Ramai soal Burnt Toast Theory, 'Kesialan' Kecil yang Mengubah Nasib

CNN Indonesia
Rabu, 29 Apr 2026 16:30 WIB
Konsep burnt toast theory ramai dibahas di media sosial setelah dikaitkan dengan kecelakaan KRL yang terjadi pada Senin (27/4). Apa itu?
Ilustrasi. Konsep burnt toast theory ramai dibahas di media sosial setelah dikaitkan dengan kecelakaan KRL yang terjadi pada Senin (27/4). Apa itu? (istockphoto/Joe_Potato)
Jakarta, CNN Indonesia --

Konsep burnt toast theory kembali ramai dibahas di media sosial setelah dikaitkan dengan kecelakaan KRL yang terjadi pada Senin (27/4) di Stasiun Bekasi Timur, saat jam pulang kerja.

Berawal dari unggahan warganet yang menceritakan bagaimana anggota keluarganya tidak jadi menaiki kereta tersebut karena pulang lebih malam akibat lembur.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dalam unggahan tersebut, seorang pengguna platform X mengungkapkan rasa syukur karena adiknya selamat dari kemungkinan berada di lokasi kejadian.

"Ya Allah adikku pulang kemaleman karena lembur jadi gak bisa naik KRL yg ini, biasanya dia naik yg ini, ya Allah alhamdulillah masih dikasih selamat ya Allah, adikku merantau di Bekasi, kami semua keluarga di Jogja," tulisnya.

Narasi tersebut dengan cepat menyebar dan menuai banyak respons. Sebagian warganet kemudian mengaitkan kisah itu dengan konsep yang tengah ramai dibahas, yakni burnt toast theory.

Apa itu burnt toast theory?

Melansir dari Healthline, burnt toast theory adalah metafora yang menggambarkan bagaimana gangguan kecil dalam kehidupan ternyata membawa dampak positif di kemudian hari.

Istilah ini mengarah pada situasi sederhana, yakni roti sarapan yang gosong yang membuat seseorang terlambat berangkat. Sebuah 'kesialan kecil' ini justru menghindarkan seseorang dari kejadian buruk atau bahaya yang mungkin menimpanya di masa depan.

Mengutip dari Cleveland Clinic, psikolog Brianne Markley menjelaskan terlepas dari apakah membakar roti panggang berdampak pada jalannya peristiwa atau tidak, kemunduran tersebut memberikan kesempatan untuk mengatasi, mengubah sudut pandang, hingga memfokuskan kembali pikiran dan energi secara lebih produktif.

Konsep ini awalnya populer di TikTok dan sering dikaitkan dengan butterfly effect, yaitu bagaimana peristiwa kecil dapat memicu rangkaian kejadian besar.

Dalam unggahan tersebut, pola pikir ini terlihat jelas. Terlambat pulang karena lembur yang awalnya dianggap sebagai hal negatif, justru dimaknai sebagai alasan seseorang tidak berada di lokasi kejadian.

Mengaitkan kejadian kecil dengan dampak besar merupakan bagian dari cara manusia memahami dunia yang tidak selalu bisa diprediksi. Dalam banyak kasus, terutama yang melibatkan risiko atau bahaya, orang cenderung mencari makna untuk menenangkan diri.

Pendekatan ini dikenal sebagai reframing, yaitu mengubah cara pandang terhadap suatu peristiwa agar terasa lebih dapat diterima.

Dengan melihat kemungkinan sisi baik, seseorang bisa mengurangi kecemasan dan rasa takut yang muncul setelah kejadian.

Namun, tidak semua peristiwa memiliki hubungan sebab-akibat yang pasti. Burnt toast theory lebih berfungsi sebagai kontrol psikologis untuk membantu seseorang tetap tenang dan berpikir positif, bukan sebagai penjelasan atas kejadian.

Banyak orang merasa terhubung karena pernah mengalami situasi serupa ketika hal kecil yang mengganggu justru berujung pada nasib baik.

Salah satu contoh kisah ini bukan hanya soal kebetulan, tetapi juga tentang bagaimana manusia mencoba memahami hidup bahwa terkadang, hal yang tidak berjalan sesuai rencana bisa memberi kemungkinan positif yang berbeda.

[Gambas:Video CNN]

(nga/fef) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]