Ini 7 Cara Atasi Parenting Burnout, Jangan Lampiaskan Emosi pada Anak
Saat sedang kelelahan, orang tua bisa saja tak sengaja melampiaskan emosi kepada anak. Jika ini terjadi, bukan berarti Anda orang tua yang buruk, bisa jadi Anda mengalami parenting burnout.
Adapun menurut ahli neurologi, Puja Aggarwal, parenting burnout adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang dirasakan seseorang akibat stres kronis ketika mengasuh anak.
Lihat Juga : |
"Hal ini dapat bermanifestasi dengan menjauhkan diri secara emosional dari anak Anda atau mudah tersinggung, yaitu mudah marah," ucap Aggarwal, seperti dikutip dari Healthline.
Nah, bagaimana cara mengatasinya agar tidak melampiaskan emosi kepada anak? Simak selengkapnya di sini.
Cara mengatasi parenting burnout
Jika dibiarkan, parenting burnout dapat memengaruhi kesehatan mental, hubungan dengan pasangan, hingga kualitas kedekatan dengan anak. Begini beberapa cara mengatasinya:
1. Bicarakan dengan pasangan
Langkah pertama untuk mengatasi parenting burnout, yakni terbuka dengan pasangan atau orang terdekat. Jelaskan Anda sedang lelah, kewalahan, atau butuh bantuan. Jangan menunggu sampai emosi memuncak.
Sampaikan kebutuhan secara jelas, misalnya meminta waktu istirahat, berbagi tugas rumah, atau membagi jam jaga anak agar beban terasa lebih ringan.
2. Cukupkan waktu tidur
Tidur sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan kestabilan emosi. Meski sulit, terutama bagi orang tua dengan balita, usahakan tetap memprioritaskan istirahat.
Jika tidak bisa tidur panjang, tidur siang sekitar 20 menit dapat membantu tubuh lebih segar. Tidur yang cukup juga membantu Anda lebih fokus dan lebih tenang saat menghadapi anak.
3. Belajar lebih sabar pada diri sendiri
Mengasuh anak memang penuh tantangan. Rasa frustrasi, lelah, dan gagal sesekali merupakan hal wajar.
Jadi, saat mengalami parenting burnout, jangan memaksakan diri menjadi orang tua sempurna. Ingat, Anda juga manusia yang punya batas. Memberi ruang untuk merasa lelah dan menerima kondisi diri merupakan bagian penting dari pemulihan.
4. Lakukan self-care setiap hari
Self-care tidak harus mahal seperti ke spa atau piknik ke luar kota. Anda bisa mulai dari hal kecil, seperti menarik napas dalam selama dua menit, meditasi, mandi dengan tenang, atau berjalan kaki.
Rutinitas sederhana ini membantu tubuh dan pikiran lebih rileks. Jika dilakukan konsisten, self-care dapat menjadi "rem" agar stres tidak terus menumpuk.
5. Bangun koneksi singkat dengan anak
Tips dari laman Calm, luangkan dua menit perhatian penuh untuk setiap anak setiap hari. Momen singkat ini bisa berupa obrolan, pelukan, atau sekadar mendengarkan cerita mereka tanpa distraksi.
Kebiasaan ini membantu anak merasa diperhatikan dan mengurangi rasa bersalah karena merasa jadi orang tua yang buruk. Anda juga bisa menutup momen itu dengan kalimat sederhana seperti, "Ibu/Ayah senang punya waktu ini dengan kamu."
6. Terapkan batasan gawai yang konsisten
Aturan gawai yang jelas dapat mengurangi pertengkaran di rumah. Buat batasan yang singkat, mudah diingat, dan konsisten, misalnya tidak boleh pakai gawai setelah jam enam sore. Aturan yang stabil membantu anak memahami batasan sekaligus membuat rutinitas lebih tertata.
7. Buat waktu off-duty untuk diri sendiri
Coba atur satu hari khusus setiap minggunya untuk menentukan kapan Anda tak perlu jadi orang tua 'on duty' alias istirahat dari kegiatan parenting. Gunakan waktu tersebut untuk benar-benar istirahat, keluar rumah, atau melakukan hal yang Anda sukai.
Jika memungkinkan, tukar shift jaga anak dengan teman atau keluarga yang bersedia membantu. Waktu off-duty yang disengaja sangat membantu mengurangi tekanan dari parenting burnout dan memulihkan energi.
Mengatasi parenting burnout bukan soal menjadi orang tua yang selalu kuat, tetapi tentang tahu kapan harus berhenti, meminta bantuan, dan merawat diri sendiri. Makin cepat Anda mengatasinya, makin besar peluang untuk menjaga emosi tetap stabil.
(rti)