WELLNEST FESTIVAL

Overthinking Normal atau Tidak? Ini Kata Dokter

CNN Indonesia
Selasa, 21 Jul 2026 19:30 WIB
Wellnest Festival Vol.2
Dewan Pengawas BPJS Kesehatan dr Lula Kamal berbicara soal overthinking di Wellnest Festival Vol.2, Selasa (21/7). (CNNIndonesia/Angela)
Jakarta, CNN Indonesia --

Overthinking sering kali dicap sebagai kebiasaan buruk yang harus dihindari. Padahal, menurut dokter sekaligus Dewan Pengawas BPJS Kesehatan Lula Kamal, berpikir berlebihan dalam kadar tertentu justru merupakan hal yang normal.

Yang perlu diwaspadai bukanlah overthinking itu sendiri, melainkan ketika pikiran tersebut berubah menjadi beban hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Lula, stres dan rasa khawatir merupakan respons alami yang dimiliki setiap orang. Bahkan, keduanya bisa menjadi pendorong seseorang untuk tampil lebih baik.

"Tahu enggak sih kalau yang namanya stres itu ada yang eustress, ada yang distress. Tapi stress itu kita butuh sebetulnya," kata Lula dalam talkshow CNN Indonesia Wellnest Festival Vol. 2 yang digelar di South Quarter Dome, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (21/7).

Lula menjelaskan bahwa dalam dunia psikologi terdapat dua jenis stres, yakni eustress dan distress.

Eustress adalah stres yang berdampak positif karena mampu memotivasi seseorang untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan. Sebaliknya, distress merupakan stres yang justru membuat seseorang kesulitan beraktivitas.

Sebagai contoh, Lula mengibaratkan seseorang yang akan menghadapi ujian.

"Coba nih, kamu mau ujian misalkan. Kalau kamu enggak stres, nyantai aja enggak usah belajar," ujarnya.

Ia juga menceritakan pengalamannya saat menjadi pembawa acara.

"Pas mau nge-MC, kan, kita mesti mikirin, ah mesti persiapan. Karena takut nge-MC-nya gagal. Waktu takut nge-MC-nya gagal, artinya ada stres di sana. Selama stresnya jadi eustress, bikin motivasi buat kita supaya mengerjakan lebih baik, it's quite okay," katanya.

Rasa khawatir yang mendorong seseorang belajar, berlatih, atau mempersiapkan diri bukanlah sesuatu yang harus dihindari.

Jangan sampai berubah jadi distress

Masalah muncul ketika rasa khawatir justru membuat seseorang tidak mampu melakukan apa pun.

Lula menjelaskan bahwa kondisi itulah yang disebut distress.

"Tapi kalau distress, gara-gara stress malah enggak bisa ngapa-ngapain. Ngomong di mic aja udah langsung tuh berantakan. Nah itu artinya dia distress," ujarnya.

Karena itu, ia menilai overthinking masih tergolong normal selama porsinya tidak berlebihan.

"Stress itu butuh. Overthinking sedikit-sedikit boleh. Tapi jangan kebanyakan. Boleh normal tapi sedikit, sedikit aja," pungkasnya.

Kuncinya adalah seimbang

Lula menegaskan rasa khawatir bukan musuh yang harus dihilangkan sepenuhnya. Sebaliknya, kekhawatiran dalam kadar yang tepat justru bisa menjadi alarm agar seseorang lebih siap menghadapi berbagai situasi.

Ketika pikiran tersebut mulai membuat seseorang sulit bekerja, belajar, atau menjalani aktivitas sehari-hari, kondisi itu patut diwaspadai dan bila perlu dikonsultasikan kepada tenaga profesional.

(anm/asr) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]