10 Cara Mengenali Orang yang Stabil Secara Emosional Lewat Percakapan
Bukan rahasia lagi, punya kestabilan emosional membuat hidup terasa menjadi lebih baik.
Kestabilan emosional pada dasarnya kemampuan seseorang untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan emosi secara sehat sesuai sesuatu yang dihadapi. Bukan berarti tak pernah marah, sedih, atau cemas, namun orang dengan kestabilan emosional mampu mengendalikan respons emosinya.
Kestabilan emosional tak cuma dilihat dari cara mencintai diri sendiri, tapi juga dari cara membangun koneksi yang baik dengan orang lain.
Ciri orang stabil secara emosional dilihat dari kalimat dalam percakapan sehari-hari
Dalam percakapan santai sekali pun, setiap orang akan membangun hubungan yang bermakna. Melansir Your Tango, berikut beberapa kalimat orang yang stabil secara emosional dalam percakapan sehari-hari.
1. 'Saya minta maaf'
Orang yang belum dewasa kerap menghindar dari tanggung jawab saat mereka menyakiti orang lain. Mereka biasanya enggak mengucapkan maaf.
Rasa enggan itu muncul lantaran mereka merasa tak bermaksud buruk pada orang lain. Akhirnya, mereka akan mengabaikan dan meremehkan orang lain.
Sementara orang yang stabil secara emosional akan melakukan sebaliknya. Mereka tak pernah luput berkata 'maaf' meski tak menyakiti siapa pun.
2. 'Kamu tampak sibuk, ada yang bisa saya bantu?'
Orang yang stabil secara emosional tak takut menanyakan apa yang dibutuhkan orang lain, bahkan jika itu mengesampingkan keinginan mereka untuk beberapa saat. Hal ini utamanya akan otomatis terjadi saat ada orang yang tampak sedang mengalami kesulitan.
3. 'Saya tak tahu tentang itu'
Alih-alih terlalu percaya diri atau memperlihatkan sikap tahu akan segalanya, orang yang stabil secara emosional justru akan melakukan sebaliknya.
Mereka nyaman dengan ketidaktahuan. Bagi mereka, ketidaktahuan memungkinkan mereka untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang baik.
4. 'Kamu mungkin benar soal itu'
Orang cerdas akan membiarkan pikiran mereka berubah. Mereka akan terbuka akan pendapat orang lain atau bahkan yang tidak sependapat dengannya. Mereka jarang mencoba memenangkan argumen.
5. 'Saya kecewa, tapi saya mengerti'
Alih-alih menyembunyikan kekecewaan, mereka akan mengungkapkannya tanpa berlebihan, juga dengan pengertian.
Kebiasaan ini berpeluang meningkatkan hubungan menjadi lebih baik. Misal, saat orang membatalkan janji, mereka tak akan mengatakan 'terserah'. Alih-alih begitu, mereka akan mencoba mengungkapkan perasaannya sambil tetap memahami kondisi orang lain.
6. 'Coba ceritakan lebih lanjut tentang itu'
Percaya atau tidak, orang yang paling tidak percaya diri cenderung paling banyak mendominasi percakapan. Mereka perlu merasa diperhatikan dan divalidasi.
Sebaliknya, orang yang stabil adalah biasanya mereka yang pendiam. Alih-alih ikut banyak berbicara, mereka akan memilih untuk mendengarkan dan mencoba memahami.
Mereka akan mendorong orang untuk bercerita lebih banyak tentang apa yang diungkapkan.
7. 'Saya tidak menyukai itu'
Alih-alih membiarkan masalah, orang yang stabil akan mengutarakan ketidaksukaannya dengan gamblang. Mereka tak akan membiarkan rasa kesal itu terpendam dalam waktu lama.
Mereka terbuka dan lugas, bahkan ketika itu bisa menimbulkan ketidaknyamanan.
8. 'Itu masuk akal bagi saya'
Kalimat di atas menggambarkan sebuah dukungan. Orang yang stabil secara emosional biasanya akan memenuhi kebutuhan orang lain dan hadir mendukung tanpa mengharapkan imbalan.
Mereka membantu orang lain merasa dipahami. Mereka mencoba memvalidasi perasaan orang lain, alih-alih memperbaikinya.
9. 'Saya tidak mau membicarakan ini sekarang'
Kalimat di atas memperlihatkan bahwa orang yang stabil secara emosional tahu kapan waktu terbaik untuk membicarakan sebuah masalah. Mereka tak akan bereaksi cepat dalam merespons masalah.
Dari depan, mereka boleh jadi tampak tak peduli. Mereka hanya menghindari pertempuran dan menghemat energi.
10. 'Saya bukan orang yang tepat untuk diajak berbagi hari ini'
Kalimat di atas memperlihatkan sikap bijak. Saat mereka merasa suasana hati sedang buruk, maka mereka tidak akan memaksakan diri.
Sikap itu bukan cara mereka untuk melindungi kedamaian orang lain. Mereka hanya sedang melindungi kedamaian diri mereka sendiri.
Kendati demikian, kalimat-kalimat di atas tak secara saklek menggambarkan pribadi yang matang secara emosional. Banyak faktor lain yang bisa jadi tolok ukur kestabilan emosional seseorang.
(asr)