Studi Ungkap Pentingnya Integrasi Kesehatan Mental dan Metabolik

CNN Indonesia
Minggu, 19 Jul 2026 20:13 WIB
Ilustrasi gangguan mental
Ilustrasi. Penanganan skizofernia perlu dibarengi dengan pengobatan penyakit metabolik. (iStock/kumikomini)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perawatan pasien skizofrenia kini tak lagi hanya berfokus pada pengendalian gejala kejiwaan. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, para ahli menilai kesehatan fisik, terutama kondisi metabolik, juga perlu menjadi perhatian utama dalam proses pengobatan.

Pandangan ini muncul karena banyak penelitian menunjukkan bahwa pasien skizofrenia memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas, prediabetes, diabetes melitus tipe 2, hingga penyakit jantung. Risiko tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola hidup, perubahan metabolisme, hingga efek samping obat antipsikotik generasi kedua yang dapat memicu kenaikan berat badan.

Temuan terbaru yang dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry semakin menguatkan pentingnya pendekatan tersebut. Dalam uji klinis bertajuk The HISTORI Randomized Clinical Trial, peneliti menemukan bahwa kondisi metabolik pasien skizofrenia dapat diperbaiki tanpa mengganggu stabilitas kesehatan mental mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian melibatkan 154 pasien berusia 18-60 tahun yang didiagnosis skizofrenia atau gangguan terkait. Seluruh peserta menjalani terapi antipsikotik generasi kedua serta mengalami prediabetes dan obesitas atau kelebihan berat badan.

Selama 30 minggu, peserta secara acak menerima semaglutide dosis 1 miligram atau plasebo, sementara terapi antipsikotik tetap dilanjutkan. Hasilnya, kelompok yang mendapat semaglutide mengalami penurunan berat badan rata-rata hingga 9,21 kilogram. Kadar HbA1c, yang menjadi indikator pengendalian gula darah, juga turun sebesar 0,46 persen.

Tak hanya itu, 81 persen peserta pada kelompok semaglutide berhasil mencapai kadar HbA1c normal di bawah 5,7 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok plasebo yang hanya mencapai 19 persen.

Peneliti juga mencatat adanya perbaikan profil lemak darah, seperti meningkatnya kolesterol baik (HDL) dan menurunnya kadar trigliserida. Kondisi ini diikuti dengan peningkatan kualitas hidup dari sisi kesehatan fisik.

Gejala kejiwaan tetap stabil

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah apakah perbaikan kondisi metabolik dapat memengaruhi stabilitas kesehatan mental pasien. Hasilnya cukup melegakan. Selama penelitian berlangsung, tidak ditemukan adanya perburukan gejala skizofrenia maupun penurunan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesehatan mental.

Temuan ini menunjukkan bahwa penanganan gangguan metabolik dapat dilakukan bersamaan dengan terapi utama skizofrenia, tanpa mengganggu kondisi psikiatri pasien yang diteliti.

Hasil studi ini memperkuat pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam merawat pasien skizofrenia. Penanganan tidak hanya melibatkan psikiater, tetapi juga dapat melibatkan dokter penyakit dalam atau endokrinolog, ahli gizi, psikolog, hingga perawat sesuai kebutuhan pasien.

Dengan pemantauan berat badan, kadar gula darah, tekanan darah, dan profil lipid secara rutin, risiko penyakit kronis dapat dideteksi lebih dini sehingga penanganannya menjadi lebih optimal.

Pendekatan ini juga dinilai mampu meningkatkan kualitas hidup pasien karena perhatian tidak hanya tertuju pada kesehatan mental, tetapi juga kesehatan fisik yang sama pentingnya.

Temuan ini menjadi relevan bagi Indonesia yang tengah menghadapi peningkatan kasus obesitas dan diabetes. Di sisi lain, layanan kesehatan jiwa di Tanah Air juga terus berkembang menuju pendekatan yang lebih menyeluruh.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa studi ini bukan menilai semaglutide sebagai obat untuk skizofrenia. Obat tersebut digunakan untuk memperbaiki kondisi metabolik pada pasien yang sedang menjalani terapi antipsikotik.

Di Indonesia, semaglutide dipasarkan oleh Novo Nordisk dalam dua produk dengan indikasi berbeda, yakni Ozempic untuk diabetes melitus tipe 2 dan Wegovy untuk manajemen berat badan sesuai indikasi yang telah disetujui. Keduanya merupakan obat resep yang hanya boleh digunakan berdasarkan penilaian dokter.

Penelitian ini juga memiliki keterbatasan karena hanya berlangsung selama 30 minggu dan dilakukan pada kelompok pasien tertentu. Meski demikian, hasilnya memberikan pesan penting bahwa keberhasilan perawatan pasien skizofrenia tidak hanya ditentukan oleh terkendalinya gejala kejiwaan, tetapi juga oleh pengelolaan kesehatan metabolik secara terpadu. Pendekatan inilah yang dinilai dapat mendukung kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]