Penurunan Angka Stunting di RI Belum Merata, Masih Jauh dari Target
Angka stunting di Indonesia memang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penurunannya masih belum merata dan harus terus mengejar target besar Indonesia Emas 2045.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) mencatat, prevalensi stunting nasional pada 2025 berada di angka 18,8 persen. Ini menunjukkan bahwa hampir 20 dari 100 anak Indonesia masih mengalami stunting.
Meski menunjukkan perbaikan dibanding beberapa tahun sebelumnya, persoalan stunting masih terkonsentrasi di sejumlah daerah dengan angka yang jauh di atas rata-rata nasional.
Dalam paparan prevalensi stunting berdasarkan provinsi, BKKBN menunjukkan masih ada provinsi dengan angka stunting tertinggi mencapai sekitar 37 persen yaitu Nusa Tenggara. Sementara provinsi dengan prevalensi terendah berada di kisaran 8,7 persen di Bali.
Data tersebut juga memperlihatkan sebanyak 26 provinsi masih berada di atas rata-rata nasional. Sementara hanya 12 provinsi yang berhasil berada di bawah angka nasional.
Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono mengatakan, ketimpangan angka stunting antarwilayah masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah.
"Kita masih punya PR terkait dengan prevalensi stunting, masih ada diversifikasi pencapaian di tingkat provinsi, yang mana ini juga menjadi concern bagi kita semua," kata Budi dalam media briefing di gedung BKKBN, Jakarta Timur, Rabu (20/5).
Ia mengatakan, pemerintah kini memberi perhatian lebih pada wilayah-wilayah dengan prevalensi stunting tinggi, terutama di kawasan Indonesia timur.
"Papua Pegunungan, NTT, Sulawesi Barat, dan seterusnya tentu kita akan melibatkan dan melakukan upaya di provinsi-provinsi tersebut agar persoalan stunting bisa lebih ditekan," ujarnya.
Laju penurunan stunting juga melambat dalam beberapa tahun terakhir.Berdasarkan data capaian dan tren stunting nasional, prevalensi stunting pada 2021 berada di angka 24,4 persen, lalu turun cukup signifikan menjadi 21,6 persen pada 2022.
Pada 2023, penurunannya nyaris stagnan di angka 21,5 persen sebelum kembali turun menjadi sekitar 19,8 persen pada 2024.
Masalahnya, angka tersebut masih cukup jauh dari target pemerintah yang menargetkan prevalensi stunting turun menjadi 14 persen pada 2024. Jika dihitung secara populasi, prevalensi 19,8 persen berarti masih ada sekitar 4,5 juta anak mengalami stunting di Indonesia.
Prevalensi stunting ditargetkan turun menjadi 14,2 persen pada 2029 dan di bawah 5 persen pada 2045, angka yang umumnya dimiliki negara maju.
"Harapannya di tahun 2045 sampai ada kurang dari 5 persen," kata Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan Kemendukbangga/BKKBN, Yuni Hastuningsih.
Dampak stunting jangka panjang
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis. Tapi, stunting bukan sekadar persoalan tubuh pendek pada anak.
"Stunting ini berdampak jangka panjang karena bukan saja perkembangan otak yang tidak normal dengan baik," kata Yuni.
Menurutnya, stunting dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia karena berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas saat dewasa.
Yuni menjelaskan, dampak stunting sudah bisa terlihat sejak masa pertumbuhan anak dan dapat berlanjut hingga dewasa. Berikut di antaranya.
1. Gagal tumbuh
Anak mengalami pertumbuhan yang tidak optimal, seperti berat badan lahir rendah, tubuh kecil, pendek, dan kurus.
2. Hambatan perkembangan kognitif dan motorik
Stunting dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, konsentrasi, hingga keberhasilan pendidikan anak di masa depan.
3. Gangguan metabolik saat dewasa
Anak stunting lebih berisiko mengalami penyakit tidak menular saat dewasa, seperti diabetes, obesitas, stroke, dan penyakit jantung.
Yuni menilai dampak tersebut membuat stunting tidak bisa dianggap sebagai persoalan kesehatan semata, melainkan juga berkaitan dengan kualitas generasi dan daya saing Indonesia di masa depan.
(anm/asr)