Jangan Sembarangan Cium Bayi, Ada Risiko Infeksi Mata Serius
Larangan mencium bayi sembarangan kerap dianggap berlebihan oleh sebagian orang. Tak sedikit orang tua dicap terlalu protektif saat melarang orang lain mencium bayi mereka.
Padahal, sejumlah penelitian dan sumber medis menyebut kebiasaan ini memang memiliki risiko kesehatan tertentu, terutama pada bayi yang sistem kekebalan tubuhnya belum matang.
Salah satu risiko yang paling sering disorot adalah penularan Herpes Simplex Virus tipe 1 (HSV-1), virus penyebab herpes mulut atau cold sore. Dalam kondisi tertentu, virus ini dapat menyerang mata dan menyebabkan infeksi serius hingga gangguan penglihatan permanen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, penting dipahami bahwa tidak semua ciuman otomatis menyebabkan kebutaan. Kasusnya memang tergolong jarang, tetapi secara medis tetap memungkinkan terjadi.
Melansir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), HSV-1 merupakan virus yang sangat umum ditemukan pada orang dewasa. Virus ini terutama menular melalui kontak oral, air liur, kontak kulit, dan ciuman.
Masalahnya, banyak orang tidak menyadari dirinya membawa HSV-1 karena gejalanya bisa sangat ringan, bahkan tanpa gejala sama sekali.
Pada orang dewasa, infeksi HSV sering kali hanya menimbulkan luka kecil di bibir. Namun pada bayi, terutama bayi baru lahir, virus ini dapat menyebabkan infeksi yang jauh lebih berat karena sistem imun mereka belum berkembang sempurna.
Virus bisa menyerang mata
Infeksi herpes pada mata dikenal sebagai herpes simplex keratitis. Kondisi ini terjadi ketika HSV menginfeksi kornea atau lapisan bening di bagian depan mata.
Jurnal Indian Journal of Ophthalmology menyebut HSV dapat menyebabkan:
• keratitis atau peradangan kornea,
• luka pada permukaan mata,
• jaringan parut kornea,
• hingga kehilangan penglihatan.
Bahkan, jurnal tersebut menyebut herpes simplex keratitis merupakan salah satu penyebab utama kebutaan kornea akibat infeksi di negara maju.
Kenapa bayi lebih rentan?
Bayi baru lahir termasuk kelompok yang paling rentan terhadap HSV. Infeksi HSV pada bayi tidak hanya dapat menyerang kulit dan mulut, tetapi juga mata, sistem saraf, hingga organ tubuh lain.
Karena daya tahan tubuh bayi belum matang, infeksi dapat berkembang lebih cepat dan memicu komplikasi serius.
American Academy of Ophthalmology (AAO) juga menjelaskan herpes pada kornea dapat menyebabkan ulkus, jaringan parut, kornea menjadi keruh (corneal opacity), hingga kehilangan penglihatan permanen.
Salah satu alasan dokter cukup ketat melarang orang mencium bayi adalah karena HSV-1 bisa menular bahkan saat gejalanya belum terlihat jelas. Virus tetap dapat menyebar ketika:
• luka herpes masih sangat kecil,
• baru mulai muncul,
• atau saat seseorang belum sadar dirinya sedang mengalami cold sore.
Karena itu, seseorang yang terlihat sehat pun tetap berpotensi menularkan virus melalui kontak dekat atau ciuman.
Untuk mengurangi risiko penularan HSV pada bayi, tenaga kesehatan umumnya menyarankan beberapa langkah sederhana, seperti:
• tidak mencium bayi saat sedang sakit atau mengalami cold sore,
• mencuci tangan sebelum menyentuh bayi,
• menghindari mencium area wajah, mata, atau mulut bayi,
• serta membatasi kontak dekat bila sedang mengalami infeksi herpes.
Langkah ini penting dilakukan terutama pada bayi baru lahir yang sistem kekebalan tubuhnya masih sangat rentan terhadap infeksi.
(anm/tis) Add
as a preferred source on Google
