Anak Juga Bisa Jadi People Pleaser, Kenali Tanda-tandanya
Anak people pleaser sering terlihat baik-baik saja. Tak ada masalah berarti yang dibuatnya. Hanya saja, tetap ada yang salah dibalik sikap people pleaser itu.
Lantas, apa saja tanda anak people pleaser?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
People pleaser sendiri merujuk pada pribadi yang terbiasa mengesampingkan kebutuhan pribadinya untuk mengakomodasi kebutuhan orang lain. Dengan kata lain, mereka selalu ingin menyenangkan orang lain.
Keinginan untuk menyenangkan orang lain itu tak muncul tiba-tiba. Keinginan itu biasanya muncul karena adanya perasaan takut ditolak, rasa tidak aman, dan kebutuhan untuk disukai.
Mengutip Psychology Today, kecenderungan untuk menyenangkan orang lain berkaitan dengan gangguan kepribadian dependen. Tak cuma itu, mereka juga kerap dikaitkan dengan tipe kepribadian masokis.
Jarang berkata 'tidak' jadi salah satu ciri utama people pleaser. Tak sedikit juga dari mereka yang mengambil tanggung jawab atas kesalahan yang tidak dilakukannya.
Bisa terjadi juga pada anak
Tak cuma pada orang dewasa, anak juga bisa menjadi people pleaser.
Sekilas, anak akan terlihat baik dan sopan sebagaimana impian semua orang tua. Tapi, di balik perilaku sopan ini, ada masalah yang diam-diam berakar: selalu ingin menyenangkan orang lain.
Ketika anak terus menerus mengutamakan perasaan orang lain, mereka bisa kehilangan kontak dengan apa yang dibutuhkan. Seiring waktu, akan muncul perasaan bahwa mereka dianggap bermanfaat saat membuat orang lain bahagia.
"Hal itu benar-benar dapat mengganggu kepercayaan diri mereka," ujar psikolog keluarga Nina Westbrook, mengutip Parents.
Tak cuma itu, Westbrook juga mengatakan, kebiasaan itu membuat mereka sulit mengatakan 'tidak' atau membela diri seiring bertambahnya usia.
"Jika pola ini berlanjut, dapat menyebabkan hal-hal seperti kecemasan, kelelahan, atau kesulitan dalam hubungan di kemudian hari," tambah Westbrook.
Menurut dia, anak juga jadi rentan terhadap manipulasi karena mereka terbiasa melakukan hal-hal untuk menyenangkan orang lain daripada belajar menggunakan penilaian, mengekspresikan kebutuhan mereka, dan membela diri.
Perlu dicatat juga, kebiasaan menyenangkan orang lain pada anak dapat menimbulkan risiko jangka panjang. Psikolog Joseph Laino mengatakan, kebiasaan ini dapat menyebabkan rendah diri, kebingungan identitas, dan kesulitan menetapkan batasan yang sehat.
"Anak-anak ini sering mengandalkan validasi eksternal, yang dapat memicu kecemasan, stres, dan rasa takut yang terus-menerus akan ketidaksetujuan," ujar Laino.
Seiring waktu, menekan kebutuhan sendiri dapat mengakibatkan kelelahan emosional, rasa dendam, dan peningkatan risiko depresi.
Tanda anak people pleaser
Laino mengatakan, perilaku menyenangkan orang lain sering kali berakar pada rasa tidak aman dan ketakutan anak akan kehilangan sumber validasi eksternal.
"Mereka mungkin merasa perlu menyenangkan orang lain untuk mendapatkan pengakuan yang menegaskan harga diri mereka," ujar Laino.
Berikut tanda-tanda anak people pleaser:
- mereka sering meminta maaf, bahkan saat tidak diperlukan;
- mereka sering mencari kepastian soal apakah dirinya telah melakukan hal yang benar;
- mereka jarang mengatakan tidak meskipun untuk hal yang tidak disukai;
- mereka melakukan hal-hal hanya agar disukai orang lain;
- mereka menghindari konflik;
- mereka kesulitan menetapkan batasan yang membuat mereka harus mengambil tanggung jawab lebih banyak.
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

