Wisata Kuliner di Bangkok Tak Akan Sama, Street Food-nya Bakal Digusur

CNN Indonesia
Rabu, 06 Mei 2026 15:15 WIB
Pengetatan aturan terhadap pedagang kaki lima kini mengancam mata pencaharian mereka sekaligus budaya street food yang telah mendefinisikan Kota Bangkok.
Para pedagang kaki lima di Kota Bangkok, Thailand, segera digusur, meski dianggap sebagai ikon kuliner kota tersebut. (Lillian SUWANRUMPHA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aroma bawang putih, cabai, dan daging panggang yang mengepul dari pinggir jalan adalah napas bagi Kota Bangkok di Thailand.

Namun, pengetatan aturan terhadap pedagang kaki lima kini mengancam mata pencaharian mereka sekaligus budaya street food yang telah mendefinisikan ibu kota Thailand tersebut.

Ironisnya, tantangan ini muncul tepat setelah Bangkok dinobatkan sebagai destinasi wisata kuliner terbaik kedua di Asia, setelah Hong Kong, dalam ajang Tripadvisor 2026 Travelers' Choice Awards.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah Metropolitan Bangkok (BMA) dalam beberapa tahun terakhir gencar melakukan pembersihan trotoar. Tujuannya adalah memperbaiki ketertiban kota dan merelokasi pedagang dari distrik komersial yang padat ke kios-kios pasar yang telah ditentukan.

Data BMA menunjukkan penurunan drastis jumlah pedagang. Sejak 2022, jumlah pedagang kaki lima diperkirakan merosot lebih dari 60 persen.

Sekitar 10.000 pedagang telah menghilang dari jalanan Bangkok. Sebagian pindah ke pusat jajanan yang disebut hawker center, namun banyak yang terpaksa gulung tikar karena aturan yang ketat atau bisnis yang tak lagi menguntungkan.

Bagi para pedagang, relokasi bukan sekadar pindah tempat, melainkan soal kelangsungan hidup.

"Saya khawatir karena kami berjualan di sini secara ilegal," ujar Looknam Sinwirakit (45), penjual ketan goreng di Chinatown yang pernah didenda 1.000 baht (sekitar Rp440 ribu) karena menghalangi jalan, seperti dilansir The Straits Times. "Tidak adil jika hanya mengusir kami, tapi jika mereka menyuruh pergi, kami harus patuh," tambahnya.

Hal senada diungkapkan Wong Jaidee (56), penjual durian kawakan di pinggir jalan Kota Bangkok. "Bangkok adalah kota dengan biaya hidup tinggi. Saya tidak punya rencana cadangan jika harus pindah," keluhnya.

Pemerintah kota mendorong pedagang untuk masuk ke salah satu dari lima hawker center yang baru dibuka, termasuk yang terbaru di dekat Taman Lumphini pada April 2026. Di sini, pedagang membayar sewa 60 baht (Rp26 ribu) per hari.

Panissara Piyasomroj (59), penjual mi sejak 2004, merasa kondisinya jauh lebih baik. "Bisnis saya seperti naik kelas, terlihat lebih bersih, dan nyaman karena ada akses air serta listrik," ujarnya di bawah naungan atap yang melindunginya dari cuaca panas.

Bagi wisatawan, trotoar yang penuh sesak dan aroma cumi panggang adalah bagian dari pesona Bangkok. Oliver Peter, turis asal Jerman, menyayangkan jika kultur ini hilang.

"Thailand punya salah satu kuliner terbaik dunia. Sangat menyedihkan jika mereka (pedagang jalanan) menghilang. Ini adalah bagian dari budaya," tutur Peter.

Pejabat BMA, Kunanop Lertpraiwan, menegaskan pihaknya berkomunikasi dengan jelas dan tidak melakukan pengusiran mendadak terhadap pedagang.

Namun, bagi pedagang lansia yang sudah puluhan tahun berjualan di lokasi yang sama, kepindahan tetap menjadi momok yang menakutkan di tengah modernisasi Bangkok.

(wiw) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]