Nostalgia Gaul Blok M: Tempat Pamer Mobil hingga Hunting Buku
Wajah Blok M yang kini wara-wiri di media sosial jauh berbeda dengan apa yang dilihat sebagian orang di era 1990-an hingga 2000-an awal. Belum ada bus TransJakarta yang adem tapi yang ada Metro Mini sesak berhias karat besi. Pun gultik masih mengenyangkan, belum kena pangkas porsi.
Kamu punya cerita apa di Blok M?
Blok M sejak lama jadi saksi dinamika kaum urban dari berbagai lapisan. Dhani (40) bercerita satu hal yang masih lekat di ingatannya soal Blok M adalah kawasan terminalnya yang penuh bus dan angkutan kota (angkot).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pas SD lah itu, sekeluarga ke Blok M naik Metro Mini dari Tanah Kusir. Paling inget tuh Metro Mini masuk terminal, sederet itu angkot semua, bus semua yang kelihatan besi karatan. Kalau kena bisa tetanus dah, mana asapnya hitam [pekat] soalnya kadang mereka ngetem enggak matiin mesin kan," ujar Dhani saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (26/5).
Menyoal Blok M era lawas, Tyo (34) juga tidak akan lupa dengan sensasi naik Metro Mini ke salah satu tempat gaul kawula muda Jakarta Selatan ini.
Berbeda dengan bus Transjakarta yang nyaman, penumpang Metro Mini harus tabah dalam kondisi bus ngebut, banyak copet, kondisi bus terbilang kurang layak, dan berdesakan dalam panas.
"Ke Blok M sesekali lah. Soalnya agak repot ya ke Blok M. Zaman itu adanya kan Metro Mini, yang mana naik Metro Mini 69 Blok M-Ciledug tuh kayak pertaruhan nyawa. Kaki belum napak tanah, busnya udah jalan," katanya saat diwawancara secara terpisah.
Meski harus penuh perjuangan, Tyo mengakui tidak kapok bolak-balik ke Blok M. Buatnya selain gampang dijangkau, Blok M juga tempat yang komplet.
Lihat Juga :![]() LAPORAN INTERAKTIF Metromini Terakhir |
Di Blok M, lanjut dia, dulu sangat lengkap, mulai dari terminal bus ke berbagai daerah, Plaza Blok M yang 'fancy', Mall Blok M yang 'merakyat' sampai pedagang kaki lima yang menjajakan berbagai barang.
"Barang baru ada, barang bekas ada, barang bajakan apalagi, banyak banget," kata Tyo disusul tawa.
Show off mobil di gultik hingga hunting buku
Meski sejak kecil sudah menjelajah Blok M, ada masanya Dhani justru menghindari kawasan tersebut. Ia bersekolah di SMAN 29 Jakarta yang kebetulan 'bermusuhan' dengan SMAN 6 Jakarta dan SMAN 70 Jakarta.
Ilustrasi. Gultik alias gulai tikungan dulu benar-benar hanya ada di tikungan. Dhani (40) bercerita gultik jadi salah satu tempat nongkrong di Jakarta Selatan terutama mereka yang punya mobil. (CNNIndonesia/Adi Ibrahim) |
"Nah jadi gue tuh kagak mungkin maen ke Blok M, yang ada dipalak ntar. Tapi bukan berarti enggak maen [ke sana] lagi," katanya.
Baru di masa kuliah, Dhani kembali akrab dengan Blok M. Saat itu, Blok M jadi salah satu pilihan tempat nongkrong selain di kawasan Senayan. Menurutnya, kawula muda Jaksel, terutama yang mengendarai mobil sendiri, selalu nongkrong di Blok M dan Senayan.
Senayan terutama Jalan Asia-Afrika memang jadi tongkrongan utama sebab kerap jadi arena balap liar. Sementara Blok M tempatnya untuk bersantai sembari memamerkan mobil.
