Pembalut Bekas Perlu Dicuci Dulu atau Langsung Dibuang? Ini Kata Studi

CNN Indonesia
Sabtu, 18 Jul 2026 16:50 WIB
Ilustrasi. Pembalut sekali pakai sebenarnya perlu dicuci terlebih dahulu atau tidak sebelum dibuang? Begini anjuran terbaiknya dari sisi kesehatan. (Istockphoto/LexCollection)
Jakarta, CNN Indonesia --

Belakangan, media sosial kembali ramai memperdebatkan satu kebiasaan yang mungkin selama ini dianggap sepele: haruskah pembalut sekali pakai dicuci terlebih dahulu sebelum dibuang?

Sebagian orang beranggapan pembalut bekas sebaiknya dicuci hingga bersih karena dianggap lebih sopan atau higienis.

Di sisi lain, tak sedikit yang memilih langsung membuangnya setelah dibungkus tanpa dicuci. Lantas, mana yang sebenarnya dianjurkan dari sisi kesehatan?

Merujuk World Health Organization (WHO) tentang kesehatan menstruasi, pembalut sekali pakai tidak perlu dicuci sebelum dibuang. Yang terpenting adalah membuangnya dengan benar sesuai jenis produknya.

WHO menyebut bahwa pengelolaan produk menstruasi perlu disesuaikan dengan jenis produk yang digunakan.

Untuk pembalut sekali pakai (disposable sanitary pad), setelah digunakan produk cukup dibungkus agar darah tidak terlihat dan tidak mencemari lingkungan sekitar, kemudian dibuang ke tempat sampah.

Sementara itu, pembalut yang memang dirancang untuk dipakai berulang kali (reusable pad) memiliki prosedur berbeda. Produk tersebut perlu dicuci hingga bersih, dikeringkan sampai benar-benar kering, lalu dapat digunakan kembali.


Kenapa banyak orang tetap mencuci pembalut?

Meski tidak dianjurkan secara khusus, praktik mencuci pembalut sekali pakai ternyata masih cukup umum dilakukan di Indonesia.

Mengutip penelitian bertajuk A Study on Menstrual Hygiene Management in West Java, Indonesia, hampir seluruh responden terbiasa mencuci pembalut sekali pakai sebelum membuangnya.

Dalam satu kali pencucian, responden rata-rata menggunakan sekitar 3 hingga 5 liter air untuk setiap pembalut. Para peneliti menyebut kebiasaan tersebut umumnya bukan dilakukan karena alasan medis atau kesehatan.

Praktik tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh norma budaya, kebiasaan yang diwariskan dalam keluarga, hingga rasa sungkan apabila pembalut yang penuh darah menstruasi ditemukan orang.


Tidak terbukti lebih higienis

Penelitian yang sama pun menyoroti bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan mencuci pembalut sekali pakai memberikan manfaat kesehatan tambahan dibanding langsung membuangnya.

Kebiasaan tersebut justru berpotensi meningkatkan konsumsi air bersih dalam jumlah yang cukup besar apabila dilakukan secara rutin oleh jutaan perempuan.

Karenanya, peneliti menilai edukasi mengenai pengelolaan limbah menstruasi perlu lebih diperkuat agar masyarakat memahami perbedaan antara pembalut sekali pakai dan pembalut pakai ulang.

Berdasarkan pedoman WHO, pembalut sekali pakai dapat dibuang dengan langkah berikut:

Untuk pembalut kain atau produk menstruasi yang memang dibuat untuk digunakan kembali perlu dicuci menggunakan air dan sabun, lalu dikeringkan hingga benar-benar kering sebelum dipakai lagi.

Jika yang digunakan adalah pembalut sekali pakai, tidak ada kewajiban untuk mencucinya terlebih dahulu sebelum dibuang. Yang jauh lebih penting adalah memastikan pembalut dibungkus dengan baik dan dibuang pada tempat sampah yang semestinya.

(anm/fef)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK