WHO: 1 dari 5 Orang Berisiko Kanker, Apa Penyebabnya?

CNN Indonesia
Senin, 13 Jul 2026 17:15 WIB
Ilustrasi. 1 dari 5 orang berisiko terkena kanker. (PDPics/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kanker masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi medis dan pengobatan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa risiko penyakit ini justru semakin nyata dan semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

Berdasarkan data International Agency for Research on Cancer (IARC), satu dari lima orang di dunia diperkirakan akan mengalami kanker selama hidupnya. WHO juga menyebut sekitar 92 persen populasi dunia akan terdampak kanker, baik karena mengidap penyakit tersebut maupun memiliki anggota keluarga, teman, atau orang terdekat yang mengalaminya.

Angka tersebut menjadi pengingat bahwa kanker bukan lagi persoalan segelintir orang, melainkan masalah kesehatan global yang dapat menyentuh hampir setiap keluarga.

Laporan GLOBOCAN mencatat terdapat sekitar 20,6 juta kasus kanker baru dan 9,8 juta kematian akibat kanker di seluruh dunia sepanjang 2024. Artinya, hampir 10 juta orang meninggal akibat penyakit ini hanya dalam waktu satu tahun.

Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat. Para peneliti memproyeksikan kasus kanker global mencapai 34,4 juta pada 2050 atau melonjak sekitar 67 persen dibandingkan angka pada 2024.

Menurut WHO, kenaikan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pertumbuhan dan penuaan populasi hingga meningkatnya paparan faktor risiko.

Kanker paru masih menjadi pembunuh nomor satu

Dari berbagai jenis kanker, kanker paru masih menjadi kanker yang paling banyak didiagnosis sekaligus penyebab kematian tertinggi di dunia. Data GLOBOCAN menunjukkan jenis kanker dengan kasus baru terbanyak pada 2024 meliputi:

• Kanker paru: 2,6 juta kasus baru (12,8 persen)

• Kanker payudara: 11,8 persen

• Kanker kolorektal: 9,9 persen

• Kanker prostat: 7,5 persen

• Kanker lambung: 4,8 persen.

Sementara itu, kanker paru juga menjadi penyebab kematian tertinggi dengan sekitar 1,9 juta kematian, atau hampir satu dari lima kematian akibat kanker di dunia.

Dalam laporan tahunannya, WHO juga menekankan bahwa dampak kanker tidak hanya terlihat dari angka diagnosis dan kematian. Banyak pasien harus menghadapi konsekuensi fisik, psikologis, sosial, hingga beban ekonomi yang berat setelah didiagnosis.

"Selama bertahun-tahun, cerita tentang kanker adalah cerita tentang kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi baru, pengobatan baru, dan harapan baru. Cerita itu benar, tetapi bukan keseluruhan cerita," ujar dr. Andre Ilbawi, pemimpin Tim Pengendalian Kanker WHO, seperti dikutip dari The Guardian.

Akses pengobatan masih timpang

WHO juga menyoroti besarnya kesenjangan akses layanan kanker di berbagai negara. Di negara berpendapatan tinggi, sekitar 85 persen pasien kanker payudara dan kanker pada anak dapat bertahan hidup setidaknya lima tahun setelah diagnosis.

Sebaliknya, di negara berpendapatan rendah, angka kelangsungan hidup tersebut kurang dari 30 persen. Ketimpangan juga terlihat dari ketersediaan obat kanker.

WHO mencatat hanya 9-54 persen obat kanker prioritas yang tersedia di negara berpendapatan rendah dan menengah ke bawah. Sementara itu, di negara berpendapatan tinggi, ketersediaannya mencapai 68-94 persen. Bahkan, masih ada 23 negara di dunia yang belum memiliki fasilitas radioterapi sama sekali.

Meningkatnya jumlah penduduk dan harapan hidup membuat semakin banyak orang memasuki usia lanjut, kelompok yang memiliki risiko kanker lebih tinggi.

Namun, faktor gaya hidup juga berperan besar dalam peningkatan kasus kanker. Pola makan yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, penggunaan tembakau, hingga meningkatnya angka obesitas menjadi faktor yang ikut mendorong naiknya risiko penyakit ini.

Karena itu, WHO menegaskan bahwa upaya melawan kanker tidak bisa hanya mengandalkan pengobatan. Pencegahan melalui pola hidup sehat, deteksi dini, serta pemerataan akses layanan kesehatan menjadi langkah penting untuk menekan angka kasus dan kematian akibat kanker.

(tis/tis)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK