Jangan Anggap Sepele Nyeri Lutut, Bisa Jadi Osteoartritis

CNN Indonesia
Rabu, 01 Jul 2026 04:54 WIB
Woman suffering from pain in knee
Ilustrasi. Awas terkena osteoartritis yang bisa menyebabkan nyeri sendi hingga sulit bergerak. (iStockphoto/bymuratdeniz)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Nyeri lutut sering kali dianggap sebagai hal yang wajar, terutama seiring bertambahnya usia. Padahal, jika rasa nyeri muncul terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut bisa menjadi tanda osteoartritis, salah satu penyakit sendi yang paling banyak dialami masyarakat.

Melansir Cleveland Clinic, osteoartritis (OA) merupakan penyakit degeneratif yang terjadi ketika tulang rawan pada sendi mengalami kerusakan atau penipisan. Padahal, tulang rawan berfungsi sebagai bantalan yang memungkinkan tulang bergerak dengan mulus tanpa saling bergesekan.

Saat bantalan ini rusak, gesekan antartulang akan memicu nyeri, peradangan, hingga kekakuan pada sendi. Lutut menjadi bagian tubuh yang paling sering terkena osteoartritis karena harus menopang berat badan setiap hari saat berdiri, berjalan, berlari, hingga menaiki tangga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejala muncul bertahap

Osteoartritis umumnya berkembang secara perlahan. Pada tahap awal, sebagian orang bahkan belum merasakan keluhan apa pun meski kerusakan tulang rawan sudah mulai terjadi.

Seiring berjalannya waktu, penderita mulai merasakan nyeri pada lutut, terutama saat berjalan, berdiri lama, atau menaiki tangga. Lutut juga terasa kaku setelah bangun tidur atau duduk dalam waktu lama.

Menukil JAMA, selain nyeri, beberapa gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain:

- lutut bengkak

- muncul bunyi berderak atau bergesekan saat digerakkan

- sendi terasa goyah, hingga lutut terkadang seperti terkunci dan sulit digerakkan.

Berdasarkan tingkat keparahannya, osteoartritis dibagi menjadi empat tahap. Pada stadium awal, kerusakan tulang rawan masih ringan dan biasanya belum menimbulkan gejala. Memasuki stadium ringan dan sedang, rasa nyeri mulai muncul disertai kekakuan dan keterbatasan gerak.

Sementara pada stadium berat, bantalan sendi hampir habis sehingga tulang saling bergesekan dan menyebabkan nyeri hebat yang dapat mengganggu mobilitas.

Penyebab dan faktor risiko

Penyebab utama osteoartritis adalah keausan tulang rawan akibat proses penuaan. Namun, ada sejumlah faktor yang dapat mempercepat kerusakan sendi.

Orang dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi karena lutut harus menopang beban tubuh yang lebih besar. Riwayat cedera lutut, aktivitas fisik yang memberikan tekanan berulang pada sendi, kelainan bentuk tungkai, hingga faktor keturunan juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami osteoartritis.

Jika tidak ditangani, osteoartritis dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti melemahnya otot di sekitar lutut, terbentuknya taji tulang, munculnya kista Baker di belakang lutut, hingga gangguan psikologis akibat nyeri kronis yang berkepanjangan.

Bagaimana penanganannya?

Penanganan osteoartritis disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Pada tahap awal, dokter biasanya menyarankan perubahan gaya hidup, seperti menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, menjalani fisioterapi, serta mengonsumsi obat pereda nyeri bila diperlukan.

Namun, ketika kerusakan sendi sudah berat dan terapi konservatif tidak lagi mampu mengurangi keluhan, operasi total knee replacement (TKR) atau penggantian sendi lutut dapat menjadi pilihan.

Perkembangan teknologi juga membuat prosedur ini semakin presisi. Salah satunya melalui CORI Robotic Surgical System, teknologi robotik yang membantu dokter memetakan anatomi lutut pasien secara tiga dimensi saat operasi berlangsung.

Dengan pemetaan tersebut, ukuran dan posisi implan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.Dokter Spesialis Ortopedi Siloam Hospitals Bali, Erwin Saspraditya mengatakan teknologi robotik membantu meningkatkan akurasi operasi penggantian sendi lutut.

"Operasi lutut dengan teknologi robotik ini merupakan langkah besar dalam pelayanan ortopedi modern. Dengan teknologi CORI, proses operasi penggantian sendi lutut menjadi lebih presisi sehingga memungkinkan dokter melakukan pemotongan jaringan lebih minimal, perdarahan lebih sedikit, serta mendapatkan penilaian objektif terhadap kondisi ligamen pasien. Harapannya, pasien memperoleh hasil operasi yang lebih optimal dengan proses pemulihan yang lebih cepat," ujar Erwin dalam keterangannya.

Menurut Erwin, teknologi tersebut juga membantu dokter menentukan ukuran dan posisi implan yang paling sesuai dengan anatomi alami pasien sehingga hasil operasi diharapkan lebih stabil.

Senada, Rosmiaty Tio, Sales Director Advance Treatment Tawada Healthcare, menjelaskan teknologi CORI bekerja dengan memetakan anatomi tulang pasien dalam bentuk tiga dimensi secara langsung saat operasi berlangsung. Dari hasil pemetaan tersebut, dokter dapat merencanakan ukuran dan posisi implan serta menentukan sudut pemotongan tulang secara lebih akurat.

"Teknologi CORI memungkinkan pemasangan implan menjadi lebih akurat dan pelepasan ligamen yang dilakukan saat tindakan menjadi lebih minimal. Dengan demikian, diharapkan proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat dan tingkat kepuasan setelah operasi juga meningkat," kata Rosmiaty.

Ia menambahkan, Tawada Healthcare telah menghadirkan teknologi robotik ortopedi tersebut di sejumlah rumah sakit di Indonesia, termasuk Siloam Hospitals Bali, sebagai upaya menghadirkan pilihan penanganan yang lebih presisi bagi pasien dengan gangguan sendi lutut.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]