Avtur Naik, Maskapai Ini Hapus Snack dan Minuman Gratis buat Penumpang
Maskapai asal Amerika Serikat (AS) Delta Air Lines mengumumkan kebijakan baru yang akan menghapus layanan makanan ringan (snack) dan minuman gratis pada ratusan rute penerbangan pendek mulai 19 Mei mendatang.
Langkah ini diambil di tengah melonjaknya harga bahan bakar avtur akibat Perang Iran, yang menjadi beban berat bagi industri penerbangan global dan sebelumnya telah memicu kebangkrutan Spirit Airlines, maskapai AS lainnya.
Seperti dilansir The Independent, berdasarkan keterangan juru bicara Delta Air Lines pada Selasa (5/5), menyebut perubahan layanan ini akan menyasar rute-rute spesifik:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk penerbangan di bawah 350 Mil:, layanan express service (minuman soda dan camilan gratis) akan dihapuskan sepenuhnya.
Sementara bagi penerbangan di atas 350 Mil, penumpang tetap akan mendapatkan layanan penuh, bahkan dijanjikan peningkatan menu. Untuk kelas premium, bagian Delta First tidak akan terdampak dan tetap menerima layanan penuh seperti biasa.
Pihak Delta Air Lines menyatakan bahwa dari total sekitar 5.500 penerbangan setiap harinya, sekitar 9 persen atau hampir 500 rute harian akan mengalami penghapusan layanan ini. Sebaliknya, 14 persen rute lainnya akan mendapatkan peningkatan layanan penuh.
Kebijakan ini merupakan respons atas kondisi ekonomi global yang kian menantang. Data dari Argus Media's U.S. Jet Fuel Index menunjukkan harga rata-rata avtur di AS melonjak dari US$2,50 menjadi sekitar US$4,13 per galon sejak pecahnya konflik di Iran.
Selain memangkas layanan di kabin, Delta sebelumnya juga telah menaikkan tarif bagasi terdaftar pada awal April 2026:
- Bagasi Pertama: Naik menjadi US$45 (sekitar Rp720 ribu).
- Bagasi Kedua: Naik menjadi US$55 (sekitar Rp880 ribu).
- Bagasi Ketiga: Melonjak drastis hingga US$200 (sekitar Rp3,2 juta).
Meski harga tiket pesawat terus merangkak naik akibat krisis energi di tahun 2026, para ahli menyarankan pelancong untuk tidak menunda pembelian tiket.
"Menunggu untuk membeli tiket pesawat dengan harapan konflik akan segera berakhir adalah pilihan yang sangat berisiko. Diri Anda di masa depan tidak akan senang dengan keputusan itu," ujar Katy Nastro dari situs Going kepada CNBC.
(wiw) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]