Hari Anak Nasional: 4 Masalah Kesehatan Ini Bisa Gerus Kecerdasan Anak
Peringatan Hari Anak Nasional tak hanya menjadi momentum untuk memastikan anak tumbuh sehat secara fisik. Di balik itu, ada ancaman lain yang dinilai tak kalah serius, yakni menurunnya kemampuan kognitif anak akibat masalah kesehatan yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Indonesia Health Development Center (IHDC) menyebut kondisi tersebut sebagai silent cognitive burden atau beban kognitif senyap. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan berkembang menjadi krisis yang menghambat kualitas sumber daya manusia dan daya saing Indonesia di masa depan.
Temuan tersebut dipaparkan dalam Seri Kajian Strategis IHDC yang dipimpin Direktur Eksekutif Ray Wagiu Basrowi. Kajian dilakukan melalui rapid review berbagai penelitian internasional dan divalidasi melalui Expert Validation Meeting yang melibatkan pakar kedokteran komunitas, kesehatan masyarakat, pediatri, neurologi, oftalmologi, nutrisi, psikologi, pendidikan, hingga kebijakan publik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga :![]() Hari Anak Nasional Dunia Digital Bakal Jadi 'Makanan Harian' Anak, Orang Tua Harus Siap |
Hasil kajian mengidentifikasi empat masalah kesehatan yang memiliki hubungan ilmiah kuat dengan perkembangan kemampuan berpikir anak usia sekolah, yakni gangguan refraksi mata yang tidak terkoreksi, defisiensi zat besi, defisiensi protein, serta gangguan perilaku.
"Diperkirakan lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang belum dikoreksi. Selain itu, lebih dari 7 juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku berupa kecemasan," kata Ray dalam paparannya, Kamis (23/7) di Jakarta.
Dokter Ray jelaskan bahwa Indonesia saat ini mengalami silent cognitive burden (Foto: CNN Indonesia/Tiara Sutari) |
Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019, Nila F. Moeloek juga mengatakan keempat masalah tersebut bukan hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan belajar, memori kerja, perhatian, kreativitas, hingga kemampuan berinovasi.
"Selama ini kita menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," kata Nila.
Empat masalah yang perlu diwaspadai
Berikut empat masalah kesehatan yang menurut IHDC berpotensi menghambat perkembangan kognitif anak:
1. Gangguan refraksi yang tidak terkoreksi
Gangguan penglihatan menjadi masalah dengan peluang intervensi terbesar. Anak yang kesulitan melihat papan tulis atau membaca berisiko mengalami hambatan belajar, padahal kondisi ini relatif mudah diatasi melalui skrining mata dan penggunaan kacamata.
2. Defisiensi zat besi
Kekurangan zat besi tidak hanya meningkatkan risiko anemia, tetapi juga berpengaruh terhadap fungsi otak, konsentrasi, dan daya ingat anak, terutama pada masa pertumbuhan.
3. Defisiensi protein
Asupan protein yang tidak mencukupi dapat mengganggu perkembangan otak dan sistem saraf, sehingga berdampak pada kemampuan belajar serta perkembangan kognitif anak.
4. Gangguan perilaku
Masalah perilaku, termasuk kecemasan, juga dinilai berpotensi menghambat kemampuan anak dalam berkonsentrasi, berinteraksi, hingga menyerap pelajaran di sekolah.
(tis/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

