Gen Z Mulai Tinggalkan Fast Fashion dan Pilih Capsule Wardrobe

nga | CNN Indonesia
Sabtu, 06 Jun 2026 12:20 WIB
Ilustrasi. Capsul wardrobe makin banyak dilakukan anak muda di masa kini. (iStockphoto/AndreyPopov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tren capsule wardrobe semakin banyak dilirik anak muda yang mulai lelah dengan budaya fast fashion dan kebiasaan belanja impulsif. Konsep ini mendorong seseorang memiliki koleksi pakaian lebih sedikit, tetapi tetap mudah dipadupadankan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.

Populer di media sosial, gaya berpakaian minimalis ini kerap dianggap sebagai solusi agar tetap fashionable tanpa harus terus membeli pakaian baru.

Namun, menerapkan capsule wardrobe ternyata juga mengubah cara seseorang memandang belanja fesyen dan rutinitas harian mereka.

Lia (23), seorang pekerja di perusahaan swasta, mulai mencoba capsule wardrobe sekitar setahun lalu setelah merasa isi lemarinya semakin penuh, tetapi tetap bingung memilih pakaian setiap pagi. Ia mengaku dulu cukup sering membeli pakaian karena tergoda tren media sosial dan promo belanja online.

Kebiasaan itu perlahan membuatnya sadar banyak pakaian yang akhirnya jarang dipakai. Dari situ, Lia mulai memilah isi lemarinya dan mempertahankan pakaian dengan warna serta model yang mudah dipadukan.

"Dulu aku tipe yang merasa nggak punya baju terus, padahal lemari penuh banget. Apalagi kalau mau keluar aku selalu pengin baju baru," kata Lia kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/5).

Kini, sebagian besar koleksi pakaian Lia didominasi warna netral seperti hitam, putih, cokelat, abu-abu, dan navy. Menurutnya, jumlah pakaian yang lebih sedikit justru membuat kesehariannya terasa lebih praktis.

Ilustrasi. Pakaian jadi salah satu barang yang hampir selalu dibeli manusia. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)

"Aku jadi enggak buang waktu lama cuma buat mikirin outfit. Hampir semua baju di lemari sekarang bisa dipakai bareng. Jadi misalnya aku beli cardigan, cardigan itu bisa dipadukan sama top yang aku punya dengan warna berbeda," ujarnya.

Meski begitu, Lia mengaku sempat merasa kurang percaya diri ketika harus menghadiri acara sosial atau bertemu teman-temannya.

"Awalnya takut dikira bajunya itu-itu aja. Tapi ternyata orang juga enggak terlalu notice. Malah aku jadi sering merasa ternyata aku cocok dengan paduan outfit baru yang aku temukan sendiri," katanya.

Sementara itu, Erik (24), seorang karyawan swasta, mulai menerapkan capsule wardrobe karena merasa terlalu sering membeli pakaian yang akhirnya hanya dipakai sekali atau dua kali. Ia mengatakan kebiasaan belanjanya dulu banyak dipengaruhi tren yang cepat berganti di media sosial.

Menurut Erik, memiliki terlalu banyak pilihan pakaian justru membuatnya lebih sulit menentukan outfit harian.

"Kadang makin banyak baju malah makin bingung mau pakai apa. Apalagi kalau kerja setiap hari, aku jadi makin susah milih," kata Erik.

Ia kemudian mulai mengurangi koleksi pakaian dan memilih model yang lebih sederhana serta tahan lama. Kemeja polos, kaus polos, celana bahan warna netral, dan sneakers putih menjadi kombinasi yang paling sering dipakainya untuk bekerja maupun hangout.

Selain lebih praktis, Erik mengaku pengeluaran untuk fesyen kini jauh lebih terkontrol dibanding sebelumnya.

"Sekarang kalau mau beli baju aku mikir dulu, ini bakal sering kepakai atau enggak. Karena jujur, di kondisi ekonomi sekarang kayaknya kita memang perlu memilah mana yang benar-benar butuh dan mana yang enggak," ujarnya.

Bagi Erik, capsule wardrobe bukan berarti berhenti mengikuti fesyen, melainkan menjadi lebih sadar terhadap kebutuhan pribadi dan kebiasaan konsumsi.

"Intinya bukan enggak boleh beli baju, tapi lebih tahu mana yang benar-benar dipakai," katanya.

(tis/asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK