Kenapa Bisa 'Cepirit' saat HYROX? Bisa Jadi Ini Penyebabnya

CNN Indonesia
Kamis, 02 Jul 2026 11:15 WIB
Ilustrasi. Ada alasan kenapa orang lebih mudah sakit perut saat ikut HYROX. (iStockphoto/pixdeluxe)
Jakarta, CNN Indonesia --

HYROX belakangan menjadi salah satu ajang olahraga yang ramai dibicarakan. Di balik euforia kompetisi tersebut, muncul fenomena lain yang ikut menjadi sorotan, yakni peserta yang mengalami diare atau keinginan buang air besar (BAB) secara mendadak saat berlomba.

Dalam gelaran HYROX di Jakarta baru-baru ini, salah satu alat pertandingan sempat disebut terkena kotoran akibat peserta yang mengalami 'cepirit' di tengah kompetisi.

Fenomena ini sebenarnya bukan sekadar disebabkan oleh kondisi perut yang sedang bermasalah. Dalam dunia medis, keluhan tersebut dikenal sebagai exercise-induced gastrointestinal symptoms, yakni gangguan saluran cerna yang dipicu aktivitas fisik berintensitas tinggi.

Mengutip jurnal Dietetics, kondisi ini juga cukup sering dialami pelari marathon maupun atlet olahraga ketahanan lainnya. Lantas, apa penyebabnya?

1. Aliran darah ke saluran cerna berkurang

Saat berolahraga dengan intensitas tinggi, tubuh memprioritaskan aliran darah ke otot, jantung, paru-paru, dan kulit agar performa tetap optimal. Akibatnya, aliran darah menuju lambung dan usus berkurang secara signifikan.

Kondisi ini dapat mengganggu lapisan pelindung usus, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), hingga memicu keluhan seperti mulas, kram perut, dorongan BAB mendadak, bahkan diare. Para peneliti menyebut mekanisme ini sebagai circulatory-gastrointestinal pathway.

2. Aktivitas sistem saraf simpatis meningkat

Olahraga berat juga mengaktifkan sistem saraf simpatis atau respons fight or flight. Respons ini dapat memengaruhi fungsi saluran cerna sehingga sebagian orang mengalami perut terasa penuh, kembung, sering buang angin, mual, hingga dorongan BAB yang sulit ditahan.

3. Tekanan mekanis pada saluran pencernaan

Setiap langkah saat berlari menghasilkan hentakan yang terus-menerus mengguncang organ di dalam rongga perut. Mengutip studi dalam Frontiers in Nutrition, faktor mekanis ini menjadi salah satu alasan pelari lebih sering mengalami gangguan pencernaan dibandingkan atlet dari cabang olahraga lain.

Pada HYROX, tekanan tersebut bisa menjadi lebih besar karena peserta bergantian melakukan lari dan latihan kekuatan dengan intensitas tinggi.

4. Cuaca panas dan dehidrasi

Saat suhu inti tubuh meningkat, aliran darah ke kulit bertambah untuk membantu proses pendinginan. Kondisi ini membuat suplai darah ke saluran cerna semakin berkurang.

Suhu lingkungan yang panas, kelembapan tinggi, dan kurangnya asupan cairan diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan selama olahraga ketahanan.

5. Salah memilih makanan sebelum bertanding

Asupan sebelum lomba juga berperan besar terhadap kondisi saluran cerna. Makanan tinggi lemak, tinggi serat, tinggi protein, maupun makanan tinggi FODMAP lebih sering dikaitkan dengan keluhan pencernaan saat berolahraga. FODMAP merupakan kelompok karbohidrat rantai pendek yang pada sebagian orang sulit diserap usus sehingga lebih mudah memicu kembung, pembentukan gas, atau diare.

Studi yang dimuat dalam Frontiers terhadap pelari jarak jauh juga menunjukkan bahwa makan kurang dari 30 menit sebelum lomba meningkatkan risiko kembung, sering buang angin, dan dorongan BAB mendadak. Selain itu, minuman energi, gel karbohidrat, maupun strategi hidrasi tertentu juga dapat memicu keluhan pada sebagian orang.

6. Memiliki riwayat gangguan pencernaan

Tidak semua orang memiliki risiko yang sama. Mereka yang memiliki riwayat irritable bowel syndrome (IBS), gastritis, dispepsia, intoleransi laktosa, maupun gangguan saluran cerna lainnya diketahui lebih rentan mengalami gejala saat menjalani olahraga berat.

(anm/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK