Jetlag Terasa Lebih Parah Kalau Terbang ke Arah Timur, Ini Alasannya

CNN Indonesia
Senin, 20 Jul 2026 00:01 WIB
Terbang ke arah timur ternyata bikin jetlag lebih parah karena lebih mengganggu ritme sirkadian manusia.
Ilustrasi. Terbang ke arah timur ternyata bikin jetlag lebih parah karena lebih mengganggu ritme sirkadian manusia. (istockphoto/kieferpix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Moda transportasi pesawat memang paling banyak dipilih penumpang untuk perjalanan antarpulau bahkan antarbenua karena lebih cepat. Namun ketika kita melanglang buana ke negeri yang jauh, durasi perjalanan jadi lebih lama.

Tubuh pun perlu beradaptasi dengan perbedaan waktu yang cukup besar. Akibatnya, banyak orang mengalami jetlag yang membuat badan lelah, tidur berantakan, dan suasana hati ikut terganggu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menariknya, arah penerbangan ternyata ikut memengaruhi seberapa parah jetlag yang dirasakan. Itulah mengapa ada orang yang merasa dirinya jauh lebih 'kacau' setelah terbang ke timur dibanding ke barat.

Mengapa jetlag ke arah timur terasa lebih parah?

Menurut penelitian dari University of Maryland School of Medicine yang dikutip dari laman Islands, terbang ke arah timur cenderung membuat jetlag lebih berat dibanding terbang ke arah barat. Alasannya, tubuh lebih kesulitan menyesuaikan diri saat harus berpindah ke zona waktu yang lebih awal.

Di dalam tubuh, ada yang disebut ritme sirkadian atau jam biologis. Sistem ini diatur oleh bagian otak bernama SCN (suprachiasmatic nucleus), yang mengendalikan siklus tidur-bangun, tingkat kewaspadaan, serta respons tubuh terhadap terang dan gelap. Cahaya pagi memberi sinyal bahwa saatnya bangun, sedangkan gelap malam memberi tanda bahwa tubuh harus bersiap tidur.

Ketika ritme sirkadian terganggu oleh jetlag, tubuh jadi tidak sinkron dengan waktu di lingkungan baru. Akibatnya, seseorang bisa sulit tidur malam, sulit tetap segar di siang hari, dan merasa seperti berkabut atau tidak fokus. Inilah yang membuat jetlag terasa sangat mengganggu, terutama setelah penerbangan jauh.

Para ilmuwan dari University of Maryland kemudian membuat model matematika untuk meniru kerja sederhana dari jam sirkadian. Hasilnya menunjukkan, sel SCN yang bertugas menjaga ritme tubuh menyesuaikan diri lebih lambat saat perjalanan ke timur.

Sebaliknya, tubuh lebih mudah menyesuaikan diri saat perjalanan ke barat karena hari terasa lebih panjang dan waktu tidur bisa ditunda.

Berapa lama jetlag bakal berlangsung?

Durasi jetlag sebenarnya berbeda-beda tergantung arah perjalanan. Menurut laman Timeshifter, jika kita terbang ke barat, jetlag umumnya berlangsung sekitar satu hari untuk setiap zona waktu yang dilewati.

Sebaliknya, untuk perjalanan ke timur, jetlag bisa berlangsung sekitar 1,5 hari per zona waktu atau bahkan lebih.

Contohnya, perjalanan 6 jam ke barat mungkin bisa pulih dalam sekitar 6 hari. Namun, perpindahan dengan durasi yang sama ke arah timur bisa membuat tubuh butuh 8 hingga 10 hari untuk benar-benar menyesuaikan diri.

Itulah sebabnya banyak penumpang yang merasa jetlag lebih berat setelah pulang dari negara yang letaknya di timur.

Kabar baiknya, ada cara untuk membantu tubuh pulih lebih cepat dari jetlag. Salah satu cara paling efektif, yakni mengatur paparan cahaya. Cahaya menjadi alat terkuat untuk menyetel ulang jam biologis tubuh, tetapi waktunya harus tepat.

Untuk perjalanan ke timur, tubuh biasanya perlu mendapat cahaya di pagi hari dan menghindari cahaya terang di malam hari agar jam biologis maju lebih cepat.

Sebaliknya, saat terbang ke barat, paparan cahaya di sore atau malam hari bisa membantu tubuh menunda waktu tidur, sedangkan cahaya di pagi hari sebaiknya dibatasi. Dengan pengaturan cahaya yang tepat, adaptasi tubuh bisa dipercepat, sehingga efek jetlag tidak berlangsung terlalu lama.

Jetlag memang umum terjadi setelah penerbangan jauh, tetapi ternyata arah perjalanan sangat menentukan tingkat keparahannya. Dengan memahami perbedaannya, Anda bisa lebih siap mengatur tidur, cahaya, dan waktu istirahat saat bepergian.

(rti) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]