15% Gen Z Bawa Orang Tua Pas Wawancara Kerja, Bahkan Dibantu Nego Gaji

CNN Indonesia
Selasa, 30 Jun 2026 19:15 WIB
Ilustrasi. Berdasarkan survei Zety pada awal 2026, disebutkan Gen Z banyak melibatkan orang tua dalam aktivitas mencari pekerjaan. (istockphoto/Nimito)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mencari pekerjaan kini makin sulit dan Gen Z yang saat ini sedang dalam masa usia produktif, harus merasakan sulitnya mencari pekerjaan.

Namun berdasarkan sebuah survei di AS pada 2026, ditemukan fakta menarik bahwa orang tua tak sekadar mendoakan dan memberi dukungan moral, tetapi juga membantu Gen Z mencari pekerjaan.

Menurut survei dari laporan Career Co-Piloting milik Zety, platform layanan pembuatan CV, ditemukan 15 persen Gen Z ditemani oleh orang tua saat wawancara kerja tatap muka.

Tak cuma di tahap interview, 28 persen bahkan melaporkan orang tua membantu negosiasi gaji, dengan 10 persen di antaranya bernegosiasi langsung, sedangkan 18 persen sisanya hanya memberi nasihat.

Keterlibatan orang tua dalam karier Gen Z

Survei tersebut dilakukan oleh Zety menggunakan Pollfish pada 26 Januari 2026. Dalam survei tersebut, dikumpulkan 1.001 tanggapan dari pekerja usia 18-27 tahun di AS. Sampel terdiri dari 66 persen perempuan, 33 persen laki-laki, dan 1 persen menyatakan non-biner.

Berdasarkan survei tersebut, keterlibatan orang tua dimulai dari tahap lamaran kerja, wawancara, hingga negosiasi gaji. Pada tahap lamaran kerja, sebanyak 44 persen responden mengatakan orang tua turun tangan membuat atau menyunting CV mereka. Adapun 21 persen mengakui dibantu orang tuanya mengontak calon pemberi kerja.

Kemudian pada tahap wawancara kerja, ternyata Gen Z juga mendapat bantuan orang tua. Sebanyak 5 persen responden mengakui orang tua turut serta dalam interview online, 15 persen ditemani saat interview tatap muka, dan sisanya menyatakan interview seorang diri.

Ketika sudah masuk tahap negosiasi gaji dan tunjangan, ternyata ada campur tangan pula dari orang tua. Sebanyak 10 persen responden mengakui orang tua turun tangan langsung bernegosiasi, 18 persen hanya diberikan nasihat, sedangkan 72 persen tidak dibantu orang tua.

Di luar proses perekrutan, sebagian besar responden mengakui orang tua sangat terlibat dalam kehidupan profesional mereka.

Sebanyak 67 persen mendapat nasihat secara rutin dari orang tua terkait keputusan karier. Adapun 56 persen mengakui pernah dikunjungi orang tua di tempat kerjanya.

Meski cukup banyak Gen Z yang mendapat bantuan dari orang tua, 55 persen responden mengatakan mereka merasa malu atau kesal jika orang tua menghubungi atasan tanpa sepengetahuan mereka.

Bagaimana dampaknya?

Keterlibatan orang tua dalam karier anak bisa menjadi variasi lain dari gaya helicopter parenting.

Memang, mengandalkan koneksi yang dimiliki untuk mendapatkan pekerjaan, termasuk koneksi orang tua, merupakan salah satu strategi baik. Namun dari perspektif psikologi, ini bisa jadi merugikan prospek karier juga kesejahteraan mental anak.

"Beberapa perusahaan bahkan akan menolak kandidat jika orang tua menghubungi mereka secara langsung. Ini adalah tanda bahaya yang menunjukkan bahwa orang tersebut belum siap untuk membela diri," kata ahli neuropsikologi berbasis di New York AS, Sanam Hafeez, seperti dikutip dari laman Parents.

Hafeez melanjutkan, keterlibatan orang tua juga dapat diam-diam merusak hubungan dengan anak. Kepercayaan diri anak bisa rusak dan anak bisa mulai tidak jujur pada orang tua hanya untuk menghindari campur tangan dalam kariernya.

Adapun psikiater Ashok Yerramsetti mengingatkan agar hasil survei ini tidak dijadikan acuan untuk mengeneralisasi perilaku Gen Z. Studi tersebut menggunakan sampel yang relatif kecil, sebagian besar perempuan, dan sudah bekerja saat survei dilakukan.

"Hal itu mungkin tidak mencerminkan Generasi Z secara keseluruhan. Namun demikian, pesan yang lebih luas sesuai dengan tren besar yang kita lihat. Kita tahu bahwa remaja Generasi Z memiliki tingkat gangguan kecemasan yang lebih tinggi," ujar Yerramsetti.

Mencari pekerjaan, terutama pekerjaan pertama, bisa menjadi tugas yang penuh tekanan bagi Gen Z. Menurut Yerramsetti, dengan kecemasan yang tinggi di kedua belah pihak, tidak mengherankan jika orang tua kemudian ikut campur dan anak membiarkannya.

[Gambas:Video CNN]

(rti)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK