Punya Teman Banyak Bicara? Ini 7 Kepribadian yang Mungkin Dimilikinya

CNN Indonesia
Senin, 29 Jun 2026 10:30 WIB
Orang yang banyak bicara tak selalu berkepribadian ekstrover. Perilaku ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis serta karakter individu.
Ilustrasi. Orang yang banyak bicara tak selalu berkepribadian ekstrover. Perilaku ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis serta karakter individu. (iStockphoto/jacoblund)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah bertemu dengan orang yang hampir tidak pernah berhenti berbicara? Mereka cenderung mendominasi percakapan dalam kelompok hingga sering memotong pembicaraan orang.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang dengan perilaku ini kerap dilabeli cerewet atau banyak omong.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Pada dasarnya, banyak bicara tidak selalu mencerminkan sifat negatif. Orang yang gemar berbicara biasanya tampak ramah, mudah bergaul, dan ekspresif.

Namun, ketika obrolan berlangsung tanpa henti, percakapan terasa satu arah, bahkan mengganggu orang di sekitar, tentu perilaku itu bisa dianggap berlebihan.

Seseorang dapat dikatakan terlalu banyak bicara jika ia sering mendominasi percakapan, tidak memberi kesempatan orang lain untuk berbicara, tidak suka suasana hening, hingga kerap menyela pembicaraan.

Tak jarang, mereka juga suka berbicara dengan suara yang lebih keras dibandingkan orang lain di sekitarnya.

Menariknya, kebiasaan banyak bicara tak selalu berkaitan dengan kepribadian ekstrover. Beberapa berpendapat bahwa perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis maupun kepribadian individu.

Lantas, seperti apa kepribadian orang yang banyak bicara? Berikut beberapa kemungkinan yang mungkin mendasari perilaku tersebut, dilansir dari berbagai sumber.

1. Dominan

Beberapa orang yang banyak bicara biasanya mencerminkan kepribadian yang dominan. Mereka ingin selalu mengambil peran dalam interaksi dengan orang lain.

Mereka cenderung ingin menyampaikan pendapat yang ada di benaknya atau menunjukkan sudut pandang mereka terlebih dahulu dibandingkan orang lain.


2. Haus validasi orang lain

Berbicara terlalu banyak biasanya karena seseorang memiliki kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan dan validasi dari lingkungan sekitarnya.

Bagi mereka, respons, pujian, atau persetujuan yang diberikan lawan bicara dapat menjadi sumber rasa percaya diri mereka. Karena itu, percakapan sering dimanfaatkan sebagai cara untuk memastikan bahwa dirinya dihargai, didengar, dan dianggap penting.

3. Kesepian

Dalam beberapa kasus, kebiasaan banyak bicara muncul karena seseorang jarang punya kesempatan untuk berbagi cerita atau mengekspresikan pikirannya saat di rumah, misalnya.

Sehingga, ketika akhirnya di luar rumah bertemu teman atau rekan kerja, mereka bisa berbicara tanpa henti karena merasa ada banyak hal yang ingin disampaikan.

Bagi orang seperti ini, berbicara menjadi bentuk katarsis atau pelepasan emosi. Berbicara menjadi cara bagi mereka untuk meluapkan pikiran, perasaan, dan pengalaman yang sempat tak tersampaikan.


4. Tidak bisa membaca situasi

Sebagian orang tidak menyadari bahwa mereka terlalu banyak berbicara. Mereka mungkin juga sulit menangkap sinyal bahwa lawan bicara mulai kehilangan minat atau ingin merespons balik.

Kurangnya kesadaran ini membuat mereka akan terus berbicara tanpa memberi ruang bagi orang lain. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut tidak melulu egois, hanya saja mereka tidak terbiasa mengenali isyarat yang muncul selama percakapan.


5. Suka mencari perhatian

Kebutuhan untuk merasa diperhatikan juga dapat menjadi alasan seseorang berbicara secara berlebihan. Dengan terus bercerita atau berbicara, mereka berharap mendapat respons dari orang lain.

Bagi mereka, berbicara menjadi cara untuk memastikan keberadaannya diakui dan didengar oleh orang lain.


6. Menutupi rasa cemas

Banyak orang menganggap keheningan adalah suasana yang canggung. Karena itu, mereka memilih terus berbicara untuk mengisi kekosongan dan memecah keheningan.

Obrolan yang tidak berhenti bisa menjadi mekanisme pertahanan diri terhadap tingkat kecemasan yang tinggi, dikutip dari Better Help. Dengan terus berbicara, mereka merasa memiliki kendali atas situasi.


7. Impulsif

Alasan beberapa orang terlalu banyak bicara dikarenakan mereka kesulitan menahan dorongan untuk segera menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Begitu terbersit sesuatu di kepalanya, mereka merasa perlu langsung mengungkapkan saat itu juga.

Sifat impulsif ini sering membuat seseorang menyela pembicaraan, menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan, atau berpindah dari satu topik ke topik lain dengan cepat.

Ditambahkan dari laman Therapy Trainings, dalam beberapa kasus, sifat impulsif dapat berkaitan dengan kondisi tertentu, seperti ADHD, meski secara umum, sifat ini dapat ditemukan pada siapa saja.

(fef) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]