Ibu-ibu Terinspirasi MPASI dari Menu Haaland, Ini Wanti-wanti Dokter

CNN Indonesia
Senin, 20 Jul 2026 17:15 WIB
Warganet berseloroh menu makan Erling Haaland bisa dijadikan inspirasi MPASI.
Ilustrasi. Warganet berseloroh menu makan Erling Haaland bisa dijadikan inspirasi MPASI. (istockphoto/PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menu makan penyerang Manchester City Erling Haaland belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Bukan hanya karena porsinya yang jumbo, tetapi juga karena warganet mulai berseloroh soal menu tersebut cocok dijadikan inspirasi makanan pendamping ASI (MPASI).

"Mamanya Haaland gamau bagi-bagi tips MPASI sama makannya kah? Ni bocah dimakanin apa pas kecil," tulis salah satu pengguna Threads.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komentar lain bernada serupa berbunyi, "Ibu-ibu MPASI saat ini, 'Makan yang bener biar kaya Haaland', 'Minum susu biar kaya Haaland', 'Ayo rajin olahraga jangan males biar kaya Haaland'."

Dokter spesialis gizi Johanes Chandrawinata mengingatkan, kebutuhan gizi atlet profesional sangat berbeda dengan kebutuhan bayi maupun orang dewasa pada umumnya.

Johanes merinci, pola makan Haaland umumnya memiliki kandungan protein tinggi, karbohidrat, dan lemak sehat.

"Meski terlihat bergizi, komposisi ini disusun berdasarkan kebutuhan fisiologis seorang atlet, bukan bayi yang baru mulai mengenal makanan pendamping," jelas Johanes kepada CNNIndonesia.com, Senin (20/7).

Johanes menjelaskan bahwa MPASI merupakan makanan pendamping ASI yang diberikan kepada bayi berusia enam bulan ke atas untuk melengkapi kebutuhan gizi yang sudah tidak lagi dapat dipenuhi hanya dari ASI atau susu formula.

Karena sistem pencernaan bayi masih berkembang, pemberian MPASI harus dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan bayi mengolah makanan. Tahapannya meliputi:

- Usia 6-8 bulan: makanan bertekstur lumat seperti puree atau bubur kental.
- Usia 9-11 bulan: makanan cincang halus, cincang kasar, atau finger food.
- Usia 12-23 bulan: bayi mulai mengonsumsi makanan keluarga dengan potongan yang sesuai.

Dengan kebutuhan yang berbeda tersebut, bayi tidak memerlukan makanan berkalori sangat tinggi seperti yang dikonsumsi Haaland.

Terlalu banyak protein justru tidak baik

Johanes juga mengingatkan bahwa memberikan asupan kalori dan protein secara berlebihan kepada bayi bukanlah pilihan yang tepat.

"Asupan kalori dan protein berlebihan pada bayi tidak baik karena risiko overweight dan obesitas meningkat dengan tingginya asupan protein hewani dan protein total," ujarnya.

Selain itu, asupan protein berlebih juga membuat ginjal harus bekerja lebih keras untuk menyaring sisa metabolisme.

Tak hanya itu, konsumsi protein yang terlalu tinggi juga berpotensi mengganggu keseimbangan asupan zat gizi lain.

"Dapat terjadi gangguan nutrisi karena makan banyak protein menyebabkan asupan zat gizi lainnya yang penting untuk pertumbuhan otak dan energi seperti lemak sehat, zat besi, dan karbohidrat berkurang," lanjut Johanes.

Boleh meniru prinsipnya, bukan porsinya

Meski tidak menyarankan masyarakat mengikuti menu Haaland secara utuh, Johanes mengatakan ada beberapa prinsip pola makan sang pesepakbola yang tetap bisa dijadikan inspirasi.

Prinsip tersebut di antaranya adalah memilih makanan alami atau whole foods, memenuhi kebutuhan protein sesuai aktivitas fisik, rutin mengonsumsi buah dan sayur, tidur yang cukup, serta menyeimbangkan asupan energi dengan aktivitas sehari-hari.

Karena itu, meski candaan soal 'MPASI ala Haaland' ramai bermunculan di media sosial, orang tua tetap sebaiknya mengikuti rekomendasi pemberian MPASI sesuai usia, kebutuhan gizi, dan kemampuan pencernaan bayi.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google