LAPORAN DARI PARIS

Ritual Sunyi Couture Adeline Andre lewat Lembaran Kain

Fandi Stuerz | CNN Indonesia
Jumat, 17 Jul 2026 09:45 WIB
Adeline André mempersembahkan koleksi haute couture terbarunya.
Jauh dari hiruk pikuk perayaan mode, Adeline Andre mempresentasikan koleksi couture-nya di pinggiran Paris. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Di pinggiran Paris, jauh dari gemerlap kota, terdapat sebuah taman yang nyaris terasa seperti tempat ziarah bernama Fondation La Ruche-Seydoux. Di sanalah, Adeline Andre mempersembahkan koleksi haute couture terbarunya. Alih-alih perayaan busana, suasananya lebih menyerupai sebuah ritual.

Diiringi kicauan burung, pepohonan menaungi para tamu di tengah panasnya kota Paris. Para model berjalan perlahan, hampir tanpa ekspresi, seolah tidak sedang mempertontonkan pakaian, melainkan menghadirkan sebuah meditasi tentang tubuh dan kain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang juga mengejutkan adalah reaksi para tamu undangan, yang kali ini hanya berjumlah 25 orang. Setelah hampir setiap penampilan, tepuk tangan terdengar spontan. Dalam dunia haute couture, di mana audiens biasanya menahan apresiasi hingga akhir show, respons semacam itu tergolong langka.

Dimulai di tahun 1970 sebagai asisten Marc Bohan untuk Christian Dior Couture, Adeline Andre mendirikan jenamanya di tahun 1981. Ia kemudian menjadi anggota resmi Chambre Syndicale de la Haute Couture di tahun 1997.

Namun begitu, sulit membicarakan Adeline André dengan pendekatan yang lazim digunakan terhadap rumah mode besar. Sang grand couturier nyaris tidak pernah memberikan wawancara panjang, tidak membangun citra publik berlebihan, dan tidak mengejar sorotan media sosial, bahkan akun Instagram-nya pun privat.

Ia hidup serta bekerja dengan disiplin yang hampir asketis di luar Paris, jauh dari mesin pemasaran yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari industri kemewahan.

Justru karena itulah, namanya memperoleh aura yang nyaris mitologis. Di kalangan couture Paris, André dihormati bukan karena popularitasnya, melainkan karena konsistensi intelektual dan penguasaan teknik yang telah dipertahankannya selama puluhan tahun.

Koleksi musim ini kembali memperlihatkan obsesinya terhadap konstruksi. Mantel dengan tiga lubang lengan, yang ketika dikenakan tampak seperti dua pakaian, dengan luaran yang dari depan terlihat seperti disampirkan, muncul berulang kali. Koleksi ini jauh dari gimmick, melainkan eksplorasi mengenai bagaimana pakaian dapat mengubah cara tubuh bergerak.

Begitu pula gaun dengan lima lubang lengan, potongan bias yang menjadi ciri khas Andre. Ada juga mantel dengan secret buttoning yang menyembunyikan sistem konstruksinya dari pandangan.

Hampir setiap busana tampak sederhana dari kejauhan, tetapi menyimpan kerumitan pola yang hanya dapat dipahami ketika dilihat bergerak bersama pemakainya. Nama-nama model pun ia sebutkan: Laure-Lucile Simon, Masha Romanova, Mandana Bafghinia, Camille Mervin-Leroy.

Adeline André mempersembahkan koleksi haute couture terbarunya.Adeline André mempersembahkan koleksi haute couture terbarunya. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Pilihan material juga memperlihatkan pendekatannya pada konstruksi pakaian yang nyaris spiritual. Wol murni, sutera georgette, viscose rajut tangan, hingga beludru kasmir tampil dalam palet warna yang langka: hijau lumut, absinthe, celadon, kastanye, dan myrtle.

Tidak ada bordir spektakuler, kristal berlimpah, ataupun siluet teatrikal yang lazim ditemukan dalam couture kontemporer. Kemewahan André hadir melalui presisi potongan dan kecerdasan teknik, dan bukan melalui dekorasi.

Yang menarik, dua rancangan rajut tangan dari tahun 1986 kembali dihadirkan berdampingan dengan karya-karya baru.

Bagi André, couture bukanlah tentang pergantian tren setiap musim, melainkan percakapan panjang yang terus berkembang selama puluhan tahun. Sebuah koleksi tidak menghapus koleksi sebelumnya, dan setiap kali ia mengeluarkan koleksi baru (yang tidak terjadi setiap musim), ia memperluasnya.

Pilihan lokasi pun bukan tanpa makna. Fondation La Ruche-Seydoux berdiri di kawasan yang sejak awal abad ke-20 dikenal sebagai tempat berkarya para pelukis dan pematung. Atelier Alfred Boucher sendiri memiliki sejarah panjang sebagai ruang kreatif yang pernah menaungi generasi seniman modern.

Menampilkan couture di sana terasa seperti mengembalikan mode ke lingkungan asalnya, di mana couture bukan sebagai produk konsumsi, melainkan sebagai bagian dari tradisi seni.

Barangkali di sinilah letak perbedaan mendasar antara Adeline André dan sebagian besar desainer masa kini. Ia tidak berusaha membuat pakaian yang 'viral'. Ia membangun sebuah bahasa.

Adeline André mempersembahkan koleksi haute couture terbarunya.Adeline André mempersembahkan koleksi haute couture terbarunya. (CNN Indonesia/Fandi Stuerz)

Karyanya memang dapat terasa sangat Prancis, bukan dalam arti romantis yang sering diasosiasikan dengan Paris, melainkan dalam tradisi intelektual yang menempatkan proses berpikir setara dengan hasil akhir.

Di tangannya, pola, volume, dan konstruksi menjadi medium refleksi sebagaimana kanvas bagi seorang pelukis atau batu bagi seorang pematung.

Pendekatan semacam ini memang mudah dianggap terlalu konseptual atau bahkan elitis. Namun justru, karena couture pada dasarnya merupakan laboratorium tertinggi dalam dunia mode, keberadaan sosok seperti André menjadi penting. Ketika banyak rumah mode semakin dekat dengan logika hiburan dan pemasaran global, ia tetap mempertahankan keyakinan bahwa pakaian dapat menjadi objek penelitian artistik.

Bahkan detail kecil dalam show note seolah mengundang pembacaan semacam itu. Daftar tampilan di show note melompat dari nomor 12 langsung ke 14, tanpa nomor 13. Tidak ada penjelasan resmi apakah ini kesalahan cetak atau keputusan yang disengaja.

Mengingat reputasi André yang terkenal sangat teliti, sulit mengabaikan kemungkinan bahwa absennya angka tersebut merupakan isyarat simbolik, seakan ia membuat sebuah ruang kosong yang sengaja dibiarkan terbuka untuk ditafsirkan. Namun, sebagaimana seluruh karya Adeline André, mungkin memang tidak ada jawaban tunggal yang perlu dicari.

Di tengah industri yang semakin bising, Adeline André justru memilih diam. Dan barangkali, karena kesunyian itulah, setiap langkah model, setiap lipatan kain, dan setiap tepuk tangan terdengar jauh lebih nyaring.

(asr/asr) Add as a preferred
source on Google