Kebiasaan 'Kretek' Leher untuk Usir Pegal bisa Picu Stroke, Benarkah?

CNN Indonesia
Selasa, 21 Jul 2026 09:45 WIB
Tak sedikit orang yang percaya bahwa sering meregangkan leher ke kiri dan kanan hingga berbunyi 'krek' bisa memicu stroke.
Ilustrasi. Tak sedikit orang yang percaya bahwa sering meregangkan leher ke kiri dan kanan hingga berbunyi 'krek' bisa memicu stroke. (Istockphoto/South_agency)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tak sedikit orang yang percaya bahwa sering meregangkan leher ke kiri dan kanan hingga berbunyi 'krek' bisa memicu stroke. Benarkah demikian?

Hal ini pun jadi percakapan di media sosial. Seorang pengguna Instagram mengabarkan bahwa mengenai seorang perempuan yang terkena stroke lantaran sering meregangkan leher dengan cara yang sama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebiasaan 'kretek' leher ini memang sering dilakukan banyak orang saat tubuh, utamanya kepala dan leher, terasa pegal. Bunyi 'kretek' yang dihasilkan memang bisa menimbulkan sensasi rileks, meski hanya sesaat.

Benarkah 'kretek' leher bisa picu stroke?

Faktanya, beberapa kasus stroke memang ditemukan bermula dari kebiasaan meregangkan leher hingga berbunyi 'kretek'.

Seorang perempuan asal Amerika Serikat, KayLynne Felthager mengalami stroke usai meregangkan lehernya. Ia memang terbiasa membunyikan persendian leher saat sakit kepala akan menyerang.

Mengutip People, suatu hari ia mencoba membunyikan persendian lehernya. Awalnya ia merasa lega, namun perlahan ia merasakan nyeri tajam dan hebat yang menjalar ke leher dengan cara yang tidak biasa.

Rasa sakit itu tak kunjung hilang selama beberapa hari setelahnya hingga ia juga kesulitan menggerakkan kepalanya. Sampai pada suatu titik, ia menyadari bahwa dirinya tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.

Dari sana, pemeriksaan dilakukan. Dokter mendiagnosisnya terkena serangan stroke.

Kebiasaan membunyikan persendian leher sering kali dianggap sepele dan tidak berbahaya. Meski jarang terjadi, dokter saraf Priyam Bordoloi menegaskan, kebiasaan itu memang bisa memicu stroke yang berisiko mengancam jiwa.

"Leher berisi arteri karotis dan arteri vertebralis yang membawa darah ke otak. Putaran tiba-tiba dan kuat terkadang dapat merobes lapisan dalam arteri ini," jelas Bordoloi, mengutip The Economic Times.

Cedera tersebut dapat menyebabkan robekan pada dinding arteri, darah menggumpal di dalam dinding pembuluh, pembekuan darah, gumpalan darah yang menuju otak, hingga penyumbatan aliran darah.

[Gambas:Video CNN]

Diseksi arteri serviks, menurut Bordoloi, jadi salah satu penyebab utama stroke pada orang-orang sehat di bawah usia 45 tahun. Diseksi arteri serviks sendiri disebabkan oleh trauma atau tekanan berat pada leher, seperti kebiasaan membunyikan persendian leher.

Bordoloi mengingatkan agar tidak memaksakan untuk membunyikan persendian leher. Pasalnya, tulang belakang dan pembuluh darah di leher harus ditangani dengan hati-hati.

Tanda-tanda peringatan stroke

Bordoloi meminta masyarakat untuk mengingat tanda-tanda peringatan stroke. Berikut di antaranya:

- salah satu sisi wajah tampak terkulai atau senyum tidak simetris;
- kelemahan atau mati rasa mendadak pada salah satu lengan;
- bicara cadel atau sulit berbicara.

Segera cari perawatan media jika mengalami beberapa gejala di atas. Jangan menunggu gejala membaik.

(asr) Add as a preferred
source on Google