LAPORAN DARI PARIS

Ronald van der Kemp Ubah Limbah Jadi Couture di Jalanan Paris

Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Kamis, 16 Jul 2026 09:00 WIB
Koleksi teranyar desainer Belanda Ronald van der Kemp dipresentasikan di jalanan Paris saat gelaran Paris Couture Week. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah perdebatan mengenai keberlanjutan dalam industri mode, Ronald van der Kemp kembali membuktikan bahwa couture tidak harus lahir dari material baru untuk terasa mewah.

Untuk koleksi Wardrobe 24, yang dipresentasikan di Paris Couture Week, sang desainer Belanda mengangkat tema 'Vive l'Art'. Ini adalah sebuah manifesto yang menempatkan seni, eksperimen, dan transformasi sebagai inti dari proses kreatifnya.

Show ini bahkan diadakan di sebuah toko kosong, yang berlanjut ke tepi jalan. Kadang diinterupsi oleh warga lokal yang tinggal di sekitar lokasi. Show ini terasa sangat jauh dari kesan couture yang memenuhi ballroom atau karpet merah.

"Bermula dari permukaan, lalu berlanjut ke lapisan yang lebih dalam. Keindahan. Keaslian. Membuat. Menghancurkan. Mengubah," demikian isi show note yang diterima oleh CNNIndonesia.com.

Alih-alih mengejar kesempurnaan yang steril, Van der Kemp justru merayakan apa yang ia sebut sebagai happy accidents, yakni pertemuan tak terduga antara material, tekstur, dan teknik yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru.

Sejak mendirikan label RVDK pada 2014, Ronald van der Kemp memang telah menempuh jalur yang berbeda dibanding sebagian besar rumah couture lainnya. Sebelum membangun labelnya sendiri, ia menghabiskan puluhan tahun bekerja untuk berbagai rumah mode internasional, termasuk Bill Blass, Celine, Guy Laroche, Escada, dan Barbara Bui.

Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mendalam mengenai teknik couture klasik, namun juga kesadaran akan besarnya limbah yang dihasilkan industri fesyen. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi fondasi RVDK.

Koleksi kali ini kembali dibangun sepenuhnya dari deadstock, surplus kain mewah, sisa kulit yang diselamatkan dari proses produksi akhir, aksesori dari pasar loak, hingga material hasil inovasi teknologi. Pendekatan tersebut tidak pernah terasa seperti kompromi. Sebaliknya, Van der Kemp menggunakannya sebagai sumber kreativitas.

Look pembuka menjadi representasi paling jelas. Mantel panjang berwarna merah menyala dipenuhi panel-panel tekstil dengan motif, bordir, dan kilau berbeda yang disusun layaknya kolase. Siluetnya tetap couture dengan bahu dramatis dan pinggang tegas, namun setiap potongan kain memiliki cerita yang berbeda.

Topi merah bertepi panjang menghadirkan nuansa teatrikal yang mengingatkan pada glamor era couture klasik, sementara permainan warna membuat keseluruhan tampilan terasa seperti lukisan abstrak yang hidup.

Koleksi teranyar desainer Ronald van der Kemp yang dipresentasikan di Paris Couture Week. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Eksplorasi kemudian bergeser menuju sisi yang lebih santai. Blus sutera berpotongan longgar dipadukan dengan celana rajut bertekstur kasar dan tas emas yang tampak sengaja belum 'disempurnakan'. Kontras antara kemewahan dan ketidaksempurnaan menjadi bahasa visual yang konsisten sepanjang koleksi ini.

Salah satu penampilan paling menarik datang melalui blazer maskulin yang dihiasi puluhan bros, pin, dan ornamen tiga dimensi hasil proyek RVDK Art Jewellery. Dipadukan dengan dasi berpayet dan denim yang direkonstruksi hingga terbuka di salah satu sisi kaki, tampilannya menghadirkan dialog menarik antara tailoring klasik dan dekonstruksi kontemporer. Celana jins yang biasanya menjadi simbol pakaian sehari-hari diangkat ke ranah couture melalui konstruksi yang kompleks.

Elemen aksesori juga mendapat perhatian besar. Rambut para model dihiasi perhiasan rambut, ornamen bergerak, hingga objek tiga dimensi yang dicetak menggunakan filamen daur ulang dan diperkaya manik-manik sisa produksi, benda temuan yang terlihat acak, serta detail yang dicat dan dipernis secara manual. Semuanya lebih menyerupai karya seni yang dapat dikenakan dibanding aksesori konvensional.

Secara komersial, pendekatan Ronald van der Kemp justru memiliki fondasi yang kuat. Dalam era ketika konsumen ultra-mewah semakin mencari eksklusivitas sekaligus nilai etis, setiap karya RVDK menawarkan sesuatu yang tidak dapat direplikasi. Karena bergantung pada material surplus dan hasil upcycling, hampir mustahil sebuah busana diproduksi ulang secara identik. Kelangkaan tersebut menjadi nilai tambah yang justru sangat relevan bagi klien couture.

Selain itu, RVDK telah berhasil membangun basis pelanggan yang loyal, yang terdiri dari kolektor, selebriti, hingga perempuan yang menginginkan couture dengan narasi yang jelas. Mereka membeli bukan hanya karena siluetnya, tetapi juga karena filosofi di balik setiap potongannya.

Bayangkan ketika Anda mengenakan sebuah gaun, dengan masing-masing elemen dan ornamennya memiliki cerita yang berbeda-beda, yang bisa menjadi bahan obrolan sepanjang malam.

Koleksi teranyar desainer Ronald van der Kemp yang dipresentasikan di Paris Couture Week. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Di saat banyak rumah mode masih memperlakukan keberlanjutan sebagai strategi pemasaran, Van der Kemp menjadikannya fondasi bisnis sejak hari pertama.

Dalam lanskap mode Belanda, Ronald van der Kemp juga berdiri bersama tiga nama lain yang terus mendorong batas keberlanjutan dalam ranah couture: Iris van Herpen melalui inovasi material dan teknologi, Peet Dullaert lewat pendekatan slow fashion yang sangat personal, serta Viktor & Rolf yang selama bertahun-tahun mengeksplorasi konsep transformasi dan rekontekstualisasi busana. Keempatnya menunjukkan bahwa masa depan couture tidak hanya bergantung pada keterampilan tangan, tetapi juga pada kemampuan mendefinisikan kembali nilai sebuah material.

Melalui Wardrobe 24, Ronald van der Kemp menunjukkan bahwa limbah bukanlah akhir dari sebuah benda. Di tangan seorang couturier, ia justru menjadi awal dari kehidupan baru yang lebih bernilai.

(asr/asr)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK