakan kejadian traumatis. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah kehadiran yang tenang, konsisten, dan penuh kehangatan.
Validasi emosi anak juga menjadi kunci agar mereka merasa didengar dan dipahami. Lahargo turut mengingatkan agar orang tua tidak menginterogasi anak secara berlebihan, karena hal itu justru bisa memperparah kondisi psikologisnya.
Apabila gejala seperti ketakutan berlebih, gangguan tidur, atau perubahan perilaku berlangsung selama beberapa minggu, orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater anak.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat penting bagi orang tua untuk lebih selektif dalam memilih daycare. Menurut Lahargo, aspek utama yang perlu diperhatikan bukanlah tampilan fasilitas, melainkan keamanan emosional anak.
Beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan antara lain rasio pengasuh dan anak, transparansi sistem pengasuhan, serta cara pengasuh berinteraksi dengan anak.
"Memilih daycare bukan hanya soal tempat menitipkan anak, tetapi menitipkan rasa percaya. Anak tidak butuh tempat yang paling mewah, melainkan tempat yang membuat jiwanya merasa aman," ujarnya.
Ia menambahkan, jika orang tua merasakan ada hal yang tidak beres, intuisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
"Karena ketika tempat yang seharusnya melindungi justru melukai, yang rusak bukan hanya hari itu, tetapi cara anak memandang dunia di kemudian hari," pungkasnya.
(nga/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

