Hotel Hello Kitty di Tokyo, Boleh Check-in tapi Dilarang Menginap
Jepang identik dengan banyak hal menarik: ramen, bunga sakura, Gunung Fuji, hingga Pokemon. Namun saat berbicara tentang Negeri Sakura, ingatan kita tak pernah lepas dari Hello Kitty, karakter kucing menggemaskan berpita merah buatan Yuko Shimizu pada 1974.
Kini, hampir semua pernak-pernik bisa Anda temukan dengan gambar wajah imutnya, mulai dari pena, kaus, bantal, hingga gantungan kunci. Bahkan hingga awal tahun ini, terdapat kereta cepat Shinkansen berbalut desain serba merah muda Hello Kitty yang melaju hingga 320 kilometer per jam.
Terbaru, sebuah hotel berkonsep Hello Kitty baru saja dibuka di kawasan Tokyo. Namun, ada satu kejutan besar di balik pembukaannya.
Meski dilengkapi fasilitas layaknya hotel sungguhan, seperti tempat tidur, meja rias, hingga lemari pakaian, kamar-kamar di hotel ini sama sekali tidak dirancang untuk tempat tidur atau melepas lelah.
Faktanya, para pengunjung sama sekali tidak diizinkan untuk menginap di hotel bernama Sanrio Characters Exhibition Hotel Floria Tokyo ini.
Berlokasi tepat di tengah keramaian Shinjuku, di dalam gedung Tokyu Kabukicho Tower, pengunjung yang mendatangi konsep "hotel impian" ini akan diawali dengan pengalaman check-in simulasi.
Di bagian resepsionis, Anda akan menerima kartu akses Luc-key berdesain karakter acak, lalu diarahkan untuk menjelajahi 11 ruang pameran yang menampilkan deretan karakter dari dunia Sanrio.
Selain Hello Kitty, karakter favorit lainnya seperti My Melody, Kuromi, Pompompurin, hingga Cinnamoroll masing-masing memiliki ruangan tematik yang dirancang khusus.
Melansir Metro, eksibisi ini juga dilengkapi fasilitas taman, kolam, galeri seni, pantai indoor, serta Photo Zone khusus. Juru bicara Hotel Floria menyebutnya sebagai "pengalaman imersif yang dapat dinikmati oleh anak-anak maupun orang dewasa."
Berbagai pernak-pernik edisi terbatas juga dijual di lokasi, seperti label bagasi, pin, kipas tangan, label parfum, hingga poster. Setelah sukses digelar di Korea Selatan, "hotel" atraksi ini akan beroperasi di ibu kota Jepang hingga Mei 2027.
Tiket masuk umum untuk dewasa dibanderol mulai dari 2.400 yen atau sekitar Rp270 ribu, tiket pelajar sekolah menengah sebesar 1.600 yen atau sekitar Rp180 ribu, sementara anak-anak usia 4 hingga 12 tahun dikenakan tarif 1.000 yen atau sekitar Rp112 ribu.
Tiket dapat dipesan secara daring dan sangat disarankan untuk memesan lebih awal mengingat tingginya antusiasme wisatawan di Jepang. Fenomena hotel di Jepang yang tidak diperuntukkan untuk menginap semalaman sebenarnya bukanlah hal baru.
Jepang juga terkenal dengan keberadaan Love Hotel yang didekorasi secara unik dan nyentrik, mulai dari eksterior berbentuk paus, kapal biru raksasa, hingga bentuk benteng abad pertengahan, meski mayoritas berada di pinggir jalan tol yang sepi.
Dikunjungi sekitar 500 juta orang setiap tahunnya, alasan utama keberadaannya tentu mudah ditebak: privasi pasangan.
Nama ini bermula dari Hotel Love di Osaka, yang didirikan untuk memberikan ruang pribadi bagi pasangan. Konsep ini sejatinya tidak selalu berkonotasi negatif.
Budaya tinggal bersama lintas generasi sangat umum di Jepang, yang membuat pasangan suami istri sekalipun terkadang sulit mendapatkan ruang pribadi dari anak atau mertua mereka.
Alhasil, mayoritas pengunjung tidak bermaksud menginap semalaman, melainkan hanya datang, memanfaatkan fasilitas ruangan, lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka.
(wiw)