Apa Itu Sasaeng? Saat Kekaguman pada Idol Berubah Jadi Teror
Belakangan, istilah sasaeng kembali ramai berseliweran di media sosial. Kata ini kerap muncul setiap kali ada kabar tentang idol K-pop, aktor/aktris Thailand, hingga China yang mengalami penguntitan, kebocoran data pribadi, hingga gangguan di kehidupan sehari-hari.
Tak sedikit pula warganet yang menyematkan label sasaeng kepada penggemar yang dianggap terlalu fanatik. Padahal, istilah ini memiliki makna yang jauh lebih spesifik daripada sekadar penggemar yang sangat mengidolakan artis favoritnya.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan sasaeng?
Apa itu sasaeng?
Sasaeng berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Korea, yakni sa yang berarti pribadi atau privasi dan saeng yang berarti kehidupan. Awalnya istilah lengkapnya adalah sasaengpaen atau sasaeng fan, yang secara harfiah berarti 'penggemar kehidupan pribadi'.
Seiring waktu, istilah tersebut disingkat menjadi sasaeng. Mengutip Space Daily, sebutan ini merujuk pada orang yang melampaui batas sebagai penggemar hingga mengganggu kehidupan pribadi seorang selebritas.
Berbeda dengan penggemar pada umumnya yang mendukung karya idola melalui konser, album, atau aktivitas resmi, sasaeng berusaha mendapatkan akses ke kehidupan pribadi sang artis dengan berbagai cara, termasuk yang melanggar hukum maupun etika.
Bukan sekadar fanatik
Istilah sasaeng sering disalahartikan sebagai penggemar yang terlalu antusias. Padahal, batas pembeda utamanya adalah tindakan. Seorang penggemar bisa saja membeli banyak album, menghadiri konser, atau mengikuti berbagai kegiatan resmi artis favoritnya tanpa menjadi sasaeng.
Seseorang baru disebut sasaeng ketika obsesinya berubah menjadi perilaku menguntit, mengawasi, atau menerobos privasi idol demi mendapatkan kedekatan yang tidak semestinya.
Bahkan dalam penelitian mengenai budaya fandom K-pop, istilah sasaeng juga digunakan oleh komunitas penggemar sendiri untuk membedakan penggemar yang masih menghormati batas privasi dengan mereka yang melanggarnya.
Perilaku yang sering dilakukan sasaeng
Mengutip Fanlore, praktik yang dilakukan sasaeng sangat beragam dan sebagian besar melanggar privasi. Beberapa di antaranya meliputi:
• Mencari alamat rumah idola
• Memperoleh jadwal pribadi yang tidak dipublikasikan
• Mengikuti artis hingga ke rumah atau hotel
• Sengaja membeli kursi pesawat yang berdekatan
• Terus menelepon ke nomor pribadi idola
• Menyusup ke acara tertutup
• Memasang alat pelacak;
• Meretas akun media sosial atau memperoleh nomor telepon pribadi secara ilegal.
Dalam kasus yang lebih ekstrem, ada pula sasaeng yang menerobos kamar hotel, mengirim paket mengganggu, hingga melakukan kekerasan fisik terhadap artis.
Mengapa fenomena ini bisa terjadi?
Sejumlah peneliti menilai fenomena sasaeng tidak muncul begitu saja. Salah satu faktor yang disebut berperan adalah hubungan parasosial (parasocial relationship), yakni kedekatan emosional yang dirasakan penggemar terhadap figur publik meski hubungan tersebut sebenarnya berlangsung satu arah.
Di industri K-pop, hubungan ini diperkuat melalui berbagai layanan berbayar yang memungkinkan penggemar menerima pesan layaknya percakapan pribadi dengan idol, panggilan nama khusus, hingga kesempatan mengikuti video call atau fansign melalui pembelian album.
Namun, para ahli menekankan bahwa keberadaan layanan tersebut bukan penyebab langsung munculnya sasaeng. Perilaku menguntit terhadap idol sudah tercatat sejak era generasi pertama K-pop pada akhir 1990-an, jauh sebelum platform komunikasi digital berkembang seperti sekarang.
Sudah ada sejak era awal K-pop
Fenomena sasaeng bukanlah hal baru. Perilaku ini mulai dikenal sejak kemunculan grup idola generasi pertama seperti H.O.T. dan g.o.d., kemudian semakin sering dibahas pada era TVXQ, Girls' Generation, Wonder Girls, hingga Shinhwa.
Kini, istilah sasaeng telah dikenal luas di berbagai negara seiring mendunianya budaya K-pop. Bahkan, kasus serupa juga ditemukan di luar Korea Selatan, menunjukkan bahwa perilaku obsesif terhadap figur publik bukan hanya terjadi di satu negara saja.
(tis/tis)