Mengenal Lazy Ambitious, Punya Mimpi Besar tapi Sulit Memulai
Belakangan ini, istilah lazy ambitious ramai diperbincangkan di TikTok, Threads, hingga Instagram. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki mimpi besar dan target tinggi, tetapi justru kesulitan mengambil langkah pertama untuk mewujudkannya.
Sekilas, kondisi ini tampak seperti rasa malas. Namun, lazy ambitious bukan berarti seseorang tidak memiliki motivasi atau keinginan untuk berkembang. Justru sebaliknya, mereka memiliki ambisi besar, banyak ide, dan rencana yang matang, tetapi sering terjebak dalam keraguan sebelum benar-benar bertindak.
Fenomena ini banyak dikaitkan dengan generasi muda, terutama Gen Z, yang tumbuh di era serba digital dan penuh paparan informasi. Lantas, apa sebenarnya lazy ambitious dan bagaimana cara mengatasinya?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu lazy ambitious?
Mengtip Universitas Ciputra, lazy ambitious merupakan istilah yang populer di media sosial untuk menggambarkan seseorang yang memiliki cita-cita besar, tetapi kesulitan memulai atau mempertahankan konsistensi dalam mencapainya.
Mereka biasanya sudah menyusun berbagai rencana, menentukan target, bahkan membayangkan hasil yang ingin diraih. Namun, ketika waktunya mulai bekerja, muncul berbagai keraguan yang membuat langkah pertama terus tertunda.
Akibatnya, banyak tujuan hanya berhenti sebagai rencana. Semakin lama ditunda, semakin besar pula rasa cemas, bersalah, hingga tekanan yang dirasakan. Siklus tersebut akhirnya membuat seseorang terlihat malas, padahal hambatan utamanya adalah proses memulai, bukan kurangnya ambisi.
Mengapa banyak Gen Z merasa lazy ambitious?
Kondisi ini erat kaitannya dengan kebiasaan menunda pekerjaan atau procrastination. Seseorang sebenarnya memahami konsekuensi dari penundaan tersebut, tetapi tetap sulit mengambil tindakan. Beberapa faktor yang kerap menjadi penyebab antara lain:
1. Overthinking
Terlalu banyak mempertimbangkan berbagai kemungkinan membuat langkah pertama terasa jauh lebih berat. Waktu habis untuk berpikir, sementara tindakan tak kunjung dilakukan.
2. Perfeksionisme
Keinginan agar semuanya berjalan sempurna sering kali menjadi penghambat. Banyak orang memilih menunggu hingga merasa benar-benar siap, padahal kesiapan itu tidak selalu datang dengan sendirinya.
Pada kenyataannya, kemajuan lebih sering lahir dari keberanian untuk memulai daripada menunggu kondisi ideal.
3. Distraksi digital
Notifikasi yang terus berdatangan, video pendek, hingga kebiasaan scrolling media sosial membuat fokus mudah terpecah. Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya dimulai justru terus tertunda.
4. Takut gagal
Sebagian orang lebih takut hasilnya tidak sesuai harapan dibandingkan mencoba. Ketakutan tersebut membuat mereka terus menyusun strategi tanpa pernah benar-benar melangkah.
5. Terlalu sering membandingkan diri
Media sosial memudahkan seseorang melihat pencapaian orang lain setiap hari. Tanpa disadari, hal ini dapat membuat proses belajar yang sedang dijalani terasa kurang berarti.
Padahal, setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda.
Ilustrasi. Malas-malasan. (Foto: iStock/Adene Sanchez) |
Cara mengatasi lazy ambitious
Kabar baiknya, kebiasaan ini dapat diubah secara bertahap. Kuncinya bukan melakukan perubahan besar sekaligus, melainkan membangun kebiasaan kecil yang konsisten.
Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba:
• Pecah tujuan besar menjadi target harian yang sederhana dan realistis.
• Fokus pada satu langkah berikutnya, bukan membayangkan seluruh proses sekaligus.
• Terapkan prinsip done is better than perfect, yakni menyelesaikan pekerjaan lebih penting daripada menunggu hasil yang sempurna.
• Batasi distraksi digital, terutama saat belajar atau bekerja.
• Apresiasi setiap kemajuan, sekecil apa pun hasilnya.
• Bangun lingkungan yang mendukung kebiasaan belajar, bekerja, dan berkembang.
Banyak ahli produktivitas juga menyarankan untuk memulai dari micro-steps, yakni membagi pekerjaan menjadi tugas yang sangat kecil agar otak lebih mudah membangun momentum. Setelah langkah pertama berhasil dilakukan, biasanya langkah berikutnya akan terasa lebih ringan.
Dengan memahami penyebab lazy ambitious dan menerapkan kebiasaan kecil secara rutin, seseorang dapat keluar dari siklus menunda dan mulai bergerak menuju tujuan yang diinginkan.
(tis/tis)[Gambas:Video CNN]

