Keheningan Pulau Ini Sirna Imbas Serbuan Influencer, Warga Lokal Geram
Sebuah konflik dingin kini tengah meruncing di sebuah pulau kecil nan mewah yang berjarak 30 mil dari lepas pantai Massachusetts, Amerika Serikat (AS).
Tampilan pesona Nantucket memang nyaris mustahil dilewati di media sosial seperti TikTok maupun Instagram. Lanskap pondok kayu abu-abu yang khas, hamparan bunga hortensia warna-warni, serta pantai-pantai yang masih asri kerap berseliweran memenuhi linimasa.
Namun di balik keindahannya, ledakan jumlah wisatawan justru memicu keresahan warga lokal dan pengunjung setia. Mereka mengaku kewalahan menghadapi serbuan wisatawan, kerumunan massa, hingga kebisingan yang tak kunjung usai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nantucket telah berubah menjadi tempat yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Dulu tempat ini adalah lokasi liburan ala New England yang tenang dan alami, namun terus berubah dalam 20 tahun terakhir," ungkap seorang warga berusia 23 tahun yang enggan disebutkan namanya, seperti dilansir Fox News Digital.
"Perubahannya membuat warga lokal tak lagi mengenali pulau mereka sendiri, dan ini amat memprihatinkan," tambahnya.
Secara geografis, Nantucket tidak terhubung oleh jembatan darat. Akses ke pulau ini murni hanya dapat ditempuh melalui jalur udara dan laut mengarungi feri atau pesawat. Selama berdekade-dekade, keterbatasan akses inilah yang menjaga eksklusivitas serta keteraturan jumlah pengunjung di sana.
Namun benteng eksklusivitas itu kini mulai runtuh. Mengutip Nantucket Current, pulau ini kini mencatatkan rata-rata kunjungan hingga 2 juta wisatawan per tahun.
Aksi Pasang Papan "Dilarang Masuk Bagi Influencer"
Keresahan warga lokal terhadap serbuan content creator mencapai puncaknya ketika seorang pemilik toko barang antik di pulau tersebut nekad menggantung papan bertuliskan "No Influencers" (Dilarang Masuk Bagi Influencer).
John Sylvia, pemilik toko barang antik Four Winds Craft Guild, memasang tanda tersebut lantaran merasa toko usahanya kerap dijadikan sekadar properti foto belaka.
"Saya merasa toko saya terkadang hanya dimanfaatkan sebagai latar belakang foto atau panggung hiburan," ujar Sylvia kepada The New York Times.
"Saya tidak benci influencer. Papan itu sebenarnya setengah bergurau, namun ini adalah fenomena sosial yang perlu kita cermati bersama," tegasnya.
Pasangan Sylvia, Jessica Jenkins, mengaku lelah melihat fenomena harian para influencer yang kerap memblokir sudut jalan demi konten visual. "Banyak orang membuat video di sudut jalan hanya untuk memamerkan momen menyeruput es kopi, menoleh ke belakang, hingga pamer gerakan sepatu," tuturnya.
Aksi kontroversial pemasangan papan larangan tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah content creator, salah satunya Paige Lorenze.
"Jika Anda mengaku sebagai seorang feminis tetapi dengan bangga memasang papan 'No Influencers', perlu dipertanyakan siapa sebenarnya yang coba Anda jatuhkan legitimasi dan alasannya," tulis Lorenze, yang juga memiliki gerai boutique di dekat toko Sylvia, melalui kolom komentar Instagram.
"Saya tidak ada masalah dengan toko [John Sylvia], dan saya berharap orang-orang tetap berkunjung serta mendukung pengrajin di pulau ini. Saya hanya merasa kisah dan nilai dari Nantucket jauh lebih luas daripada sekadar papan larangan tersebut," ucap Lorenze.
(wiw)[Gambas:Video CNN]