7 Tanda Kamu Dibesarkan Orang Tua Narsistik, Jangan Salahkan Diri!
Dibesarkan oleh orang tua narsistik bisa sangat berpengaruh hingga beranjak dewasa. Entah itu seseorang mengalami trauma atau kesejahteraan mental jadi terganggu.
Sayangnya, masih banyak orang yang belum bisa mengidentifikasi sikap narsistik orang tua dan apa dampaknya bagi mental. Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda kamu dibesarkan oleh orang tua narsistik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun orang tua yang seperti ini sering melakukan kekerasan secara emosional terhadap anak-anaknya. Mereka acap menetapkan ekspektasi yang mustahil dan terus berubah. Mereka juga cenderung kurang kesadaran diri dan empati terhadap anak-anaknya.
Jadi, apa saja tandanya kamu pernah diasuh orang tua narsistik? Ini dia beberapa di antaranya:
1. Takut menyampaikan kabar baik
Kalau kamu takut menyampaikan kabar baik terkait pencapaianmu, bisa jadi ini gara-gara asuhan orang tua yang narsistik. Kamu mungkin takut diabaikan, diremehkan, hingga diejek seperti saat masih kecil.
"Anak dari orang tua narsistik sering merasa bahwa kesuksesan mereka merupakan ancaman bagi harga diri seseorang. Akibatnya, kebahagiaan di masa dewasa dapat membuat seseorang merasa tidak aman," kata Steven Buchwald, terapis yang berbasis di Manhattan AS, dilansir Huffpost.
2. Peka terhadap suasana hati orang lain
Tanda lainnya, kamu jadi sangat peka terhadap suasana hati orang lain, bahkan jadi ahli membaca ekspresi mikro seseorang.
Ini kemungkinan karena kamu terbiasa melihat perubahan suasana hati orang tua sedari kecil. Namun menurut Buchwald, kepekaan ini tak selalu akurat seiring kamu beranjak dewasa.
3. Merasa sungkan mengutamakan diri sendiri
Bagi anak-anak dengan orang tua narsistik, bersantai sejenak seperti ambil cuti, liburan, atau sekadar minum secangkir kopi bisa terasa sangat salah. Hal ini bisa terjadi jika kamu dibesarkan dengan keyakinan bahwa tugasmu hanya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Untuk mengatasinya, Buchwald menyarankan untuk menulis jurnal. Lakukan validasi diri dengan menuliskan, "Saya tidak egois karena saya sebelumnya (masukkan contoh kamu membantu orang lain)," atau "Saya pantas pergi berlibur karena saya (masukkan alasan)."
4. Sulit membedakan kenyataan dengan imajinasi
Efek terlalu lama dibesarkan oleh orang tua narsistik, membuatmu jadi mengalami keraguan diri. Hal ini karena orang narsistik pintar melakukan gaslighting, yaitu taktik mendistorsi kebenaran yang bisa membuat seseorang meragukan realitas.
Mengutip laman Choosing Therapy, beberapa contoh gaslighting tersebut, yakni orang tua sering mengatakan kamu sedang berimajinasi atau menuduhmu melebih-lebihkan cerita.
5. Kamu tahu siapa saja korban orang tuamu
Tak hanya dengan anak-anaknya, para orang tua narsistik juga berinteraksi dengan orang lain selama hidupnya. Orang narsistik biasanya memiliki daftar panjang orang-orang yang ia manfaatkan kemudian dibuang.
Selama hidupnya, kamu mungkin sering mendengar orang tuamu menjelekkan orang lain, atau bersikap pasif-agresif terhadap orang lain.
6. Jadi people pleaser
Menurut Psychology Today, anak-anak yang diasuh oleh orang tua narsistik sering belajar untuk menjadi people pleaser atau memprioritaskan kesenangan orang lain.
Namun ketimbang menjadi sebuah kekurangan, pelajaran ini bisa kamu kembangkan untuk survive di lingkungan kerja yang sulit. Misalnya belajar menyenangkan atau menenangkan orang-orang yang berkuasa di kantor.
7. Berisiko memiliki hubungan romantis yang toksik
Tumbuh dalam dinamika keluarga yang dipenuhi manipulasi dan pelecehan emosional, bisa membuat seseorang jadi mencari dinamika serupa dalam hubungan romantis. Kamu sudah terbiasa dengan hubungan yang toksik dan ketergantungan emosional.
Itu dia beberapa tanda yang menunjukkan kamu dibesarkan oleh orang tua narsistik. Jika kamu merasa tanda-tanda ini ada padamu dan terasa mengganggu keseharian, jangan ragu untuk meminta pertolongan kepada pihak profesional, seperti psikolog.
(rti)
