Puncak Kemarau Juli-September, Ini Cara Tetap Sehat saat Cuaca Panas

CNN Indonesia
Sabtu, 11 Jul 2026 17:10 WIB
Berikut langkah menjaga kesehatan selama puncak musim kemarau agar tubuh tetap fit di tengah suhu yang semakin tinggi.
Ilustrasi. Berikut langkah menjaga kesehatan selama puncak musim kemarau agar tubuh tetap fit di tengah suhu yang semakin tinggi. (iStock/Pheelings Media)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau akan berlangsung secara bertahap pada Juli hingga September 2026.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut puncak kemarau pada Juli diperkirakan terjadi di 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah daratan Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini akan meluas pada Agustus menjadi 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan, sebelum kembali berkurang pada September menjadi 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen wilayah daratan.

BMKG pun menyarankan agar para petani mulai menyesuaikan jadwal tanam dan varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan.

"Para petani juga bisa menyesuaikan dengan menanam tanaman hortikultura yang juga cocok pada saat periode kering ini," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena seperti yang dikutip dari detikhealth, Kamis (9/7).

Seiring kondisi cuaca yang kian kering, ancaman kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) pun ikut meningkat. Karena itu, BMKG dan pemerintah daerah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang pelaksanaannya akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi atmosfer.

Operasi ini dilakukan ketika terdapat potensi cuaca yang mendukung, dengan perkiraan aktivitas atmosfer yang bisa berlangsung dalam hitungan jam hingga sekitar 10 hari.

Selain meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan, cuaca yang semakin panas juga bisa berdampak pada kesehatan, mulai dari dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Pemerintah daerah juga diharapkan mekanisme respons cepat untuk antisipasi memburuknya kualitas udara yang berpotensi memicu ISPA," tambah Ardhasena.

Karena itu, menjaga kondisi tubuh selama musim kemarau menjadi hal yang tak kalah penting.

Cara menjaga kesehatan selama puncak musim kemarau

Berikut beberapa langkah menjaga kesehatan selama puncak musim kemarau, yang dapat membantu tubuh tetap fit di tengah suhu yang semakin tinggi.

1. Minum air secara berkala, jangan menunggu haus

Rasa haus sebenarnya merupakan tanda bahwa tubuh sudah mulai kekurangan cairan. Karena itu, usahakan minum air putih secara berkala sepanjang hari meski belum merasa haus.


2. Perbanyak buah dan sayur yang tinggi kandungan air

Selain minum air putih, kebutuhan cairan juga bisa dipenuhi melalui makanan. Buah dan sayuran seperti semangka, melon, mentimun, dan tomat mengandung kadar air yang tinggi sehingga dapat membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi.


3. Tidak semua orang perlu minuman elektrolit

Melansir dari The Times, banyak orang menganggap minuman elektrolit wajib dikonsumsi saat cuaca panas. Untuk aktivitas sehari-hari, air putih biasanya sudah cukup.

Minuman elektrolit lebih dibutuhkan jika seseorang berkeringat berlebihan, melakukan aktivitas fisik berat dalam waktu lama, atau sedang sakit, misalnya mengalami diare dan muntah.


4. Kenakan pakaian yang longgar

Pakaian yang terlalu tebal atau ketat dapat membuat tubuh lebih sulit melepaskan panas. Sebaliknya, pilih pakaian yang longgar dan mudah menyerap keringat agar sirkulasi udara lebih baik dan tubuh tetap nyaman saat beraktivitas.


5. Kurangi aktivitas fisik saat matahari sedang terik

Suhu udara biasanya mencapai puncaknya pada siang hingga sore hari. Karena itu, hindari aktivitas fisik berat pada jam-jam tersebut bila tidak benar-benar diperlukan.

Mengutip dari jurnal Science of The Total Environment, paparan panas berlebihan dapat meningkatkan risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga serangan panas (heat stroke), kondisi yang bisa berbahaya jika tidak segera ditangani.


6. Jangan abaikan rasa pusing dan lemas

Pusing, tubuh terasa lemah, atau sakit kepala saat cuaca panas bisa menjadi tanda awal tubuh mengalami kelelahan akibat panas atau dehidrasi. Jika gejala tersebut muncul, segera hentikan aktivitas dan pindah ke tempat yang lebih sejuk.


7. Cari pertolongan medis bila gejala memburuk

Jangan menunda mencari bantuan medis jika muncul gejala seperti kebingungan, muntah terus-menerus, penurunan kesadaran, atau tubuh terasa sangat panas. Gejala tersebut bisa menjadi tanda kondisi darurat akibat paparan panas yang memerlukan penanganan segera.

BMKG juga mengajak masyarakat untuk ikut mengantisipasi dampak musim kemarau dengan menerapkan penghematan air dalam aktivitas sehari-hari.

Penggunaan air untuk mandi, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya diimbau dilakukan secara bijak. Selain itu, masyarakat diminta memastikan keran air ditutup rapat setelah digunakan agar tidak terjadi pemborosan.

(anm/fef) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]