Karena Stres? Ternyata Ini Kepribadian Orang yang Suka Menggigit Kuku

CNN Indonesia
Minggu, 07 Jun 2026 15:10 WIB
Ilustrasi. Simak kepribadian orang yang suka menggigit kuku. (Freepik)
Jakarta, CNN Indonesia --

Orang yang menggigit sering dianggap sedang banyak pikiran atau stres. Padahal menggigit kuku bisa menggambarkan sifat atau kepribadian seseorang. Berikut kepribadian orang yang suka menggigit kuku.

Dalam dunia medis, kebiasaan menggigit kuku dikenal dengan istilah onychophagia, yaitu perilaku menggigit atau mengunyah kuku secara berulang, baik disadari maupun tidak.

Kebiasaan ini cukup umum terjadi, terutama pada anak-anak dan remaja. Namun pada sebagian orang, kebiasaan tersebut bisa berlanjut hingga dewasa dan sulit dihentikan. 

Kepribadian orang yang suka menggigit kuku

Menggigit kuku sering dianggap sebagai kebiasaan sepele atau tanda seseorang sedang gugup. Padahal, kebiasaan ini bisa berkaitan dengan kondisi psikologis dan kepribadian tertentu.

Lalu, seperti apa sebenarnya kepribadian orang yang suka menggigit kuku?

1. Cenderung perfeksionis

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering menggigit kuku memiliki sifat perfeksionis. Mereka biasanya ingin segala sesuatu berjalan sesuai rencana dan mudah merasa frustrasi ketika hasilnya tidak sesuai harapan.

Orang dengan tipe ini juga cenderung sulit santai. Mereka ingin selalu produktif, cepat menyelesaikan pekerjaan, dan tidak nyaman ketika merasa bosan atau tidak melakukan apa-apa. Saat rasa frustrasi muncul, menggigit kuku menjadi cara cepat untuk melampiaskan ketegangan.

2. Mudah cemas dan overthinking

Menggigit kuku juga sering dikaitkan dengan rasa cemas. Banyak orang melakukannya saat gugup, stres, atau sedang memikirkan sesuatu secara berlebihan. Kebiasaan ini dapat memberi efek menenangkan sementara pada pikiran.

Oleh karenanya, seseorang mungkin tanpa sadar mulai menggigit kuku saat menghadapi tekanan pekerjaan, masalah pribadi, atau situasi yang membuat tidak nyaman. Pada beberapa kasus, kebiasaan ini juga ditemukan pada orang dengan gangguan kecemasan atau obsessive compulsive disorder (OCD).

3. Sulit mengendalikan kebiasaan

Sebagian orang menggigit kuku tanpa sadar, misalnya saat menonton, belajar, atau fokus mengerjakan sesuatu. Kebiasaan ini termasuk body-focused repetitive behavior yaitu, perilaku berulang yang dilakukan pada tubuh sendiri, seperti mencabut rambut atau menggigit bibir.

Walau terlihat sederhana, menghentikan kebiasaan ini tidak selalu mudah. Banyak orang merasa ingin berhenti, tetapi kembali melakukannya saat stres atau bosan.

4. Bisa berkaitan dengan emosi yang dipendam

Selain cemas dan perfeksionis, melansir News Medical Life Sciences, kebiasaan menggigit kuku juga dapat muncul karena emosi yang tidak tersalurkan, misalnya, rasa marah, kesepian, malu, atau kecewa.

Pada anak-anak, kebiasaan ini bahkan bisa dipengaruhi lingkungan sekitar atau meniru kebiasaan orang lain.

Beberapa ahli juga menyebut bahwa menggigit kuku bisa menjadi cara seseorang mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman secara emosional.

Cara mengurangi kebiasaan menggigit kuku

Ilustrasi. Selain mengenal kepribadian orang yang suka menggigit kuku, kenali pula cara mengurangi kebiasaan ini. Jika susah dikendalikan maka sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga profesional. (Getty Images/bymuratdeniz)

Melansir dari Psychology Today, jika menggigit kuku dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa menyebabkan kuku rusak, kulit sekitar jari terluka, hingga infeksi akibat bakteri yang masuk melalui tangan. Selain itu, sebagian orang merasa malu dengan kondisi kukunya sehingga memengaruhi rasa percaya diri.

Dalam kasus yang lebih berat, kebiasaan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan hubungan sosial karena seseorang merasa minder atau terus mendapat komentar dari orang sekitar.

Penting mengetahui kepribadian orang yang suka menggigit kuku. Namun yang tak kalah penting adalah mengurangi kebiasaan ini. Mengurangi kebiasaan menggigit kuku perlu dilakukan secara bertahap. Beberapa cara yang bisa dicoba antara lain menjaga kuku tetap pendek, menggunakan kuteks khusus dengan rasa pahit, mencari aktivitas pengganti saat stres, hingga belajar mengelola emosi dengan lebih baik.

Jika kebiasaan ini sudah sulit dikendalikan dan mengganggu kehidupan sehari-hari maka, konsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional bisa menjadi langkah yang membantu.

(sac/els)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK