Bukan Pendatang Baru, Kasus Hantavirus Pernah Ditemukan di Indonesia
Hantavirus jadi perhatian setelah wabah yang berkaitan dengan kapal pesiar asal Belanda, MV Hondius, dilaporkan menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Kapal tersebut tiba di perairan Tanjung Verde pada Minggu (3/5) lalu dengan sejumlah warga negara Inggris di dalamnya.
Namun hantavirus sebenarnya sudah lama dikenal dalam dunia medis. Penelitiannya di Indonesia pun sudah ada sejak puluhan tahun lalu.
Lihat Juga : |
WHO menjelaskan hantavirus sebagai kelompok virus zoonotik yang secara alami menginfeksi hewan pengerat seperti tikus dan sesekali dapat menular ke manusia.
Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit serius, terutama gangguan pernapasan dan ginjal, tergantung jenis virusnya.
Hantavirus bukan virus yang baru ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Review penelitian yang dipublikasikan di jurnal Viruses pada 2019 menyebut, riset hantavirus di Indonesia sebenarnya sudah dilakukan sejak 1984.
Dalam rentang sekitar 35 tahun penelitian, para peneliti menemukan tanda paparan hantavirus pada hewan pengerat berkisar 0-34 persen, sedangkan pada manusia sekitar 0-13 persen.
Review tersebut juga mencatat, setidaknya ada 14 laporan infeksi akut hantavirus pada manusia di Indonesia, meski tidak semuanya dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium lanjutan.
Peneliti menilai, angka sebenarnya kemungkinan bisa lebih tinggi karena hantavirus masih jarang diperiksa secara rutin.
Pernah ditemukan di Jawa Barat
Salah satu penelitian penting terkait hantavirus di Indonesia, pernah dipublikasikan Kosasih dan kolega pada 2011 di jurnal Vector-Borne and Zoonotic Diseases. Penelitian tersebut melaporkan adanya bukti infeksi Seoul virus pada manusia dan tikus di Jawa Barat.
Seoul virus sendiri bukan virus berbeda dari hantavirus. Seoul virus merupakan salah satu jenis hantavirus yang umumnya dibawa tikus Rattus, termasuk tikus rumah dan tikus got yang banyak ditemukan di lingkungan perkotaan.
Peneliti menyebut temuan itu sebagai laporan pertama infeksi Seoul virus di Indonesia yang didukung bukti klinis, serologis, dan epizoologis.
Beberapa penelitian lain juga menunjukkan bahwa hantavirus memang beredar pada populasi tikus di Indonesia. Studi 2013 dalam Journal of Veterinary Medical Science meneliti rodensia di Kepulauan Seribu, Jakarta.
Peneliti menemukan antibodi hantavirus pada tikus dan mendeteksi segmen genom virus yang termasuk kelompok Seoul virus. Analisis genetik menunjukkan virus tersebut memiliki hubungan dengan hantavirus yang ditemukan di Vietnam dan Singapura.
Pernah menginfeksi manusia di Indonesia
Kasus infeksi hantavirus pada manusia di Indonesia juga pernah dilaporkan lebih lanjut. Laporan kasus pada 2018 di jurnal Infectious Diseases of Poverty menjelaskan, adanya dua kasus terkonfirmasi Seoul virus pada manusia di Indonesia.
Studi tersebut menyebut Seoul virus ditularkan oleh tikus seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus, yang umum ditemukan di lingkungan perkotaan.
Kedua pasien awalnya mengalami gejala mirip penyakit lain, seperti demam berdarah dan tifoid, mulai dari demam, mual, muntah, nyeri tubuh, hingga gangguan pada trombosit dan fungsi hati.
Setelah menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi keduanya dilaporkan membaik dan tidak mengalami gejala berarti saat pemeriksaan lanjutan.
Hantavirus sudah lama ada dalam catatan penelitian dunia, termasuk di Indonesia. Namun karena kasusnya relatif jarang dan tidak selalu terdeteksi, virus ini sering baru menjadi sorotan ketika muncul kejadian luar biasa atau wabah yang menarik perhatian internasional.
(anm/rti)