Istri Baby Blues usai Melahirkan? Dukungan Suami Bisa Bantu Pemulihan
Tidak semua ibu terus-menerus merasa bahagia setelah melahirkan. Di tengah rasa senang menyambut bayi, sebagian ibu justru bisa merasa sedih, mudah menangis, cemas, hingga kewalahan dalam beberapa hari pertama setelah persalinan.
Kondisi ini dikenal sebagai baby blues atau postpartum blues, yaitu perubahan emosional yang cukup umum terjadi setelah melahirkan.
Baby blues bukan berarti ibu tidak sayang anak atau tidak siap menjadi orang tua.
Kondisi ini lebih sering berkaitan dengan perubahan besar yang terjadi pada tubuh dan kehidupan ibu setelah persalinan, mulai dari perubahan hormon, kurang tidur, kelelahan, hingga tekanan menghadapi peran baru sebagai orang tua.
Dilansir dari European Psychiatry, baby blues biasanya muncul pada hari-hari pertama setelah melahirkan dan umumnya membaik dalam waktu sekitar dua minggu.
Kondisi ini berbeda dengan postpartum depression yang gejalanya lebih berat dan berlangsung lebih lama.
Tanda baby blues yang sering muncul
Perubahan emosi setelah melahirkan sebenarnya cukup umum dialami ibu postpartum.Beberapa gejala baby blues yang paling sering muncul meliputi:
- mood swing atau suasana hati mudah berubah,
- lebih sensitif,
- mudah menangis,
- cemas tanpa alasan jelas,
- mudah tersinggung,
- sulit tidur,
- cepat lelah,
- hingga merasa tidak percaya diri sebagai ibu baru.
Ada yang merasa takut tidak mampu merawat bayi dengan baik, sulit fokus, bahkan merasa bersalah meski tidak tahu pasti alasannya.
Kondisi ini biasanya mulai muncul beberapa hari setelah persalinan, terutama ketika rasa lelah mulai menumpuk dan pola tidur berubah drastis.
Kenapa dukungan suami penting?
Di masa ini, ibu tidak hanya menghadapi perubahan fisik, tetapi juga perubahan emosional dan hormonal yang besar.
Beberapa penelitian menyebut dukungan pasangan menjadi salah satu faktor paling penting dalam membantu pemulihan kondisi mental ibu setelah melahirkan.
Penelitian dari Poltekkes Kemenkes Jayapura menemukan bahwa ibu yang tidak mendapatkan dukungan emosional dari suami lebih berisiko mengalami baby blues dan stres psikologis setelah persalinan.
Dukungan suami juga menunjukkan bahwa ibu yang merasa didukung pasangan cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami postpartum blues dibanding ibu yang merasa menghadapi semuanya sendirian.
Hal sederhana ternyata bisa sangat membantu
Banyak orang mengira dukungan untuk ibu postpartum harus berupa hal besar. Bantuan sederhana sehari-hari justru sering paling dibutuhkan.
Studi bertajuk The Role of Husband and Family Support in Reducing Baby Blues Symptoms menjelaskan bahwa dukungan emosional dapat membantu mengurangi gejala baby blues.Bentuk dukungannya bisa berupa:
- mendengarkan keluhan istri,
- membantu merawat bayi,
- menggantikan popok,
- membantu pekerjaan rumah,
- memastikan istri bisa beristirahat,
- menemani kontrol medis,
- atau sekadar memberi rasa tenang dan aman secara emosional.
Hal yang terdengar sederhana itu penting karena kurang tidur dan kelelahan ekstrem diketahui dapat memperburuk kondisi emosional ibu postpartum.
Para ahli juga mengingatkan bahwa baby blues sebaiknya tidak diremehkan. Kalimat seperti "semua ibu juga begitu", "jangan lebay", atau "kurang bersyukur" justru bisa membuat ibu merasa semakin sendirian dan tidak dipahami.
Yang lebih dibutuhkan biasanya adalah validasi emosional, yaitu membuat ibu merasa didengar dan dipahami tanpa dihakimi.
Dalam banyak situasi, dukungan emosional yang konsisten dapat membantu ibu melewati fase postpartum dengan lebih baik.
Meski baby blues cukup umum terjadi, ada kondisi tertentu yang perlu diwaspadai. Berikut gejala yang perlu segera mendapatkan bantuan profesional.
- berlangsung lebih dari dua minggu,
- semakin berat,
- membuat ibu kehilangan fungsi sehari-hari,
- hingga muncul pikiran menyakiti diri sendiri atau bayi.