"Kenapa orang sering ke gultik? Mobil satu tongkrongan bisa parkir berjejer sekalian show off. Yang hits tuh gultik (gulai tikungan), tapi yang di tikungan itu doang, sekarang kan banyak. [Makan gultik] dulu kenyang, sekarang mah amit-amit," ujarnya.
Ilustrasi. Selain Gramedia Melawai, Tyo berburu buku terutama buku bekas di area basement Mall Blok M. (ANTARA FOTO/Subur Atmamihardja) |
Beda cerita dengan Dhani, Tyo lebih banyak kenangan soal berburu buku di Blok M. Kebanyakan ia mencari buku di Gramedia Melawai yang kini menjadi Kopi Aloo atau Santika Training Center.
Menuju gedung empat lantai itu bisa dibilang penuh perjuangan sebab harus melewati Jalan Melawai 3 yang penuh sesak pedagang kaki lima bercampur pembeli dan pejalan kaki lain. Terpal di atasnya membuat sinar matahari tidak bisa masuk sehingga terbayang sesak dan aroma keringat yang menyengat.
Tak hanya Gramedia Melawai, Tyo juga berburu buku bekas di Mall Blok M, tepatnya dari arah terminal di akses basement. Buatnya, tempat itu jadi 'penolong' ketika harus mengerjakan tugas membuat kliping dari majalah dan koran bekas.
"Enggak cuma itu, di toko-toko yang nyebar di basement Mall Blok M itu juga ada yang jual komik hentai (komik dengan cerita dan gambar 'dewasa'). Pas SMP, banyak temen gue beli komik begitu di Blok M," kata Tyo terbahak.
Viral dan nyentrik semua ada di Blok M
Ilustrasi. Blok M semakin berkembang dan memberikan berbagai pilihan tempat tongkrongan dan destinasi kuliner buat pengunjungnya. Pun apa yang viral, bisa kamu temukan di Blok M. (CNN Indonesia/Febria Adha L) |
Meski tidak seekstrem temuan pengalaman Tyo dan Dhani, Gadis Hilmi Nabiilah Rose (28) menilai Blok M yang dikunjunginya pada 2016 lalu cukup berbeda dengan yang sekarang.
Merantau dari Surabaya ke Jakarta sejak masa kuliah, ia menggambarkan Plaza Blok M sebagai mal dengan pencahayaan remang-remang. Selain itu, tempat tongkrongan belum sebanyak sekarang. Saat itu, kata dia, yang cukup ramai disambangi adalah Join Kopi di Jalan Bulungan.
"Pertama kali ke situ bingung kenapa rame karena tempatnya enggak nyaman. Warung kopi tapi semua orang yang beli duduknya di trotoar," kata Gadis.
Sekarang, suasana Blok M begitu berbeda dibanding masa kuliah. Dia jadi cukup sering bertandang ke Blok M untuk sekadar menyicip kuliner viral atau tempat tongkrongan 'hidden gem'.
Menurutnya, Blok M ramai tidak hanya karena tempat-tempat atau kuliner viral, tapi juga soal akses dan pandangan bahwa tempat ini adalah 'safe space' buat beberapa orang. Ada banyak pilihan transportasi umum yang murah dan nyaman ke Blok M.
"Dulu tuh orang ke Blok M karena deket atau udah tinggal lama di Jakarta. Sekarang ke situ karena emang pengin. Terus orang bebas berekspresi. Banyak kan yang penampilannya nyentrik," imbuhnya.
Tyo pun mengakui Blok M seperti tidak bisa diam. Ada saja hal baru yang bisa ditemukan di sana. Di satu sisi, ia senang dengan perubahan ini. Di sisi lain, ia merasa Blok M tak lagi meninggalkan kesan mendalam akibat tren yang cepat berganti.
"Plus keramaiannnya itu numpuk di beberapa lokasi aja, kayak gang viral, Taman Literasi, Kopi Tuku, lantai dasar Blok M Square dan sekitarnya. Bahkan udah kayak biasa aja kalau ada tawuran dari SMAN 6 dan 70 di belakang Plaza Blok M," katanya.
(els/asr) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]





