Bahaya Obat Tramadol, Efeknya Dinilai Lebih Besar dari Manfaat

CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 07:30 WIB
Ilustrasi obat tablet
Ilustrasi. Obat tramadol ternyata cukup berbahaya. (CNN Indonesia /Andry Novelino)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Bahaya obat tramadol kembali menjadi sorotan setelah sebuah tinjauan besar terhadap berbagai penelitian menemukan bahwa obat ini hanya memberikan sedikit manfaat dalam meredakan nyeri kronis. Sebaliknya, penggunaannya justru dikaitkan dengan peningkatan risiko efek samping serius, termasuk gangguan jantung.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal BMJ Evidence Based Medicine. Peneliti menyimpulkan bahwa manfaat tramadol kemungkinan tidak sebanding dengan risikonya sehingga penggunaannya sebaiknya dibatasi semaksimal mungkin.

Tramadol merupakan obat golongan opioid yang umum diresepkan untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat, baik yang bersifat akut maupun kronis. Obat ini bekerja melalui dua mekanisme sehingga selama ini banyak direkomendasikan dalam sejumlah panduan penanganan nyeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lihat Juga :

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan tramadol meningkat tajam dan menjadikannya salah satu opioid yang paling sering diresepkan, terutama di Amerika Serikat. Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa tramadol lebih aman, memiliki efek samping lebih ringan, serta risiko ketergantungan yang lebih rendah dibandingkan opioid kerja singkat lainnya.

Namun, para peneliti menilai bukti ilmiah yang selama ini tersedia belum memberikan gambaran menyeluruh mengenai efektivitas sekaligus keamanan tramadol pada berbagai jenis nyeri kronis.

Untuk itu, mereka menelusuri berbagai uji klinis acak yang dipublikasikan hingga Februari 2025. Seluruh penelitian tersebut membandingkan penggunaan tramadol dengan plasebo pada pasien yang mengalami nyeri kronis, termasuk nyeri akibat kanker.

Analisis akhir mencakup 19 uji klinis dengan total 6.506 peserta. Sebanyak lima penelitian melibatkan pasien nyeri neuropatik, sembilan penelitian pada osteoartritis, empat penelitian pada nyeri punggung bawah kronis, dan satu penelitian pada fibromialgia.

Rata-rata peserta berusia 58 tahun dengan rentang usia 47 hingga 69 tahun. Sebagian besar penelitian menggunakan tramadol dalam bentuk tablet, sementara satu penelitian menggunakan krim oles. Durasi pengobatan berlangsung antara dua hingga 16 minggu dengan masa tindak lanjut tiga hingga 15 minggu.

Manfaat tramadol dinilai sangat terbatas

Melansir Science Daily, hasil gabungan dari seluruh penelitian menunjukkan bahwa tramadol memang mampu mengurangi nyeri. Namun, tingkat penurunannya tergolong kecil dan tidak mencapai batas yang dianggap bermakna secara klinis. Temuan yang paling mengkhawatirkan justru berkaitan dengan peningkatan risiko efek samping serius.

Delapan uji klinis yang memantau keamanan obat selama tujuh hingga 16 minggu menemukan bahwa pengguna tramadol memiliki risiko hampir dua kali lipat mengalami efek samping serius dibandingkan kelompok plasebo. Peningkatan risiko tersebut terutama berasal dari kejadian gangguan jantung, seperti nyeri dada, penyakit arteri koroner, hingga gagal jantung kongestif.

Selain itu, penggunaan tramadol juga dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker. Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa temuan ini masih perlu ditafsirkan secara hati-hati karena durasi pengamatan dalam penelitian relatif singkat.

Efek samping yang lebih sering muncul

Selain efek samping serius, tramadol juga lebih sering menyebabkan keluhan ringan hingga sedang. Beberapa efek samping yang paling banyak dilaporkan meliputi:

• Mual

• Pusing

• Sembelit

• Mengantuk

Para peneliti juga mengakui bahwa sebagian hasil penelitian memiliki risiko bias yang cukup tinggi. Kondisi tersebut berpotensi membuat manfaat tramadol terlihat lebih besar, sementara dampak buruknya justru tampak lebih kecil daripada kenyataannya.

Barang bukti yang disita polisi dari hasil operasi senyap menyasar peredaran obat keras daftar G di Kampung Kavling, Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Senin.ANTARA/Pradita Kurniawan SyahObat tramadol disita polisi. (ANTARA/Pradita Kurniawan Syah Foto: ANTARA/Pradita Kurniawan Syah)

Risiko opioid secara global

Peneliti turut menyoroti besarnya dampak penggunaan opioid terhadap kesehatan masyarakat dunia. Diperkirakan sekitar 60 juta orang di seluruh dunia mengalami efek adiktif akibat opioid. Pada 2019, penggunaan narkotika menyebabkan sekitar 600 ribu kematian. Dari jumlah tersebut, hampir 80 persen berkaitan dengan opioid dan sekitar seperempatnya disebabkan overdosis opioid.

Sementara itu, di Amerika Serikat, angka kematian akibat overdosis opioid meningkat dari 49.860 kasus pada 2019 menjadi 81.806 kasus pada 2022.

Berdasarkan seluruh bukti yang tersedia, para peneliti menyimpulkan bahwa tramadol memang mungkin memberikan sedikit manfaat dalam mengurangi nyeri kronis. Namun, manfaat tersebut dinilai jauh lebih kecil dibandingkan potensi risiko yang ditimbulkannya.

Karena itu, bahaya obat tramadol perlu menjadi perhatian masyarakat. Obat ini tidak boleh dikonsumsi sembarangan dan penggunaannya harus berdasarkan resep serta pengawasan dokter agar manfaatnya dapat diperoleh dengan risiko yang seminimal mungkin.

(tis/tis) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]