Makin Mudah Diakses, Kualitas Lounge Bandara Malah Menurun
Lounge bandara yang dulu identik ketenangan dan servis eksklusif kini kian mudah diakses berkat kartu kredit dan program keanggotaan seperti Priority Pass. Namun kemudahan ini disebut berbanding terbalik dengan kualitas layanan yang makin menurun.
"Perjalanan meningkat signifikan. Ini kebangkitan kelas menengah," kata Mei Mei Song, chief transformation officer Plaza Premium Group, operator lounge dan layanan concierge di berbagai bandara dunia, dikutip CNN.
Ia menambahkan pasar lounge kini mulai bervariasi mengikuti profil konsumennya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat Juga : |
Puluhan tahun lalu, lounge bandara umumnya dioperasikan maskapai dan hanya terbuka untuk penumpang kelas atas. Kini banyak kartu kredit menawarkan akses lounge sebagai benefit anggota, ditambah aplikasi keanggotaan seperti Priority Pass, membuat ambang masuk lounge makin rendah.
Menurut survei JD Power, sekitar 20 persen pengguna lounge masuk berdasarkan status frequent flyer maskapai, sekitar 20 persen lain lewat benefit kartu kredit, dan kurang dari 10 persen membeli day pass. Sisanya, sekitar separuh, memegang tiket kelas satu atau bisnis.
Keluhan menumpuk
Di media sosial, banyak traveler membagikan kekecewaan atas lounge yang mereka kunjungi, bufet dingin dan sisa-sisa makanan, mesin kopi rusak, slot pengisi daya penuh, kursi kosong yang sulit didapat, hingga antrean masuk yang mengular.
"Lounge bandara bukan gaya-gayaan seperti yang kamu kira," ucap TikToker Izzy Anaya dalam video yang menampilkan bufet lesu di sebuah lounge.
"Kamu sebenarnya mampu beli minum sendiri," lanjutnya.
Eric Gao, pemilik akun TikTok seputar trik perjalanan, Juni lalu mengunggah video antrean masuk lounge berlabel Chase Sapphire.
"Bayangkan membayar US$795 per tahun (setara Rp14,33 juta, kurs Rp18.029), cuma supaya saya bisa antre di bandara," katanya.
Tyler Dillon, spesialis perjalanan asal Kanada sekaligus profesor, bahkan berhenti total memakai lounge.
"Lounge-lounge ini tidak sama. Lebih mirip kapal pesiar," tuturnya.
Tak semua lounge setara
Kyle Olsen, penulis topik lounge untuk situs mitra CNN, Underscored, menyebut lounge kini tak lagi setara satu sama lain. Sebagian lounge kelas atas menambah fasilitas seperti hot tub pribadi dan perawatan kulit, sementara sebagian lain justru merilis konsep "grab and go" untuk mengambil makanan secara cepat.
"Itu tidak benar-benar lebih baik dibanding sekadar membeli yogurt parfait seharga US$15, atau setara Rp270.435 (kurs Rp18.029), lalu langsung ke gerbang keberangkatan," jelas Olsen soal konsep itu.
Ia sendiri tak sepakat bila jalan keluarnya adalah membuat lounge makin eksklusif.
"Menurut saya lounge semestinya bisa diakses lebih banyak orang. Saya tidak setuju kalau itu cuma disediakan untuk orang-orang yang duduk di first class," ujar Olsen.
(fea)[Gambas:Video CNN]

