Biaya Bengkak, Maskapai Ngaku Tak Kuat Lagi Tampung Beban Avtur

CNN Indonesia
Minggu, 17 Mei 2026 05:30 WIB
Maskapai mengaku kini tak mampu lagi terus-menerus menanggung beban biaya operasional yang membengkak akibat situasi di Timur Tengah.
Maskapai mengaku kini tak mampu lagi terus-menerus menanggung beban biaya operasional yang membengkak akibat situasi di Timur Tengah. (istockphoto/MesquitaFMS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Jenderal Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA) Willie Walsh menyatakan maskapai kini tak mampu lagi terus-menerus menanggung beban biaya operasional yang membengkak akibat situasi di Timur Tengah.

Dalam wawancaranya bersama BBC, Walsh mengungkapkan meskipun saat ini belum ada alasan mendesak untuk panik terkait kelangkaan bahan bakar jet, lonjakan harga minyak dunia yang tak terhindarkan otomatis akan berimbas pada meroketnya harga tiket pesawat dalam waktu dekat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sama sekali tidak ada cara bagi maskapai penerbangan untuk menyerap biaya tambahan yang mereka alami saat ini," ujar Walsh seperti diberitakan Independent pada Kamis (14/5).

Ia juga menambahkan, "Mungkin ada beberapa momen di mana maskapai memberikan diskon untuk merangsang arus lalu lintas penumpang... namun seiring berjalannya waktu, sudah pasti tingginya harga minyak akan tercermin pada harga tiket yang lebih mahal."

Walsh menilai situasi ini kemungkinan besar tidak akan memicu pembatalan penerbangan massal secara global. Namun, ia tetap memberikan catatan penting terkait potensi hambatan logistik menjelang musim liburan.

"Saya pikir kekhawatiran utamanya adalah jika pasokan alternatif yang memadai tidak berhasil didapatkan, kemungkinan akan terjadi beberapa kelangkaan saat kita memasuki periode puncak musim panas," tambahnya.

Kondisi sulit ini pun mulai tercermin dari laporan keuangan sejumlah perusahaan penerbangan besar.

[Gambas:Video CNN]

Pekan lalu, IAG yang merupakan induk perusahaan British Airways, telah mengeluarkan peringatan bahwa laba perusahaan mereka akan tergerus lantaran estimasi pengeluaran untuk bahan bakar tahun ini membengkak sekitar €2 miliar atau sekitar Rp34,5 triliun dari rencana awal.

Namun, Chief Executive IAG Luis Gallego optimistis bahwa pasokan bahan bakar jet untuk operasional musim panas tidak akan mengalami gangguan total.

Guna mengantisipasi krisis yang meluas, langkah taktis juga mulai diambil sejumlah otoritas. Sekretaris Transportasi Inggris Heidi Alexander menyatakan rencana liburan musim panas masyarakat diupayakan tidak menghadapi gangguan besar akibat kelangkaan ini.

Ia membeberkan bahwa pasokan bahan bakar tambahan telah diimpor dari Amerika, bersamaan dengan peningkatan produksi dari kilang-kilang domestik di Inggris.

Selain itu, pemerintah setempat memberlakukan aturan darurat sementara yang mengizinkan maskapai menggabungkan penumpang dari beberapa jadwal penerbangan berbeda ke dalam satu pesawat yang sama demi menghemat bahan bakar.

Kebijakan efisiensi tersebut berjalan beriringan dengan data penerbangan yang menunjukkan tren kenaikan angka pembatalan jadwal sepanjang Mei 2026.

Berdasarkan data dari perusahaan analisis penerbangan Cirium, maskapai tercatat telah membatalkan ratusan jadwal keberangkatan dari bandara-bandara di Inggris demi menyesuaikan kapasitas dengan ketersediaan bahan bakar yang ada.

Tren ini diperkirakan masih bisa bergerak dinamis, mengingat aturan penerbangan internasional mengizinkan maskapai melakukan pembatalan tanpa kompensasi ganti rugi asalkan pemberitahuan diberikan setidaknya dua minggu sebelum jadwal keberangkatan.

Krisis ini sendiri berakar dari harga bahan bakar jet global yang telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak pecahnya konflik di Timur Tengah, menyusul aksi Iran yang memperketat jalur keluar masuk kapal tanker di Selat Hormuz.

Menanggapi situasi geopolitik yang memanas tersebut, seorang juru bicara pemerintah menyatakan, "Maskapai penerbangan Inggris menegaskan bahwa mereka saat ini tidak melihat adanya kelangkaan bahan bakar jet."

Pihak pemerintah juga menjelaskan bahwa komoditas avtur umumnya dibeli jauh-jauh hari dalam bentuk kontrak berjangka, dan pihak bandara bersama pemasok selalu menjaga ketersediaan stok cadangan untuk menjaga ketahanan operasional.

"Kami terus bekerja sama dengan pemasok bahan bakar, bandara, maskapai penerbangan, dan mitra internasional untuk menjaga penerbangan tetap beroperasi."

"Kami juga sedang mengonsultasikan langkah-langkah untuk membantu maskapai merencanakan jadwal penerbangan yang realistis guna menghindari gangguan di menit-menit terakhir dan melindungi masa liburan," pungkas juru bicara tersebut.

(chri) Add as a preferred
source on Google