Waspadai Kolesterol, Berapa Batas Aman Makan Telur dalam Seminggu?
Telur menjadi salah satu bahan makanan yang mudah untuk diolah jadi apa pun. Ditambah lagi, dalam satu butir telur kita bisa mendapatkan banyak nutrisi yang dibutuhkan untuk tubuh. Namun berapa batas aman makan telur dalam seminggu?
Banyak orang yang khawatir konsumsi telur berlebihan dapat meningkatkan kadar kolesterol dan risiko penyakit jantung. Lalu, sejauh mana kita bisa mengonsumsi telur tanpa membahayakan kesehatan?
Berapa batas aman makan telur dalam seminggu?
Menurut penjelasan dari Zakiah Wulandari, ahli dari Fakultas Peternakan IPB University, telur memang mengandung kolesterol cukup tinggi.
"Mengonsumsi kuning telur dapat meningkatkan kolesterol jahat adalah fakta. Pada bagian kuning telur, kandungan kolesterol sebesar lima persen dari total lemak," ujarnya Zakiah, seperti dikutip dari laman IPB.
Satu telur rata-rata mengandung sekitar 186 mg kolesterol, sedangkan batas konsumsi harian yang dianjurkan berkisar antara 100-300 mg. Untuk orang dengan hiperkolesterolemia, batas maksimal konsumsi kolesterol, yakni 200 mg per hari.
Lalu perlu diingat pula, kolesterol tidak hanya berasal dari telur, tetapi juga dari sumber makanan hewani lainnya. Jadi asupannya memang perlu dibatasi, tetapi seberapa banyak?
Bagi orang dengan diabetes, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi, Zakiah merekomendasikan konsumsi maksimal dua telur per minggu.
Jumlah ini bisa dinaikkan jika mereka mengonsumsi telur tanpa kuningnya, karena putih telur merupakan sumber protein yang sangat baik dan aman dikonsumsi lebih banyak.
"Untuk orang yang sehat, rekomendasi konsumsi telur dengan kuning telurnya adalah satu butir per hari. Rekomendasi ini tidak akan meningkatkan penyakit kardiovaskular," kata Zakiah.
Pendapat lain menyebutkan bahwa untuk orang dewasa yang sehat, makan 7 sampai 14 telur per minggu termasuk dalam batas aman. Dengan catatan 14 telur bagian putihnya saja.
Artinya, konsumsi di atas jumlah tersebut bisa dianggap berlebihan, tetapi tentu saja tergantung pada kondisi kesehatan dan pola makan secara keseluruhan.
"Menurut American Heart Association, individu yang sehat dapat mengonsumsi rata-rata tujuh butir telur per minggu sebagai bagian dari diet yang menyehatkan jantung," ujar ahli gizi Lauren Manaker, dikutip dari laman Martha Stewart.
Rekomendasi ini menyeimbangkan manfaat nutrisi dari telur, seperti protein berkualitas tinggi dan berbagai nutrisi penting lainnya, dengan kebutuhan untuk menjaga moderasi dalam pola makan.
Faktor yang menentukan jumlah konsumsi telur
Masih menurut laman Martha Stewart, jumlah telur yang aman dikonsumsi setiap minggu sangat bergantung pada beberapa faktor, antara lain:
1. Kondisi kesehatan
Beberapa orang memiliki sensitivitas terhadap kolesterol makanan atau memiliki kondisi medis seperti hiperkolesterolemia, yaitu gangguan genetik yang menyebabkan kadar LDL sangat tinggi.
Jika Anda termasuk dalam kategori ini, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk menentukan batas konsumsi telur yang aman.
2. Pola makan keseluruhan
Jika pola makan Anda sudah tinggi lemak jenuh dari sumber lain, seperti daging merah, makanan olahan, dan makanan manis, sebaiknya hati-hati dalam mengonsumsi telur.
Penting untuk mengutamakan konsumsi buah, sayur, biji-bijian, dan lemak sehat sebagai bagian dari pola makan.
Lihat Juga : |
3. Cara pengolahan
Cara memasak telur juga berpengaruh terhadap kesehatan. Menggoreng telur dengan mentega atau minyak berlemak tinggi dapat meningkatkan asupan lemak jenuh.
Lebih baik masak telur dengan cara direbus, dikukus, atau dibuat orak-arik tanpa tambahan lemak berlebih agar tetap sehat.
4. Usia
Pada lansia dengan kadar kolesterol normal, konsumsi hingga dua telur per hari atau sekitar 14 telur per minggu masih dianggap aman.
Selain sebagai sumber protein berkualitas tinggi, telur juga mengandung vitamin B12 yang penting untuk fungsi saraf dan pembentukan sel darah merah. Nutrisi ini sangat dibutuhkan seiring bertambahnya usia.
Jadi, berapa batas aman makan telur dalam seminggu? Jawabannya tergantung pada kondisi kesehatan, pola makan, dan cara pengolahan. Yang terpenting, jaga keseimbangan dan tidak berlebihan.
(rti)