Simak Ya, Ini 5 Kode Rahasia Kru Kabin Saat Kondisi Darurat di Pesawat

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 13:30 WIB
Ilustrasi kru kabin pesawat. (Kristoferb/Wikipedia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berbagai industri menggunakan kata kode, singkatan, hingga istilah khusus untuk berkomunikasi secara efisien. Hal serupa juga berlaku di dunia penerbangan.

Para penumpang yang sering bepergian mungkin pernah mendengar awak kabin mengucapkan istilah tertentu untuk menyampaikan pesan tersembunyi.

Menurut pakar perjalanan dari laman Wander, mendengar istilah "Code 300" atau "Angel" menandakan adanya penumpang yang telah meninggal dunia di atas pesawat.

"Istilah seperti 'Code 300' atau 'Angel' biasanya digunakan oleh maskapai komersial untuk mendiskresikan sinyal darurat medis di udara, terutama saat penumpang dalam kondisi tidak berdaya, tidak responsif, atau mengalami kondisi kritis," ujar Jason Martinelli, Direktur Operasional Cirrus Aviation Services, seperti dilansir Travel + Leisure.

Kendati demikian, Martinelli menambahkan bahwa setiap maskapai sering kali memiliki aturan kode internal dan prosedur operasional masing-masing untuk skenario semacam itu.

"Meskipun protokol darurat medis ditangani secara sangat serius di seluruh dunia penerbangan komersial, terminologi spesifik seperti 'Code 300' atau 'Angel' tidak sepenuhnya tersertifikasi baku di semua maskapai," tambah Martinelli.

Selain kedua kode tersebut, terdapat beberapa istilah lain yang kerap digunakan di kabin:

- "Code Yellow": Biasanya mengindikasikan insiden medis ringan.
- "Pan-pan": Menandakan situasi darurat yang serius, namun belum mengancam jiwa.
- "Mermaid": Sebutan bagi penumpang yang sengaja merebahkan badan di deretan kursi kosong agar bisa menguasai seluruh baris kursi untuk diri sendiri.

Martinelli, yang berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai pilot, menjelaskan bahwa penggunaan bahasa kode oleh awak kapal bertujuan utama untuk mencegah rasa panik dan kecemasan berlebih di antara para penumpang.

"Mengumumkan kondisi darurat medis secara terbuka melalui pengeras suara dapat memicu ketakutan, kebingungan, atau kerumunan orang di lorong pesawat," kata Martinelli.

"Komunikasi berkode memungkinkan pramugari dan pilot mengoordinasikan tindakan penanganan secara tenang dan efisien, sembari mempertahankan suasana kabin tetap terkendali. Tujuannya adalah mengelola situasi secara terukur dengan tetap memprioritaskan keselamatan dan ketertiban," tambahnya.

Meski begitu, penggunaan kode lisan bukanlah satu-satunya metode komunikasi saat kondisi darurat.

Direktur Acron Aviation Academy, David Cox, mengungkapkan bahwa selama 30 tahun pengalamannya mengudara, pilot juga memanfaatkan nada dentang serta sinyal fisik untuk berkomunikasi secara samar dengan awak kabin.

"Pilot lebih sering menggunakan sinyal nada dentang untuk memberi tahu kru mengenai situasi tertentu. Nada ini biasa Anda dengar saat pesawat melewati ketinggian 10.000 kaki, atau saat memberi tahu kru dan penumpang untuk bersiap mendarat," jelas Cox.

"Kami akan membunyikan nada dentang berkali-kali untuk menandakan situasi darurat. Kami juga memiliki pola urutan ketukan pintu khusus yang dipahami kru kabin untuk masuk ke kokpit dan mengomunikasikan berbagai situasi," bebernya.

(wiw)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK