Imbas Perang, Hotel Mewah Dubai Buka Staycation Murah Buat Warga Lokal

CNN Indonesia
Minggu, 07 Jun 2026 11:40 WIB
Aerial view of Dubai Palm Jumeirah island, United Arab Emirates
Tawaran staycation murah di hotel mewah Dubai, turun hingga 4 kali lipat, dinikmati penduduk lokal saat turis asing pergi. (Istockphoto/Delpixart)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hotel-hotel kelas atas Dubai yang sebelumnya eksklusif cuma bagi pelancong kaya kini menawarkan staycation murah bagi penduduk lokal, yang jadi target utama pendapatan ketika banyak turis kabur karena perang.

Di Palm, pulau buatan identik kemewahan Dubai dan hotel-hotel bintang lima kembali ramai pada akhir pekan dan hari libur. Pelanggan hotel berdatangan karena tergiur penawaran khusus untuk penduduk setempat.

"Saya belum pernah menginap di hotel di Palm karena harganya sangat mahal," kata Fadi Iskandarani, seorang dokter berusia enam puluhan yang baru saja menghabiskan akhir pekan pertamanya di sebuah resor mewah di pulau berbentuk pohon itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Warga negara Lebanon, yang telah tinggal di Dubai selama lima tahun, memutuskan memilih staycation setelah melihat bahwa sebuah hotel di Palm menurunkan tarifnya hingga empat kali lipat. Hotel itu tidak penuh, dengan beberapa lantai ditutup karena tidak cukup tamu.

Namun, area tepi kolam renang dipenuhi orang, katanya, yang datang ke Palm untuk menikmati kemewahan yang dulunya tak terjangkau.

"Kemewahan di Dubai kini terjangkau bagi penduduk, sebelumnya hanya untuk orang kaya, orang yang sangat kaya," katanya.

Bertahan

AFP menjelaskan Dubai dikunjungi 19,5 juta wisatawan setiap tahunnya serta menjadi destinasi wisata terpopuler di kawasan ini dan sejak lama dipandang sebagai tempat bermain orang kaya dan terkenal di dunia.

Sebanyak 827 hotel di Dubai, termasuk 173 hotel bintang lima, memiliki tingkat hunian rata-rata lebih dari 80 persen.

Namun, perang yang dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari sudah menghancurkan citra Teluk sebagai tempat yang stabil. Iran yang diserang menjadikan Dubai sebagai salah satu sasaran kemarahannya.

Uni Emirat Arab menanggung beban terberat rudal dan drone Iran, yang menghantam hotel-hotel, termasuk di Palm, serta resor ikonik Burj Al Arab.

Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 8 April, beberapa wisatawan mulai berdatangan, tetapi hotel-hotel sebagian besar mengandalkan tamu lokal, kata Michael Robinson, manajer umum Anantara The Palm Dubai Resort.

Dengan vila-vila di atas air, laguna buatan, dan dekorasi yang terinspirasi dari Thailand, hotel mewah ini dipenuhi penduduk Dubai, yang mendapatkan diskon khusus hingga 50 persen.

Robinson menjelaskan pada Jumat dan Sabtu tingkat hunian hotel berkisar antara 70 hingga 90 persen. Sementara Minggu hingga Kamis sekitar 20 hingga 30 persen.

Pelanggan baru ini telah menyelamatkan perhotelan, memungkinkan Anantara The Palm tetap "positif secara finansial" tanpa harus melakukan PHK.

Staycation belum cukup

Walau demikian staycation saja tidak cukup dalam jangka panjang.

"Bisnis staycation Anda pada dasarnya hanya satu hingga dua malam dan itu saja... Sedangkan sebelumnya, pasar internasional mungkin datang selama satu minggu," kata Robinson.

Jika wisatawan menjauh pada Juli, ketika sekolah-sekolah tutup dan banyak keluarga pulang ke rumah untuk liburan musim panas, "tidak akan banyak orang yang ingin berlibur di dalam negeri," kata Robinson.

Beberapa hotel, termasuk Burj Al Arab, telah ditutup sementara untuk renovasi karena bisnis melambat.

Hotel lain telah mengurangi staf atau gaji, terutama hotel-hotel di pusat kota Dubai, yang bergantung pada pariwisata bisnis.

Seorang karyawan di salah satu hotel Dubai, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan gajinya telah dipotong hingga 40 persen selama dan setelah perang, sebelum kembali normal dalam beberapa minggu terakhir.

Karyawan lain di sebuah hotel di Abu Dhabi mengatakan dia diberhentikan sementara tanpa dibayar selama dua bulan tetapi dia akan segera kembali bekerja dengan gajinya dipulihkan.

Perundingan untuk mengakhiri perang telah berlangsung selama dua bulan dan pemogokan sporadis masih mewarnai kehidupan di Teluk, yang membebani pariwisata.

"Jika kita melihat adanya penyelesaian dalam satu bulan ke depan... saya rasa wisatawan akan kembali lebih cepat dari yang diperkirakan semua orang," katanya dengan nada optimistis.

(fea) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]