UNESCO Tetapkan Sebastia Jadi Warisan Dunia Dari Palestina
Sebastia, sebuah desa kuno di Tepi Barat (West Bank), Palestina, resmi masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO. Penetapan ini disambut pemerintah Palestina sebagai langkah penting untuk melindungi situs bersejarah tersebut dari ancaman kerusakan dan perubahan di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Israel.
Dalam sidang Komite Warisan Dunia UNESCO di Busan, Korea Selatan, Jumat (25/7), Sebastia tak hanya masuk dalam World Heritage List, tetapi juga List of World Heritage in Danger atau daftar warisan dunia yang berada dalam kondisi terancam.
Status ganda itu diberikan melalui prosedur darurat UNESCO untuk melindungi situs-situs budaya yang menghadapi ancaman serius akibat konflik, perubahan tata kelola, maupun kerusakan fisik.
Mengutip Reuters, Palestina disebut berharap pengakuan ini mampu memperkuat dukungan internasional terhadap upaya pelestarian Sebastia, yang selama bertahun-tahun menjadi pusat tarik-menarik kepentingan politik dan sejarah.
Jejak peradaban ribuan tahun
Sebastia merupakan salah satu kawasan arkeologi paling penting di Palestina. Menurut UNESCO, situs ini menyimpan peninggalan dari berbagai era yang membentang lebih dari 2.800 tahun.
Kawasan tersebut diyakini pernah menjadi ibu kota Kerajaan Israel pada abad ke-9 sebelum Masehi. Setelah itu, Sebastia berkembang melewati berbagai masa pemerintahan, mulai dari periode Helenistik, Romawi, Bizantium, Islam, Perang Salib (Crusader), hingga Kesultanan Ottoman.
Bentang alamnya dipenuhi kebun zaitun yang mengelilingi sisa-sisa bangunan kuno berupa kolom-kolom Romawi, tembok batu, tangga bersejarah, hingga amfiteater. Dalam tradisi Kristen dan Islam, Sebastia juga dipercaya sebagai lokasi makam Yohanes Pembaptis (John the Baptist), menjadikannya salah satu destinasi wisata religi yang penting.
Harapan baru bagi warga Palestina
Bagi warga desa Sebastia yang hidup berdampingan dengan situs arkeologi tersebut, keputusan UNESCO membawa secercah harapan.
Sebagian besar penduduk menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata. Namun, aktivitas ekonomi mereka terancam setelah Israel mengumumkan rencana mengambil alih sekitar 1.800 dunam atau sekitar 445 acre lahan di kawasan itu untuk pengembangan wilayah.
Wakil Wali Kota Sebastia, Nizar Kayed, berharap status baru dari UNESCO dapat membantu menjaga kelestarian situs tersebut.
"Kami berharap keputusan ini memungkinkan kami melestarikan Sebastia," ujarnya mengutip Al Jazeera.
Pemerintah Palestina menilai pengakuan UNESCO dapat menjadi dasar untuk menghimpun dukungan internasional dalam menghadapi berbagai kebijakan Israel yang dinilai mengancam keberadaan situs tersebut. Selain penyitaan lahan, otoritas Palestina juga mengkhawatirkan rancangan undang-undang Israel yang berpotensi memperluas kendali sipil Israel atas situs-situs purbakala di Tepi Barat.
Jika diberlakukan, aturan itu dinilai akan mengurangi kewenangan Otoritas Palestina dalam mengelola kawasan bersejarah yang selama ini berada di bawah pengawasan mereka berdasarkan Kesepakatan Oslo pada 1990-an.
Israel sebut keputusan bermuatan politik
Di sisi lain, Israel mengecam keputusan UNESCO tersebut. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyebut penetapan Sebastia sebagai Warisan Dunia merupakan bagian dari upaya Palestina untuk mengaburkan keterkaitan sejarah bangsa Yahudi dengan kawasan tersebut.
"Tak ada satu pun pemungutan suara di organisasi internasional yang dapat mengubah sejarah," kata Saar dalam pernyataan resminya.
Israel sendiri telah keluar dari UNESCO sejak 2019 dengan alasan badan kebudayaan PBB itu bersikap bias. Kini Israel hanya berstatus sebagai pengamat dalam organisasi tersebut.
Selain Sebastia, UNESCO juga menetapkan lima benteng bersejarah di Lebanon selatan sebagai Warisan Dunia sekaligus situs yang terancam. Penetapan itu dilakukan karena berbagai lokasi budaya di kawasan Timur Tengah dinilai menghadapi risiko tinggi akibat konflik bersenjata yang terus berlangsung.
(tis/tis)