PBB Sentil AS: Dana Perang Iran Bisa Selamatkan 87 Juta Nyawa
Kepala Koordinator Bantuan PBB Tom Fletcher mengungkapkan biaya yang digelontorkan Pentagon untuk mendanai perang dengan Iran sejak akhir Februari tahun ini diklaim mampu menutup seluruh target bantuan kemanusiaan PBB 2026.
Berdasarkan data Departemen Pertahanan AS, konflik di Timur Tengah sejauh ini telah menelan biaya sebesar US$25 miliar atau setara Rp433,3 triliun (US$1=Rp17.334,35).
Tom Fletcher juga menyatakan biaya itu bisa menyelamatkan lebih dari 87 juta nyawa. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) kini sedang berjuang mengumpulkan dana US$23 miliar untuk kebutuhan bantuan
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tahu persis apa yang bisa kami lakukan dengan US$25 miliar itu," ujar Fletcher seperti diberitakan AFP pada Jumat (1/5).
Menurutnya, angka yang dicari OCHA sebenarnya tidak sampai satu persen dari total belanja senjata dan pertahanan dunia tahun depan.
Fletcher menjelaskan bahwa perang yang berujung pada penutupan Selat Hormuz ini telah memicu lonjakan harga bahan bakar hingga dua kali lipat dan melambungkan harga pangan 20 persen.
Kondisi itu disebut sebagai pukulan telak yang memperparah krisis kelaparan, terutama di Somalia. Di negara tersebut, jumlah warga yang menderita kelaparan kini meningkat dua kali lipat dibanding enam bulan lalu.
Secara global, Fletcher mencatat ada lebih dari 300 juta orang yang sangat membutuhkan bantuan.
Namun, pemangkasan anggaran dari negara-negara donor, seperti Amerika Serikat memaksanya untuk memprioritaskan bantuan hanya bagi 87 juta orang saja.
Tanpa kucuran dana yang memadai, Fletcher memperingatkan bahwa ratusan juta nyawa terancam melayang dalam beberapa tahun ke depan.
Somalia menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak akibat kombinasi "beracun" antara imbas perang, kekeringan, hingga banjir bandang.
Saat ini, program bantuan PBB di Somalia baru mendapatkan dana 13 persen, yang memaksa penutupan sejumlah pusat kesehatan di tengah ancaman gizi buruk akut yang menghantui setengah juta anak.
Para dokter di sana melaporkan bahwa risiko kematian pasien meningkat tujuh kali lipat karena mereka harus berjalan jauh lebih lama untuk mencapai klinik yang masih beroperasi.
"Ini benar-benar situasi yang menghancurkan," ucap Fletcher.
(afp/chri) Add
as a preferred source on Google
