Hindari Memilih Jam Penerbangan Terakhir, Pakar Jelaskan Alasannya
Kebanyakan calon penumpang memilih jadwal penerbangan didasarkan pada harga tiket atau waktu yang paling sesuai dengan agenda perjalanan.
Padahal, memilih jam terbang yang tepat bisa mengurangi risiko mengalami gangguan perjalanan, seperti delay, ketinggalan pesawat berikutnya, hingga harus menginap di kota transit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CEO dan pendiri perusahaan penerbangan swasta Blackjet, Dean Rotchin, mengatakan, memilih jadwal keberangkatan adalah salah satu hal yang bisa dipertimbangkan sejak awal.
Ia menyarankan penumpang menghindari penerbangan terakhir di hari itu jika ingin agenda perjalanan lebih lancar. Menurutnya, jadwal penerbangan terakhir memiliki risiko gangguan paling tinggi.
"Penerbangan terburuk untuk dipesan adalah penerbangan terakhir dalam sehari. Penerbangan itu membawa semua dampak keterlambatan dari penerbangan-penerbangan sebelumnya," kata Rotchin, dikutip dari Southern Living.
Lebih lanjut Rotchin menjelaskan, operasional penerbangan bekerja layaknya efek domino. Pesawat, awak kabin, hingga gerbang keberangkatan berjalan berurutan sepanjang hari.
Ketika satu penerbangan mengalami keterlambatan sejak pagi, dampaknya dapat terus berlanjut hingga jadwal-jadwal berikutnya, sampai malam tiba. Menjelang malam, ruang untuk pemulihan sudah habis.
"Pada saat penumpang naik ke pesawat, awak kabin sudah bekerja seharian penuh dan kelelahan sudah mulai terasa di dalam kabin," imbuhnya.
Alasan lainnya, jika penerbangan malam mengalami gangguan atau penumpang kehilangan penerbangan lanjutan, pilihan pengganti biasanya sangat terbatas karena tidak ada lagi jadwal keberangkatan pada hari yang sama.
"Tanpa banyak pilihan cadangan. Satu penerbangan lanjutan yang terlewat bisa membuat penumpang terdampar semalaman di kota yang tidak direncanakan," kata Rotchin.
Di sisi lain, penerbangan paling pagi sering dianggap sebagai pilihan terbaik karena belum terdampak keterlambatan dari jadwal sebelumnya.
Namun Rotchin menilai waktu tersebut pun memiliki kekurangan.
"Keberangkatan pukul 05.00 pagi terdengar bagus sampai Anda menyadari bandara hanya beroperasi dengan jumlah petugas minimum dan nyaris belum ada yang buka. Penumpang naik ke pesawat dalam kondisi mengantuk, mudah kesal, dan tidak siap menghadapi gangguan apa pun," ujarnya.
Menurut Rotchin, pada jam-jam sangat pagi jumlah petugas layanan pelanggan maupun teknisi masih terbatas. Akibatnya, jika muncul masalah teknis, proses penanganannya bisa memakan waktu lebih lama dibandingkan pada siang hari.
Selain jam keberangkatan, hari perjalanan juga memengaruhi kelancaran penerbangan. Rotchin menyebut Jumat sore sebagai salah satu waktu yang paling padat karena menjadi pertemuan antara pebisnis dan wisatawan akhir pekan.
"Penerbangan Jumat sore mempertemukan pelancong bisnis, wisatawan, dan kabin yang penuh karena kelebihan pemesanan. Mereka semua berebut ruang di bagasi kabin," ujarnya.
Ia menyarankan penumpang yang memiliki jadwal fleksibel untuk berangkat pada Kamis atau Sabtu pagi agar perjalanan lebih nyaman.
Sementara itu, penerbangan pada malam menjelang hari libur besar juga sebaiknya dihindari karena bandara biasanya dipadati penumpang dan gangguan kecil, seperti cuaca buruk, dapat memicu keterlambatan yang meluas.
Secara umum, Rotchin menilai jadwal penerbangan pada pertengahan pagi (mid-morning departures) menjadi pilihan paling ideal, yang umumnya dimulai sekitar pukul 09.00 waktu setempat.
Pada rentang waktu tersebut dianggap terbaik karena belum banyak terdampak akumulasi keterlambatan, sementara operasional bandara sudah berjalan optimal.
(fef) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
