5 Kesalahan Makan Telur yang Diam-Diam Bisa Ganggu Kesehatan
Telur menjadi salah satu sumber protein yang hampir selalu tersedia di dapur. Selain harganya relatif terjangkau, telur juga kaya akan protein, vitamin, mineral, dan berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh.
Namun, di balik manfaatnya, masih banyak orang yang keliru dalam mengonsumsi telur. Mulai dari jumlah yang dimakan setiap hari hingga cara mengolahnya, kebiasaan yang dianggap sepele ternyata bisa mengurangi manfaat telur, bahkan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Dokter spesialis penurunan berat badan sekaligus Direktur Jing Sheng Clinic di Taiwan, Chiu Cheng-hung, mengingatkan bahwa mengonsumsi telur secara berlebihan atau mengolahnya dengan cara yang kurang tepat dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Berikut sejumlah kesalahan makan telur yang sebaiknya dihindari, melansir VNExpress:
1. Terlalu banyak makan telur
Pertanyaan mengenai berapa banyak telur yang aman dikonsumsi setiap hari masih sering menjadi perdebatan. Menurut Chiu, sebuah meta-analisis pada 2020 yang menggabungkan hasil 17 penelitian menemukan bahwa konsumsi tiga butir telur setiap hari secara terus-menerus berkaitan dengan peningkatan kadar kolesterol LDL atau kolesterol 'jahat'.
Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Meski demikian, bukan berarti semua orang harus membatasi konsumsi telur hanya satu butir per hari. Respons tubuh terhadap kolesterol berbeda pada setiap individu.
Karena itu, Chiu menyarankan untuk mengetahui kadar kolesterol melalui pemeriksaan darah. Bagi orang dewasa sehat dengan kadar LDL di bawah 130 mg/dL, konsumsi tiga hingga empat butir telur per hari umumnya masih dapat ditoleransi.
Namun, jika kadar LDL mendekati batas atas normal, sebaiknya batasi konsumsi hingga maksimal dua butir telur per hari.
2. Lupa menghitung telur dari makanan lain
Banyak orang hanya menghitung telur yang dimakan secara langsung, tetapi melupakan kandungan telur dalam berbagai makanan sehari-hari.
Padahal, telur juga terdapat pada puding, kue, egg roll, hingga berbagai menu berbahan dasar telur seperti tumis tomat dan telur. Jika seluruh asupan tersebut dijumlahkan, konsumsi telur harian bisa jadi lebih tinggi dari yang disadari.
3. Menganggap telur cokelat lebih bergizi
Telur bercangkang cokelat sering dianggap lebih alami dan lebih sehat dibandingkan telur bercangkang putih. Anggapan ini membuat harganya kerap lebih mahal. Padahal, menurut Chiu, warna cangkang telur lebih dipengaruhi oleh jenis ayam dan pakan yang dikonsumsi.
Beberapa pakan memang mengandung beta-karoten yang membuat warna cangkang menjadi lebih gelap, tetapi hal tersebut hampir tidak memengaruhi kandungan gizi telur. Dengan kata lain, warna cangkang bukan penentu kualitas nutrisi telur.
4. Lebih suka makan telur mentah atau setengah matang
Sebagian orang percaya telur mentah atau telur setengah matang memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi. Faktanya, penelitian menunjukkan hal yang berbeda.
Protein dalam telur matang dapat diserap tubuh lebih dari 90 persen. Sementara itu, protein dari telur mentah hanya dapat diserap sekitar 50 persen sehingga banyak nutrisi yang terbuang.
Tak hanya itu, telur mentah maupun yang belum matang sempurna juga berisiko terkontaminasi bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan keracunan makanan.
Risiko ini lebih tinggi pada ibu hamil, anak-anak, lansia, serta orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Karena itu, kelompok tersebut sebaiknya menghindari konsumsi telur mentah maupun setengah matang.
5. Mengabaikan cara memasak
Cara mengolah telur juga memengaruhi nilai gizinya. Olahan seperti telur orak-arik, telur dadar, atau telur goreng memang tetap mengandung protein berkualitas tinggi.
Namun, proses memasaknya sering menggunakan banyak minyak, mentega, atau krim sehingga kandungan lemak dan kalorinya ikut meningkat. Sementara itu, telur rebus berbumbu atau telur teh sebaiknya dikonsumsi secukupnya karena biasanya mengandung natrium yang cukup tinggi.
Menurut Chiu, telur rebus matang merupakan pilihan terbaik untuk mendapatkan manfaat maksimal dari telur. Selain kandungan proteinnya tetap optimal, cara ini juga meminimalkan risiko kontaminasi bakteri.
Jika rasanya terasa hambar, telur rebus dapat dipadukan dengan sedikit kecap asin atau bumbu alami secukupnya agar lebih nikmat tanpa mengurangi manfaat kesehatannya.
(tis/tis)