7 Ciri Orang yang Sulit Percaya Orang Lain, Apa Kamu Salah Satunya?

CNN Indonesia
Sabtu, 25 Jul 2026 15:05 WIB
Ciri orang yang sulit percaya orang lain.
Ilustrasi. Ciri orang yang sulit percaya orang lain. (iStockphoto/AntonioGuillem)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepercayaan menjadi fondasi penting dalam setiap hubungan, baik dengan pasangan, keluarga, teman, maupun rekan kerja.

Ketika rasa percaya mulai berkurang, hubungan dapat dipenuhi keraguan, kecemasan, serta kesulitan dalam membangun kedekatan emosional. Berikut ciri orang yang sulit percaya orang lain yang perlu dikenali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada dasarnya, rasa percaya tidak terbentuk dalam semalam. Pengalaman buruk seperti dikhianati, dibohongi, atau mengalami hubungan yang tidak sehat dapat membuat seseorang lebih berhati-hati terhadap orang lain.

Sikap tersebut sebenarnya merupakan bentuk perlindungan diri, tetapi jika berlangsung terus-menerus, kualitas hubungan sosial dapat ikut terdampak.

Akibatnya, seseorang menjadi sulit membuka diri dan selalu mempertanyakan niat baik orang lain.

Ciri orang yang sulit percaya orang lain

Dikutip dari Get Nebbi, berikut ciri orang yang sulit percaya orang lain yang paling umum.

1. Selalu mencurigai niat orang lain

Salah satu tanda paling jelas adalah munculnya rasa curiga yang berlebihan, bahkan ketika tidak ada alasan yang kuat. Orang dengan masalah kepercayaan sering kali menganggap tindakan baik orang lain memiliki maksud tersembunyi.

Mereka cenderung terus mengawasi ucapan, pesan, maupun perilaku seseorang untuk mencari kemungkinan adanya kebohongan atau pengkhianatan. Pola pikir seperti ini membuat hubungan terasa tidak nyaman karena dipenuhi prasangka.

2. Sulit membuka diri dan berbagi cerita pribadi

Membangun hubungan yang sehat membutuhkan keberanian untuk bersikap terbuka. Namun, orang yang sulit percaya biasanya enggan membagikan pengalaman, perasaan, atau masalah pribadinya.

Mereka khawatir informasi tersebut akan digunakan untuk menyakiti atau merugikan dirinya di kemudian hari. Akibatnya, hubungan yang terjalin sering kali hanya berada di permukaan dan tidak berkembang menjadi lebih dekat.

3. Terlalu sering menganalisis setiap tindakan orang lain

Setiap pesan yang terlambat dibalas, perubahan nada bicara, atau sikap yang sedikit berbeda bisa menjadi bahan pemikiran yang berlebihan. Mereka berusaha mencari makna tersembunyi di balik setiap tindakan orang lain.

Kebiasaan overthinking ini membuat seseorang lebih mudah menyimpulkan hal-hal negatif tanpa bukti yang cukup. Dalam banyak kasus, kecemasan tersebut justru berasal dari pengalaman buruk di masa lalu, bukan dari situasi yang sedang dihadapi.

4. Mengakhiri hubungan sebelum semakin serius

Orang yang memiliki masalah kepercayaan sering kali memilih menjauh sebelum hubungan berkembang lebih dalam. Mereka merasa lebih aman mengakhiri hubungan lebih dulu daripada berisiko mengalami kekecewaan atau pengkhianatan.

Baik dalam hubungan pertemanan maupun percintaan, keputusan ini biasanya didorong oleh rasa takut untuk menjadi rentan secara emosional.

5. Selalu membutuhkan kepastian dan validasi

Karena sulit mempercayai orang lain, mereka kerap meminta kepastian secara berulang. Misalnya, terus mempertanyakan keseriusan pasangan, meminta penjelasan atas hal-hal kecil, atau merasa cemas ketika tidak segera mendapat respons.

Kebutuhan akan validasi yang berlebihan dapat membuat hubungan menjadi melelahkan bagi kedua belah pihak. Padahal, rasa percaya seharusnya dibangun melalui konsistensi, bukan sekadar kata-kata.

6. Sulit merasa aman dalam sebuah hubungan

Seseorang yang memiliki masalah kepercayaan sering merasa hubungan yang dijalaninya tidak benar-benar aman. Mereka selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, seperti ditinggalkan, dibohongi, atau dikhianati.

Perasaan tersebut membuat mereka sulit menikmati hubungan yang sedang berjalan karena lebih fokus pada kemungkinan kegagalan daripada membangun kedekatan.

7. Menjaga jarak secara emosional

Kemudian, mereka cenderung menjaga jarak emosional. Meski tampak akrab di permukaan, mereka sebenarnya enggan menunjukkan perasaan yang sebenarnya.

Mereka merasa bahwa menjaga jarak adalah cara terbaik untuk melindungi diri dari rasa sakit jika suatu saat hubungan tersebut berakhir. Sayangnya, sikap ini justru membuat orang lain kesulitan memahami atau mendekati mereka.

Demikian ciri orang yang sulit percaya orang lain. Meskipun sering kali dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, rasa sulit percaya bukanlah sesuatu yang tidak bisa diatasi.

Dengan komunikasi yang baik dan proses yang bertahap, hubungan yang lebih sehat tetap dapat terbangun.

(gas/fef) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]