Ini Efek Vasektomi pada Pria Menurut Ahli, Tak Ganggu Fungsi Seksual

CNN Indonesia
Rabu, 01 Jul 2026 12:00 WIB
Banyak yang khawatir dengan efek vasektomi pada pria, padahal tindakan ini tidak mengganggu fungsi seksual pria sama sekali.
Ilustrasi. Banyak yang khawatir dengan efek vasektomi pada pria, padahal tindakan ini tidak mengganggu fungsi seksual sama sekali. (istockphoto/schlosann)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hingga saat ini vasektomi masih kerap dipandang negatif oleh sebagian masyarakat. Tak sedikit pula yang menganggap prosedur kontrasepsi untuk pria ini sama dengan kebiri, menyebabkan impotensi, atau membuat laki-laki kehilangan kemampuan seksual.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menegaskan, anggapan tersebut hanyalah mitos. Menurut BKKBN, vasektomi tidak memengaruhi fungsi seksual pria, mulai dari libido hingga kemampuan ejakulasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Direktur Bina Akses Pelayanan Keluarga Berencana (KB), Fajar Firdawati, menyampaikan masih banyak kesalahpahaman beredar mengenai vasektomi, sehingga edukasi kepada masyarakat menjadi penting.

"Di masyarakat, mungkin tidak hanya di desa, di perkotaan pun masih menganggap vasektomi itu sama dengan kebiri. Itu juga menjadi salah satu tantangan kita," kata Firda dalam Media Briefing bertema Sinergitas Program: Melibatkan Pria dalam Kesetaraan Reproduksi, Selasa (30/6).

Menurut Firda, pada prosedur vasektomi, dokter hanya memotong dan mengikat saluran sperma atau vas deferens. Testis tetap memproduksi sperma dan hormon testosteron seperti biasa.

"Kalau vasektomi itu hanya salurannya saja yang diikat kemudian dipotong. Supaya sperma yang diproduksi di testis tidak keluar pada saat ejakulasi karena salurannya sudah kita ikat dan kita potong," ujarnya.

Firda menambahkan, sperma tetap diproduksi setelah vasektomi. Namun, sperma tersebut akan diserap kembali oleh tubuh karena jalurnya menuju cairan ejakuasi setelah diputus.

"Dia tetap berproduksi setiap 74 hari sekali, tapi kemudian dia akan diserap kembali oleh tubuh," Firda menjelaskan.

Tidak langsung efektif setelah tindakan

Firda mengatakan salah satu hal yang juga sering disalahpahami, yakni anggapan vasektomi langsung efektif sesaat setelah tindakan.

Pria yang baru menjalani vasektomi masih harus menunggu sekitar tiga bulan hingga prosedur tersebut benar-benar dinyatakan berhasil. Selama masa tunggu tersebut, pasangan tetap dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi lain, seperti kondom.

"Dia memang harus menunggu dulu tiga bulan. Tidak boleh langsung habis vasektomi langsung bisa berhubungan. Dia juga tidak boleh ejakulasi selama tiga hari pascatindakan," ujarnya.

Setelah masa pemulihan awal, pria juga dianjurkan melakukan sekitar 20 kali ejakulasi selama tiga bulan pertama. Langkah ini diperlukan karena masih ada sperma yang tersisa pada bagian saluran di atas lokasi pemotongan.

"Sperma-sperma yang di saluran atas ini masih ada, sehingga harus dilindungi dulu dengan pakai kontrasepsi kondom selama tiga bulan," ucap Firda.

[Gambas:Video CNN]

Tetap bisa ereksi dan ejakulasi

Selain itu, Firda menegaskan vasektomi tidak memengaruhi hormon testosteron sehingga fungsi seksual pria tetap berjalan normal.

"Apakah mengganggu fungsi seksual? Tidak. Hormonnya tidak dipengaruhi, jadi tetap berfungsi seperti biasa," ujarnya.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa pria yang menjalani vasektomi tidak lagi dapat mengeluarkan cairan mani saat ejakulasi. Menurutnya, lebih dari 95 persen cairan ejakulasi diproduksi oleh organ lain di luar testis.

"Mereka tetap mengeluarkan cairan ejakulasi, tapi dia tidak mengandung sperma ketika sudah lebih dari tiga bulan pascavasektomi," Firda menjelaskan.

Adapun vasektomi juga tidak menimbulkan masalah pada libido dan tak menyebabkan disfungsi ereksi. Meski demikian, Firda mengingatkan vasektomi merupakan metode kontrasepsi mantap yang diperuntukkan bagi pasangan yang sudah yakin tidak ingin menambah anak.

"Vasektomi adalah salah satu pilihan kontrasepsi mantap buat mereka yang menganggap sudah cukup anaknya," ucapnya.

Secara medis, saluran sperma memang dapat disambung kembali melalui prosedur rekanalisasi.

Namun, menurut Firda, tindakan tersebut tidak menjadi bagian dari edukasi rutin. Hal ini karena biayanya mahal dan peluang kehamilan dipengaruhi banyak faktor, termasuk lamanya seseorang menjalani vasektomi.

"Memang bisa untuk direkanalisasi, bisa untuk disambung kembali, tapi kami tidak menyosialisasikan vasektomi sebagai metode yang kemudian bisa dikembalikan untuk disambung kembali," tuturnya.

(anm/rti) Add as a preferred
source on Google