Tenggelam dalam Pikat Pesona Goresan Kuas Basoeki Abdullah

Elise Dwi Ratnasari | CNN Indonesia
Sabtu, 04 Jul 2026 17:35 WIB
Lebih dekat dengan maestro lukis Indonesia Basoeki Abdullah dengan bertandang ke Museum Basoeki Abdullah. Selain karya, kamu akan menemukan koleksi benda seni pribadi pelukis yang akrab disapa Pak Bas ini. (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kamu mungkin familiar dengan lukisan "Nyi Roro Kidul" (1950) dan "Maria Assumpta" (1935) alias Bunda Maria 'Jawa'. Kedua lukisan populer ini adalah karya tangan pelukis Basoeki Abdullah. Kamu bisa 'berkenalan' dengan Basoeki dengan bertandang ke Museum Basoeki Abdullah.

Terletak di kawasan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, museum menyimpan lukisan sekaligus benda seni koleksi pribadi Basoeki. Sebelum diresmikan sebagai museum pada 2001, dulu bangunan ini merupakan kediaman sang pelukis.

Dengan tiket seharga Rp5 ribu, kamu dapat menikmati karya-karya Basoeki sekaligus diajak untuk 'mengintip' keseharian pria yang akrab disapa Pak Bas ini.

Gedung terdiri dari tiga lantai. Koleksi berada di lantai 1 dan 2, sedangkan lantai 3 diperuntukkan sebagai aula atau area pameran untuk event tertentu.

Perjalanan dimulai di lantai pertama yang memamerkan kliping publikasi tentang Basoeki. Di sana, ada foto Basoeki bersama maestro lukis Indonesia lain yakni, Affandi dan S. Sudjojono. Foto bertahun 1989 ini mampu menyampaikan bahwa Indonesia sempat memiliki maestro lukis kenamaan pada zamannya.

Kemudian di sisi yang lain, terdapat lukisan wajah tanpa tubuh yang utuh. Rupanya sosok ayu di lukisan itu adalah Ratna Sari Dewi, istri Presiden pertama RI Soekarno yang berdarah Jepang.

Dari sini, sebaiknya lanjutkan perjalanan ke lantai 2. Kamu akan disambut lima panel lukisan berukuran besar di empat sisi ruang.

Lukisan-lukisan ini mengabadikan kepala negara peserta Gerakan Non-Blok pada 1992. Di antara puluhan lukisan kepala, terdapat satu yang dibuat menonjol, yakni kepala Presiden kedua RI Soeharto dengan latar bendera Merah Putih.

Sebelum ke ruangan berikutnya, kamu dapat menemukan alat dan bahan yang digunakan Basoeki untuk menghasilkan karya. Kuas, palet lukis, cat minyak, media lukis, semua tertata rapi terlindung kotak kaca.

Dari Solo ke istana-istana megah dunia

Seni bukan sesuatu yang asing buat Basoeki. Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah pada 1915 ini adalah putra pelukis R. Abdullah sekaligus cucu Dokter Wahidin Sudirohusodo. Ia tumbuh di kota yang memang melahirkan banyak seniman.

Menukil dari hasil penelitian bertajuk Lukisan Potret Basoeki Abdullah, rupanya bakat menggambar itu sudah tampak sejak kecil. Di usia 10 tahun, ia menggambar tokoh Mahatma Gandhi menggunakan pensil di atas kertas. Hasilnya pun terbilang luar biasa untuk anak seusianya.

Salah satu koleksi Museum Basoeki Abdullah. Tangan Basoeki seolah mampu membuat lukisan tokoh terasa hidup. (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)

Bakat ini pun semakin terasah di bangku pendidikan formal. Basoeki mendapat beasiswa untuk belajar di Koninklijke Academic Van Beeldende Kunsten, Den Haag, Belanda pada 1933. Setelah menamatkan studinya, ia mengikuti studi banding di Acdemy of Fine Arts di Paris dan Roma.

Basoeki memang banyak menghabiskan waktunya di luar negeri. Dia sendiri mengaku bahwa karyanya banyak dinikmati bangsa asing sehingga pada 1939 ia mudik ke Indonesia.

Meski demikian, ia tetap menyelenggarakan pameran di luar negeri dan menerima permintaan untuk melukis di beberapa tempat. Sewaktu penobatan Ratu Juliana, Basoeki memenangkan sayembara melukis sang ratu. Lukisan itu pun mejeng di Istana Soestijk.

