5 Kebiasaan Orang Tua yang Bikin Anak Sulit Berkata Maaf
Sulit mengucapkan maaf menjadi salah satu hal yang membuat banyak orang tua bingung. Sebab, kondisi ini dikhawatirkan akan terbawa hingga anak beranjak dewasa.
Sebenarnya, kondisi tersebut bisa dianggap wajar. Mengutip laman Mellownest, alasannya karena anak masih memiliki theory of mind yang belum berkembang secara optimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Theory of mind adalah kemampuan anak untuk memahami sudut pandang, pikiran, dan perasaan orang lain. Sederhananya, kemampuan berempati anak masih dalam tahap perkembangan.
Kemampuan ini umumnya mulai berkembang pada usia sekitar 4 hingga 5 tahun. Maka itu, bila Anda berharap anak yang masih kecil mampu meminta maaf dengan tulus, harapan tersebut belum tentu realistis.
Selain faktor perkembangan, lingkungan juga berperan penting dalam membentuk kebiasaan anak, terutama pola asuh yang diterapkan orang tua. Tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan orang tua yang membuat anak sulit berkata maaf secara tulus.
Kebiasaan orang tua yang membuat anak sulit berkata maaf
Merangkum berbagai sumber, berikut beberapa kebiasaan orang tua yang membuat anak sulit berkata maaf.
1. Tidak memberikan contoh yang baik
Anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat ketimbang apa yang mereka dengar. Jika orang tua jarang mengakui kesalahan atau enggan meminta maaf ketika berbuat salah kepada anak atau mungkin anggota keluarga lainnya, si anak akan menganggap bahwa meminta maaf bukanlah sesuatu yang penting.
Sebaliknya, ketika orang tua berani mengatakan 'maaf' dengan tulus dan memperbaiki kesalahannya melalui tindakan, anak akan memiliki contoh nyata tentang bagaimana bertanggung jawab atas perbuatannya.
2. Tidak berperan sebagai penengah saat terjadi konflik
Ketika anak bertengkar dengan saudaranya atau temannya, sebagian orang tua cenderung langsung memihak atau menyuruh anak meminta maaf tanpa mencari tahu penyebabnya.
Padahal, menurut pendekatan Montessori, peran orang dewasa sebaiknya menjadi penengah yang netral. Orang tua dapat mengajak kedua anak berdiskusi dengan menanyakan apa yang terjadi atau bagaimana perasaan masing-masing.
Cara tersebut mampu membantu anak belajar memahami sudut pandang orang lain sekaligus mengembangkan empati secara natural.
3. Memaksa anak mengucapkan 'maaf' saat itu juga
Banyak orang tua langsung mengatakan, "Ayo bilang maaf sekarang!" ketika anak melakukan kesalahan. Cara itu kurang tepat. Pasalnya, memaksa anak meminta maaf belum tentu membuat mereka memahami arti dari permintaan maaf tersebut.
Anak justru bisa menganggap kata 'maaf' hanya formalitas untuk mengakhiri masalah. Akan lebih baik bila orang tua membantu anak memahami dampak dari perbuatannya terlebih dahulu.
Setelah itu, beri kesempatan kepada anak untuk meminta maaf ketika ia benar-benar mengerti mengapa tindakannya telah menyakiti orang lain.
4. Menggunakan nada keras atau mempermalukan anak di depan orang lain
Apakah Anda sering menggunakan nada keras saat memarahi anak? Atau pernah mempermalukan anak di depan orang banyak?
Ternyata, itu adalah kebiasaan orang tua yang membuat anak sulit berkata maaf. Alasannya, karena anak bisa merasa malu.
Alih-alih menyesali perbuatannya, anak justru lebih fokus pada rasa takut, malu, atau ingin segera keluar dari situasi tersebut. Dampaknya, permintaan maaf yang diucapkan menjadi tak tulus dan hanya bertujuan menghentikan kemarahan orang tua.
5. Langsung menghukum tanpa mengajak anak berdiskusi
Menghukum memang terkadang diperlukan, tapi hukuman sebaiknya bukan menjadi respons pertama setiap kali anak melakukan kesalahan.
Daripada langsung memberikan hukuman, ajak anak berdiskusi mengenai apa yang terjadi, bagaimana perasaan orang yang dirugikan, dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.
Cara itu akan mendorong anak belajar bila meminta maaf bukan sekadar mengucapkan kata 'maaf', tetapi juga bentuk tanggung jawab untuk memperbaiki hubungan.
(san/asr) Add
as a preferred source on Google


