Tiba-tiba Telinga Berdenging, Apa Penyebabnya?

CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 07:04 WIB
Ilustrasi telinga berdenging.
Ilustrasi telinga berdenging. (Foto: iStock/Nes)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Tinnitus atau yang lebih populer dikenal sebagai kondisi telinga berdenging merupakan fenomena medis ketika seseorang merasakan sensasi suara di dalam telinganya.

Suara ini bersifat internal, artinya tidak berasal dari stimulasi audio luar, sehingga hanya individu tersebut yang dapat mendengarnya.

Melansir situs resmi Eka Hospital, fenomena ini bukanlah suatu penyakit mandiri, melainkan sebuah indikator atau gejala dari adanya gangguan kesehatan lain yang sedang terjadi di dalam tubuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu faktor pemicu telinga berdenging yang paling jamak ditemukan adalah penurunan fungsi pendengaran seiring bertambahnya usia.

Manifestasi suara yang didengar oleh penderita tinnitus sangat bervariasi. Intensitasnya bisa terdengar lirih hingga sangat melengking, serta dapat mengganggu satu telinga, keduanya, atau bahkan terasa di dalam kepala.

Selain suara "nging" yang konstan, penderita umumnya melaporkan sensasi suara lain seperti:

- Berdengung layaknya suara lebah
- Menderu seperti tiupan angin kencang
- Suara klik yang berulang
- Desisan atau siulan tajam
- Gumaman konstan

Dalam ranah medis, kondisi di atas dikategorikan sebagai tinnitus subjektif. Namun, pada beberapa kasus yang lebih jarang, terdapat jenis tinnitus pulsatif. Kondisi ini ditandai dengan munculnya suara berdesir atau berdenyut yang ritmenya seirama dengan detak jantung.

Berbeda dengan jenis subjektif, tinnitus jenis ini bersifat objektif karena dokter dapat ikut mendengarnya secara langsung dengan bantuan stetoskop.

10 Faktor Utama Pemicu Telinga Berdenging

Hingga saat ini, mekanisme pasti di balik munculnya tinnitus masih terus diteliti. Kendati demikian, para ahli kesehatan berhasil mengidentifikasi sejumlah kondisi klinis yang kerap menjadi pemicu utamanya, antara lain:

1. Paparan Kebisingan Ekstrem: Berada di lingkungan bising dalam jangka panjang atau terkena suara dentuman keras yang mendadak (seperti ledakan atau tembakan) dapat merusak sel rambut halus di dalam telinga.

2. Degenerasi Pendengaran (Faktor Usia): Seiring merosotnya fungsi organ tubuh karena penuaan, kemampuan mendengar akan berkurang dan kerap kali memicu tinnitus.

3. Penyumbatan Kotoran dan Infeksi: Akumulasi kotoran telinga (serumen) yang membatu dapat meningkatkan tekanan di dalam saluran telinga. Selain itu, peradangan akibat infeksi juga memicu keluhan serupa.

4. Trauma Kepala atau Leher: Cedera fisik pada area hulu tubuh berisiko mengganggu struktur saraf atau jaringan telinga bagian dalam.

5. Efek Samping Obat-obatan: Konsumsi obat tertentu dalam dosis tinggi-seperti antibiotik khusus, kemoterapi, antimalaria, antidepresan, hingga obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)-dapat meracuni sistem pendengaran.

6. Penyakit Meniere: Gangguan kronis pada telinga dalam akibat ketidakseimbangan tekanan cairan di dalamnya. Tinnitus biasanya menjadi sinyal awal penyakit ini.

7. Gangguan Vaskular (Pembuluh Darah): Malformasi pembuluh darah, aterosklerosis (penyumbatan arteri), dan tekanan darah tinggi yang terjadi di dekat area telinga dapat memicu suara denging.

8. Disfungsi Sendi Rahang: Masalah pada sendi temporomandibular (TMJ) yang mengoneksikan rahang dengan tengkorak dapat memengaruhi sensitivitas pendengaran.

9. Komplikasi Penyakit Kronis: Mengidap penyakit sistemik seperti diabetes, anemia, gangguan kelenjar tiroid, serta kelainan autoimun (lupus dan rheumatoid arthritis).

10. Masa Kehamilan: Fluktuasi hormon reproduksi serta perubahan drastis pada sistem sirkulasi darah selama mengandung kerap memicu tinnitus temporer pada ibu hamil.

Dikutip dari Prevention, karena tinnitus merupakan sebuah gejala sekunder, maka kunci utama penyembuhannya adalah dengan mengidentifikasi dan mengobati akar penyakit utamanya. Medis tidak menyediakan obat tunggal yang khusus untuk menghilangkan tinnitus secara langsung.

Sebelum menentukan langkah penanganan, dokter spesialis THT umumnya akan melakukan rangkaian pemeriksaan komprehensif, mulai dari audiometri atau tes pendengaran, tes darah laboratorium, hingga pemindaian akurat lewat CT scan atau MRI.

Berdasarkan hasil diagnosis, berikut beberapa opsi penanganan yang dapat diterapkan:

- Prosedur pembersihan saluran telinga dari sumbatan kotoran atau cairan.
- Operasi atau terapi obat untuk memperbaiki gangguan pembuluh darah.
- Penggunaan alat bantu dengar (hearing aid) jika tinnitus disertai penurunan fungsi pendengaran.
- Substitusi atau penyesuaian dosis obat-obatan yang memicu efek samping denging.
- Konseling bersama psikolog atau psikiater apabila tinnitus dipicu atau diperparah oleh gangguan psikologis seperti gangguan kecemasan dan depresi.

Meskipun secara umum tidak dikategorikan sebagai kondisi yang mengancam jiwa, tinnitus yang dibiarkan terus-menerus tanpa penanganan dapat merusak kualitas hidup penderitanya. Tekanan psikologis akibat suara bising internal yang tidak kunjung hilang berpotensi memicu:

- Stres berat dan gangguan kecemasan
- Insomnia (kesulitan tidur kronis)
- Kelelahan fisik akibat kurang istirahat
- Penurunan daya konsentrasi dan produktivitas
- Gangguan suasana hati (mood swing) hingga sakit kepala akut.

(wiw) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]