Ini 6 Kepribadian Para Pelaku Ghosting, Egois hingga Impulsif

CNN Indonesia
Sabtu, 06 Jun 2026 10:00 WIB
Perilaku ghosting bisa menggambarkan kepribadian tertentu.
Ilustrasi. Perilaku ghosting bisa menggambarkan kepribadian tertentu. (iStockphoto)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Ghosting boleh jadi perilaku yang paling dibenci banyak orang saat ini. Siapa pula yang mau ditinggalkan begitu saja tanpa kabar?

Tapi, di balik fenomena ghosting, ternyata ada karakter tersembunyi di baliknya. Pelaku ghosting bisa menggambarkan kepribadian tertentu. Apa saja?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ghosting sendiri merupakan tindakan menghilang secara tiba-tiba dari kehidupan orang lain tanpa penjelasan. Ghosting telah menjadi istilah anyar dan sering diperbincangkan dalam dunia percintaan.

Mengutip laman Cleveland Clinic, sebuah penelitian pernah menemukan, 25 persen orang dewasa mengaku pernah menjadi korban ghosting oleh pasangan romantisnya masing-masing.

Dalam beberapa kasus, ghosting terjadi secara tiba-tiba dan jelas. Tapi, dalam beberapa kasus lain, ghosting terjadi perlahan.

"Penamaan istilah 'ghosting' menyiratkan bahwa perilaku ini menjadi cara normal untuk mengakhiri hubungan yang sudah tak lagi Anda minati," ujar psikolog Susan Albers.

Kepribadian orang yang suka ghosting

Ghosting memang menyebalkan. Tapi, di baliknya ada beberapa kepribadian yang tersembunyi. Berikut di antaranya, merangkum berbagai sumber.

1. Tak bisa menangani konflik

Menurut Albers, alasan utama banyak orang menghilang tanpa kabar adalah untuk menghindari konflik.

Ia melanjutkan, para pelaku ghosting kemungkinan besar tumbuh dalam keluarga di mana konflik dan pertengkaran adalah hal tabu. Akibatnya, mereka tak punya panutan untuk mengatasi konflik emosional.

2. Pasif agresif

[Gambas:Video CNN]

Orang yang menghilang begitu saja cenderung pasif agresif.

"Mereka cenderung lari dari tanggung jawab yang membuat mereka tidak nyaman," ujar Albers.

3. Egois

Pada dasarnya, ghosting adalah tentang mengutamakan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Pelaku biasanya memilih kenyamanan emosional sendiri alih-alih bicara jujur.

4. Empati rendah

Pelaku ghosting tak akan merasakan dampak dari apa yang mereka lakukan. Atau, lebih parahnya lagi, mereka tidak peduli.

Bagi mereka, menghilang lebih mudah dan tidak menyakitkan. Mereka mengabaikan kecemasan, kesedihan, dan kebingungan dari orang yang ditinggalkan.

5. Ragu-ragu dan impulsif

Beberapa orang melakukan ghosting bukan karena niat jahat. Mereka tiba-tiba menghilang karena tak memiliki kejelasan batin.

Mereka ragu-ragu, terlalu banyak berpikir, atau bertindak impulsif. Misalnya, suatu hari mereka tertarik, tapi kemudian harinya mereka justru kewalahan dan akhirnya memilih menghilang.

6. Takut bertanggung jawab

Mereka umumnya tak ingin bertanggung jawab atas apa yang ditimbulkan. Mereka takut dianggap salah, jahat, atau memiliki kekurangan. Mereka takut akan reaksi orang.

Mereka takut diminta menjelaskan. Jadi, alih-alih bertanggung jawab, mereka lebih memilih menutup diri dan menghilang.

Jadi, jika kamu pernah jadi korban ghosting, bisa jadi hal-hal di atas menjadi bagian dari kepribadian si dia.

(asr) Add as a preferred
source on Google