Lukisan bertajuk "Topeng sebagai Sandiwara Kehidupan". (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)

Karya-karya Basoeki rupanya juga menarik perhatian Raja Bhumibol Aduljadej dan Ratu Mon Raachachawong Sirikit dari Kerajaan Thailand. Dia pun diminta menetap di Bangkok dan melukis untuk keluarga kerajaan.

Tak heran terdapat arsip lukisan Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit juga anggota keluarga kerajaan lainnya di museum.

Selain keluarga Kerajaan Thailand, Basoeki juga pernah melukis keluarga Pangeran Norodam Sihanouk di Kamboja.

Kemudian ia diminta ke Filipina oleh Presiden Ferdinand Marcos dan Imelda Marcos untuk melukis keluarga presiden dan tokoh penting di sana. Pada 1977, ia tinggal di sana selama tiga bulan untuk mengerjakan lukisan.

Beberapa lukisan dapat dinikmati di museum, sementara beberapa karya lain diarsipkan dalam bentuk video. Kamu pun akan menemukan mural dengan wajah Basoeki dan perjalanan karyanya termasuk lukisan ikonik "Nyi Roro Kidul" dan "Maria Assumpta".

Lukisan "Nyi Roro Kidul" jadi koleksi Presiden Soekarno dan kini berada di Istana Kepresidenan. Sementara lukisan "Maria Assumpta" berada di Nijmegen, Belanda.

Koleksi kostum wayang orang dari tokoh Rahwana dan Hanoman milik Basoeki Abdullah. Basoeki pernah menari bersama GRM Dorojatun (Sri Sultan Hamengkubuwono IX). (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)

Di lantai yang sama, kamu akan menemukan benda-benda seni koleksi Basoeki. Yang menarik, terdapat dua set kostum wayang orang yang merupakan kostum tokoh Rahwana dan Hanoman. Tumbuh di lingkungan Kraton Kasunanan Surakarta, Basoeki belajar menari sejak kecil.

Di Yogyakarta, ia pernah menari bersama GRM Dorojatun (Sri Sultan Hamengkubuwono IX) dalam pertunjukan Ramayana.

Ada pula koleksi wayang kulit dari epos Mahabarata dan Ramayana. Basoeki pernah menjadikan wayang sebagai inspirasi lukisan salah satunya dalam lukisan bertajuk "Perkelahian Antara Rahwana dan Jatayu Memperebutkan Dewi Shinta".

Kematian yang memilukan

Sebanyak 5 jam tangan koleksi Basoeki yang bisa diselamatkan dari 43 buah yang dicuri pada 1993. Basoeki meninggal secara tragis akibat pukulan popor senapan angin. (CNN Indonesia/ Elise Dwi R)

Sekilas, perjalanan hidup Basoeki terekam indah dalam karya lukis, potret, juga publikasi di media massa. Namun soal kematiannya, sungguh berbeda 180 derajat.

Basoeki tewas dalam peristiwa pencurian di rumahnya pada 5 November 1993. Si pencuri tertangkap basah masuk ke kamar Basoeki dan sang istri. Karena ketahuan, ia spontan meraih senapan angin lalu memukul kepala Basoeki dengan popor (gagang) senapan.

Sang maestro tak berkutik dan si pencuri menggasak uang Rp200 ribu, 43 koleksi jam tangan, dan sejumlah mata uang asing.

Di lantai 1, kamu akan menemukan kamar yang jadi saksi bisu kematian Basoeki. Di kamar ini, ia beristirahat, membaca, dan berdoa. Tata letak furnitur dan benda-benda lain menyesuaikan kala Basoeki masih hidup, begitu pula dengan perlengkapan di kamar mandi.

Di seberang ruang terdapat senapan angin dengan popor yang retak, kacamata yang dikenakan mendiang, piyama, serta uang. Kemudian ada lima buah jam tangan yang berhasil ditemukan dari 43 jam yang dicuri.

Indonesia kehilangan salah satu seniman terbaiknya. Namun kehadiran museum ini mampu mengabadikan karya sekaligus meretas semangat mereka yang masih muda untuk berkarya.

Mengintip akun Instagram resmi museum, @musbadul, museum bulan ini menyelenggarakan sejumlah gelaran termasuk kelas menggambar untuk mengisi liburan sekolah.

(els)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK